27.7 C
Indonesia
22 Oktober 2019
Membedakan Arab dan Islam 1

Membedakan Arab dan Islam

Dalam tiga tahun terakhir, Perancis menjadi korban terorisme. Peristiwa paling anyar adalah penodongan tentara oleh seseorang bernama Zeid ben Bergacem di Bandara Orly, Paris (19/3). Aksi penodongan itu diiringi oleh pekikan Bergacem “membunuh dan mati karena Allah”. Aksi tunggal tersebut berakhir dengan tewasnya Bergacem oleh timah panas dari senapan tentara Perancis lain yang berada di lokasi.

Peristiwa-peristiwa teror yang melibatkan pelaku bernama Arab dan berlatar belakang agama Islam, berdampak pada perlakuan diskrimatif terhadap umat Islam secara umum. Gejala ini, marak sejak peristiwa pembajakan pesawat Boeing 767-223ER yang terbang dari Bandara Internasional Logan di Boston, Massachusetts, ke Bandara Internasional Los Angeles, California. Pesawat yang dibajak oleh terduga teroris jaringan Al-Qaeda itu menabrakkan diri ke gedung World Trade Center (WTC) New York, dan berakibat runtuhnya gedung kembar tersebut serta menewaskan sekitar 3.000 orang pada peristiwa yang dikenang dengan nama 9/11 (nine eleven atau tragedi 11 september).

Kesan di atas seakan berlebihan. Akan tetapi, perlakuan diskrimatif terhadap orang Islam setidaknya dapat disaksikan, misalnya dalam hal keimigrasian. Berdasarkan pengakuan beberapa pelancong, warga negara manapun, termasuk warga negara Indonesia yang memiliki nama Arab kerap harus melalui interogasi berjam-jam di bagian keimigrasian bandara.

Indonesia juga merupakan negara yang memiliki catatan panjang sebagai korban terorisme. Paling awal tercatat pada tahun 1981 ketika sebuah penerbangan Maskapai Garuda Indonesia yang bertolak dari Jakarta ke Medan. Setelah transit di Palembang, dalam perjalanan Palembang ke Medan pesawat dibajak oleh lima orang teroris yang menyamar sebagai penumpang. Mereka bersenjata senapan mesin dan granat, dan mengaku sebagai Komando Jihad.

Tentu saja kita dapat mengatakan bahwa pelaku-pelaku teror itu hanya sebagian kecil warga Muslim Indonesia yang teribat jaringan teroris. Bahkan, hanya segelintir orang dari 250-an juta warga Indonesia. Namun, perlakuan diskrimatif yang diterima WNI bernama Arab saat melancong ke luar negeri menunjukkan bahwa terjadi generalisasi dan stigma “orang luar” terhadap Islam. Wabil khusus, orang Islam bernama Arab. Sebab perlakuan diskrimatif itu jarang dialami oleh orang Islam yang tidak bernama Arab.

Arab tidak mesti Islam

Bahkan, di Indonesia sekalipun, sebagian Muslim Indonesia beranggapan bahwa Islam dan Arab adalah sesuatu yang inheren, bukan dua hal terpisah. Islam adalah Arab, pun sebaliknya. Pendirian seperti ini berimplikasi pada ekspresi keagamaan yang  bernuansa Arab. Unsur lokal non-Arab dengan mudah dituding sebagai penyimpangan.

Arab adalah bangsa yang dipilih Tuhan untuk menjadi wasilah agama pamungkasnya diturunkan. Alquran turun dalam bahasa Arab. Nabi Muhammad SAW berasal dari bangsa Arab. Proses penyebaran agama Islam pertama kali dilakukan di tanah Arab. Meski demikian, interaksi Islam dengan bangsa lain telah dilakukan sejak dini. Antara lain: eksodus pertama ke Habasyah (sekarang Ethiopia), serta surat seruan dakwah Islam yang dilayangkan Nabi SAW kepada penguasa imperium Romawi dan Persia. Hal ini menunjukkan bahwa Islam disiapkan untuk seluruh dunia, bukan eksklusif untuk Arab.

Dunia Arab merujuk pada negara berbahasa Arab yang terbentang dari Samudra Atlantik di barat hingga Laut Arab di timur, dan dari Laut Tengah di utara hingga Tanduk Afrika dan Samudra Hindia di tenggara. Sebanyak 22 negara yang tersebar di kawasan tersebut berhimpun dalam Liga Arab.

Selain terkonsentrasi di negara-negara Liga Arab, bangsa Arab juga tersebar di berbagai negara. Antara lain: Israel memiliki 1,5 juta jiwa bangsa Arab atau 20 persen dari total populasi. Agama Islam dipeluk oleh sebanyak 16 persen dari total populasi di Israel. Bangsa Arab juga tersebar di negara-negara di benua Eropa dan Amerika dengan jumlah populasi di masing-masing negara berkisar ratusan ribu hingga jutaan jiwa. Sebagai contoh, sebanyak 6,5 juta warga Perancis adalah keturunan Arab.

Di negara-negara Liga Arab sendiri, dapat kita ketahui bahwa tidak seluruh penduduk negara Arab memeluk agama Islam. Misalnya, 90 persen penduduk Mesir adalah Muslim, dan sekitar 10 persen merupakan penganut agama Kristen; 78 perseb penganut Kristen di Mesir dalam denominasi Koptik. Populasi Kristen di Lebanon jauh lebih besar, sekitar 40 persen warga Lebanon adalah penganut agama Kristen. Umumnya Maronit, Gereja Ortodoks Antiokia, Apostolik Armenia, Katolik Yunani Melkit, Gereja Asiria di Timur, Katolik Khaldea dan minoritas Protestan.

Negara-negara Arab yang lain juga tidak sepi dari populasi non-muslim. Benar bahwa agama Islam adalah agama yang dianut mayoritas penduduk negara-negara Arab, akan tetapi pemeluk agama lain juga dapat mencapai jutaan jiwa dalam sebuah negara Arab.

Mengakhiri kesalahpahaman

Dari uraian di atas, terkait dengan diskriminasi yang dialami orang Islam lantaran dicurigai sebagai teroris, dapat kita katakan bahwa diskriminasi tersebut tidak berdasar sama sekali. Kecurigaan yang dikait-kaitkan antara nama Arab dan Islam, atau Islam dan terorisme adalah sebuah ketidakadilan yang bersumber dari waham akibat ketidakmengertian akan ajaran Islam.

Pelaku teror tidak merepresentasikan Islam, meskipun ia mengumandangkan takbir atau termotivasi oleh dogma agama (yang keliru) saat melancarkan aksi terornya. Pelaku teror harus dihukum setimpal. Namun menggeneralisir seluruh umat Islam berpotensi melakukan tindak terorisme adalah jelas sebuah kekeliruan.

Islamophobia harus dihadapi dengan dialog yang cair antara pemimpin muslim dan pihak (negara) yang menjadi korban terorisme. Rasa trauma harus dibasuh dengan pengertian yang benar agar tidak menimbulkan trauma di pihak lain yang dicurigai.


Oleh : Gilang Henris Pertama SHI *) Mahasiswa Pasca Sarjana STAINU Jakarta

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy