6 Agustus 2020
memoar luka

Memoar Luka Telenteyan

;ibu

Tiba tiba aku lupa cara bermimpi dan berlari

Seusai kutatap tanah impian meluapkan nyeri

/1/

Barangkali engkau masih ingat Ibu? Pada titimangsa tangan penebang pilar penyanggah silsilah, saat pelataran tanah melukis peta yang tak pernah habis dibaca, saat napas kalender berdedah menebar luka di sepanjang rumah kita dan sekujur Telenteyan* kita berupa peluru berkesumat dalam pengap darah.

/2/

Perlahan lahan wajahmu terusir, gigil membiak penafsiran racau semi, mega mega berjatuhan membasuh ruas jalan sangai menuju kampung layang layang yang terkulai. Aku pun meringkuk ketakutan pada lembaran nuansa pengasingan, sedangkan terbangun bahu tak sanggup memikul tempurung penyesalan.

/3/

Kaki kaki mendengkur kaku, memupus segala jejak yang pernah terukir pada gedung gedung pejal yang merindukan muasal riwayat canda. Lantas kupungut sisa lindap waktu paling belia, untukku berteduh dari deretan peristiwa nelangsa yang memasung tanpa pintu juga jendela.

/4/

Ibu, dalam pejam anakmu menderu, segala tersingkir menjadi wangsit tabu dalam derak jantung waktu, sebab guratan tanahmu telah terpahat daun daun yang tanggal tertiup angin sakal. Memoar merangkak gontai sehelai nyanyian bocah sumbang, kala taji nanar berjejal tergolek ke tubuhmu, senja pun tenggelam tersibak siluet memar jingga menyaksikan burung burung yang pulang memeluk temaram paling karam, menyusu di ketiak bulan setajam lalang menusuk malam.

Baca Juga  PMII; Demimu, Ku Rangkai Abjad di Musim Gugur

/5/

Kini hanya namamu terselendang membaiat sebagai pagutan, menuntun lorong arah pulang sebatang sungai yang purba, mengalir deras berendeng celoteh kisah ke puncak lembah, mengairi reruang sondai pesemaian bibit yang ditanam selepas dirajam.

/6/

lalu, tumbuhlah gunung memikul belukar rinduku, merintis persinggahan mahligai paling baka, seusai puisi lara telah merdeka pada lembaran luka, tiang tiang menjulang memanggul ke angkasa, di bawahnya ikan ikan belajar membaca sejarah, aku pun terlahir dari retakan kata setelah rahim bunda.

/7/

Di sini, di kota yang berhasil menenun serangkai pengharapan kita, kutulis sajak sajak menyejarah perihal genta luka, untuk kukabarkan pada orang orang yang pernah tertawa di dahan lautan, yang kunamai dengan gemuruh kenangan.

Telenteyan,2020

*catatan

  1. Telenteyan adalah salah satu nama dusun terpencil yang terletak di desa longos

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy