Membebaskan Tanpa Dendam

Spread the love

Orang-orang Quraisy itu sekarang dalam genggaman tangan Muhammad dan berada di bawah telapak kakinya. Perintahnya akan segera dilaksanakan terhadap mereka itu. Nyawa mereka semua kini tergantung di ujung bibirnya dan pada wewenangnya atas ribuan pengikutnya yang akan dapat mengikis habis Makkah dengan seluruh penduduknya dalam sekejap mata.
Nabi tampak begitu berwibawa. Kepada mereka, musuh lamanya itu, beliau dengan suaranya yang tenang dan sikap yang anggun penuh pesona, mengatakan :

“Menurut kalian , apakah kira-kira yang akan aku lakukan terhadap kalian?”. 
Mereka saling menatap. Sebagian yang lain menundukkkan kepalanya dalam diam, tak berkutik. Pikiran mereka melayang-layang, kembali ke masa lalu, ketika Nabi masih bersama mereka di Makkah beberapa tahun lalu. Terbayang di mata mereka, kata-kata kasar, sumpah serapah, provokasi, dan stigmatisasi, berhamburan dari mulut mereka sendiri. Terbayang pula rencana aksi jahat, isolasi, dan upaya pembunuhan terhadap orang yang kini di hadapan mereka. Sesekali mata mereka melihat Nabi, sang “musuh”. Wajahnya masih bening, bercahaya dan tampan, senyumnya masih tetap selalu mengembang manis seperti dulu. Ia begitu anggun, penuh kharisma. Dalam keadaan ketakutan yang mendalam, mereka serentak menjawab : “Engkau orang yang mulia, saudara kami yang mulia, putera saudara kami yang mulia”.

Nabi lalu mengatakan sebagaimana dikatakan Nabi Yusuf (kepada sauara-saudaranya) : “Hari ini tak ada balas dendam atas kalian. Kalian bebas!. Siapa saja yang ingin masuk ke rumah Abu Sufyan, dijamin aman. Siapa saja yang ingin pulang ke rumah, dijamin aman dan siapa saja yang ingin ke masjid, dijamin aman”.

Aduhai!. Betapa mengagumkan. Betapa indah sikap utusan Tuhan itu. Ketika dalam keadaan kuat di hadapan musuh politik dan kemanusiaan yang rapuh dan tak berdaya, beliau justeru memaafkan mereka. Nabi telah mengumumkan amnesti umum dan menyeluruh. Dialah manusia yang tak pernah menyimpan dendam kepada siapapun, bahkan tidak kepada musuh-musuhnya sekalipun. Cukup sudah penderitaan dan kesakitan hanya dialami dirinya, dan tak perlu bagi orang lain. Meskipun begitu beliau tak pernah lupa. Hebatnya lagi, beliau tak hendak memaksa mereka mengikuti agamanya.

Husein Haekal mengomentari pemberian maaf Nabi dan pembebasan terhadap kafir Quraisy dalam “Fathu Makkah” sambil mengatakan dengan kata-katany yang memukau:

الرسول ليس بالرجل الذى يعرف العداوة او يريد ان تقوم بين الناس. وليس هو بالجبار ولا المتكبر. لقد امكنه الله من عدوه فقدر فعفا. فضرب بذلك العالم كله والاجيال جميعا مثلا فى البر والوفاء بالعهد, وفى سمو النفس سموا لا يبلغه احد

“Nabi Muhammad saw bukanlah manusia yang mengenal permusuhan atau orang yang suka membangkitkan permusuhan di kalangan umat manusia. Dia bukan seorang tiran, dan bukan mau menunjukkan sebagai orang yang berkuasa. Tuhan telah memberi kepadanya kemampuan mengalahkan musuhnya, tetapi dia justeru memberi mereka pengampunan. Dengan begitu, dia telah memberikan keteladanan yang luar biasa kepada seluruh dunia dan segala generasi manusia tentang kebaikan, kesetiaannya dalam janji dan tentang kebesaran jiwa yang belum pernah dicapai oleh siapa pun”.

Oleh: KH Husein Muhammad 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: