27.7 C
Indonesia
22 Oktober 2019
Menakar Peran Pesantren di Tahun Politik 1

Menakar Peran Pesantren di Tahun Politik

Pesantren merupakan model pendidikan yang lahir dari rahim kultur Indonesia. Nilai-nilai keislamaan dan kebangsaan berhasil dikawinkan dalam dunia pesantren. Adagium “hubbul wathan minal iman” yang tumbuh di pesantren bukan sekedar slogan biasa tanpa makna. Syiar Resolusi Jihad ini menegaskan eksistensi pesantren sebagai pelayan sekaligus perekat pluralitas umat dan bangsa. 

Peristiwa Resolusi Jihad harus dimaknai sebagai kontribusi pesantren dalam memerdekakan bangsa ini dari penjajah. Bahkan peristiwa ini yang mengilhami pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945. Politik kebangsaan dan keumatan yang didegungkan Mbah Hasyim mengobarkan api nasionalisme dalam diri santri. Para kiai mampu mengetuk kesadaran masyarakat pesantren untuk bersatu memperjuangan kemerdekaan Indonesia. Sejak dulu, pesantren telah berkomitmen merawat bangsa ini dengan baik.
Dalam sejarahnya, para kiai pesantren tidak mengedepankan egoisme agama yang cendrung formalistis. Mereka mengajak para santrinya untuk menjadi pribadi religius yang nasionalis sebagai konsekuensi keberislamannya. Seandainya para ulama pesantren apatis dengan kondisi bangsa yang tertindas ini, penulis yakin umat beragama di Indonesia tidak akan dapat menjalankan ibadahnya dengan tenang.
Spirit nasionalisme itu sendiri sangat relevan dengan ajaran Islam. Namun belakangan ini, muncul sekelompok Islam puritan yang hendak mempertentangkan Islam dengan nasionalisme. Narasi yang dibangun mencintai agama jauh lebih penting daripada mencintai tanah air. Padahal ijtihad mereka adalah demi merawat kemashlatan umat beragama agar dapat beribadah dengan tenang dan damai. 

Pesantren di Tahun Politik
Tahun mendatang, Indonesia bakal menyelenggarakan pesta demokrasi pilpres. Bersamaan dengan tahun politik, muncul beragam kelompok Islam ekstremis yang gencar membangun sentimen keagamaan negatif demi kepentingan politik kelompoknya. Deklarasi negara Islam kembali dimunculkan sebagai tandingan dan pengganti sistem republik. Syariat Islam digemakan kembali dalam ruang publik sebagai pengganti ideologi Pancasila dan basis hukum negara. 
Tahun politik ini juga mempengaruhi kiprah pesantren dan menyeretnya dalam arus politik praktis. Hari ini, tidak sedikit ulama pesantren ikutserta dalam permainan politik praktis. Virus syahwat kekuasaan yang menjangkiti sebagian ulama pesantren berakibat tercerabutnya pesantren dari visi-misi keumatan dan kebangsaan. Sebagai pelayan umat dan bangsa pesantren harus menjaga netralitas dirinya, meskipun kini mulai menampakkan tendensi politiknya.
Ironisnya lagi, gawang moderasi Islam pesantren telah dibobol oleh paham Islam transnasional. Ledakan bom di Pesantren Umar bin Khattab, Bima, NTB membuktikan lemahnya pesantren dalam menjaga gawang moderasi Islam. Fenomenana ini memunculkan kekhawatiran bahwa pesantren bakal menjadi lahan proliferasi doktrin radikalisme yang bertentangan dengan visi keumatan dan kebangsaan (Misrawi dkk, 2017: 39). Bahkan beberapa figur pesantren hendak menjerumuskan santrinya dalam lubang radikalisme. Bergelutnya pesantren dalam politik praktis telah membuatnya rapuh dan mudah dinetrasi oleh ideologi asing.
Pesantren harus kembali kepada khitahnya sebagai pelayan umat dan bangsa sekaligus peneguh Islam moderat. Demi menjaga netralitas pesantren yang tercermin dalam prinsip “berdiri di atas semua golongan”, maka seharusnya pesantren tidak turut serta dalam politik praktis. Ia harus istiqomah, fokus, dan proaktif dalam melindungi masyarakat dari marginalisasi serta intimidasi politik kekuasaan (Siroj dkk, 2017: 58). Menyitir pernyataan Gusmus, semua masyarakat pesantren hanya boleh terlibat dalam politik langit yang identik dengan politik kebangsaan, kerakyataan, keadilan dan kemoderatan. 
Revitalisasi komitmen keumatan dan kebangsaan pesantren sangat urgen dalam konteks tahun politik. Ada tiga unsur utama yang harus diteguhkan kembali oleh pesantren. Pertama, pesantren harus menjadi gerbang moderasi Islam. Revitalisasi ajaran-ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan Aswaja cara efektif meng-counter ideologi Islam transnasional. Pesantren berperan dalam mengartikulasikan ajaran-ajaran Islam yang moderat dan ramah dalam konteks bangsa yang majemuk ini. 
Kedua, pesantren wadah membentuk generasi muda berkarakter dan berakhlak mulia. Maraknya perilaku amoral di tahun politik baik dalam dunia nyata atau maya adalah bukti bobroknya akhlak generasi muda. Pesantren harus terlibat dalam proses keadaban bangsa ini lewat penyelenggaraan pendidikan karakter. Oleh karenanya, pendidikan karakter di pesantren perlu direaktualisasi dengan melibatkan peran seorang kiai sebagai central figur
Ketiga, pesantren menjadi perawat budaya bangsa. Dalam dunia pesantren kita sering mendengar slogan “al-muhafadzatu ‘ala qadimis shalih, wal akhdu bil jadidi ashlah”. Adagium ini menegaskan keterbukaan dan selektivitas pesantren dalam menghadapi perkembangan zaman. Keterbukaan pesantren menampakkan Islam yang akomodatif dengan budaya lokal. Masifnya westernisasi budaya di era globalisasi menjadi tantangan bagi pesantren untuk merawat budaya lokal dari gempuran budaya asing. Di sisi lain, Ia perlu mengadopsi budaya baru yang lebih baik demi progresivitas pesantren di kancah globalisasi.
Revitalisasi ketiganya, upaya mengembalikan pesantren kepada umat dan bangsa. Pesantren tidak patut dimonopoli dan ditumbalkan demi kepentingan politik praktis. Sejak dulu pesantren menjunjung tinggi politik langit yaitu keadilan, kerakyatan dan kemoderatan. Terlibatnya dalam politik praktis hanya akan mencoreng prinsip netralitas dan marwah pesantren di mata masyarakat. 
Rawannya konflik sosial di tengah propaganda politik ini memanggil pesantren untuk kembali menjadi perekat umat dan bangsa. Tugas pemerintah hari ini adalah bersikap adil kepada pesantren. Jangan lagi, pesantren diabaikan dan dipandang sebelah mata. Pemerintah perlu melayani pesantren dengan baik seperti mengakomodasi infrastruktur yang memadai. Lantas bagaimana bisa masyarakat ini akan maju dan harmonis, apabila pesantren yang menjadi warisan sejarah bangsa ini diabaikan?

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy