27 C
Indonesia
27 Juni 2019
Esai

Mengabadikan Peradaban Melalui Tulisan

Saya tidak bisa membayangkan jika orang-orang hebat di masa lalu tidak memiliki tradisi literasi yang baik, sehingga mereka meninggal tanpa meninggalkan karya tulis apa pun. Pastilah, kita tidak mampu mengambil pelajaran dari mereka, untuk menghadapi era kapitalistik, di mana persaingan antar anak Adam kuat terasa, dan yang lebih ironis, materi yang nisbi seakan-akan dipuja habis-habisan –dan untuk mencapainya, rela mengorbankan manusia lainnya.

Untung saja, manusia hebat masa lalu memiliki budaya literasi yang baik. Jika aktivitas literasi dimaknai sebagai aktivitas membaca, berdiskusi, dan dipungkasi dengan menulis, tentu manusia hebat yang dimaksud telah melakukan hal itu dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya. Mereka telah mampu belajar dari diri dan alam raya, sehingga memunculkan kegelisahan yang mendorongnya untuk bersuara. Suara kegelisahan lalu disambut dengan kegelisahan lain yang tak kalah menggelisahkan, sehingga terjadilah dialektika. Sekalipun teks tidak bisa sepenuhnya menampung makna, tapi nyatanya manusia-manusia hebat menggunakan medium ini untuk menyampaikan hasil olah pikir dan renungnya kepada publik –dalam bentuk buku atau tulisan pendek.

Hasil memang tidak pernah mengkhianati proses, demikian juga dalam konteks perjuangan manusia-manusia hebat untuk melestarikan kegelisahannya. Bahwa kegelisahan dan tips-tips untuk mengolahnya, sedikit-banyak termaktub dalam lembaran kertas, yang lalu menjadi abadi dan mampu melintasi pergantian dan perubahan zaman. Hingga akhirnya, suara masa lalu menembus dinding masa depan, dan menjadi pegangan manusia-manusia modern yang merasa diri hebat –sekalipun tiada bukti yang jelas atas klaim itu, karena teknologi-teknologi modern yang berkembang kini hanyalah hasil pengembangan dari temuan ilmuwan masa lampau.

Maka tidak berlebihan ketika sastrawan kawakan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, mengatakan, bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Mau sepandai apapun seseorang, setinggi apapun pendidikannya, selama ia tidak menulis dan menerbitkan tulisan itu, ia tidak akan dikenal oleh masyarakat. Bukankah tokoh T.A.S (Tirto Adhi Suryo), yang sebenarnya tokoh besar dan memiliki kontribusi yang besar pula –dalam dunai jurnalistik dan perjuangan melawan penjajah, hampir tenggelam tak dikenal tatkala tidak ada upaya ‘dokumentasi’ yang dilakukan Pram? Bukankah, Pram juga tidak bakal bisa mengabadikan T.A.S, dan yang lebih penting lagi adalah pemikiran-pemikirannya, ketika yang bersangkutan tidak mewariskan karya tulisnya pada anak-anak peradaban?

Bagi generasi yang telah hidup bermanjakan gadget, menjadi sebuah tantangan yang sulit untuk merawat tradisi literasi –atau sebaliknya. Kemungkinan pertama, amat rawan menjangkiti generasi manusia, sebutlah milenial, yang sedari awal tidak memiliki tradisi literasi yang bagus –cenderung hedon dan tak mau mikir yang susah-susah, yang penting hari ini bisa belanja dan makan enak, tanpa peduli dengan isi kepala. Sementara kemungkinan kedua, barangkali dialami oleh mereka yang telah memiliki kepedulian kepada isi kepalanya, hingga teramat sangat merasa eman untuk membiarkannya tetap kosong. Dalam benaknya boleh jadi berkata, bahwa sudah menjadi hak setiap kepala untuk diisi dengan pegetahuan-pengetahuan, agar tidak hanya menjadi bangkai hidup yang dilapisi kosmetik tebal.

Gadget sebagai produk dari pengembangan teknologi sebenarnya hanyalah satu dari sekian tantangan dan sekaligus peluang bagi sehatnya dunia literasi kita. Namun yang ditekankan di sini adalah, bahwa pada zaman apapun dan di manapun itu, membaca, berdiskusi, lalu dipungkasi dengan menulis adalah kunci, untuk membangun peradaban masa yang akan datang. Umur manusia terbatas, tapi tidak dengan pemikiran-pemikirannya yang termaktub dalam teks.

Untuk menyebutkan salah satunya, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi adalah ulama yang meninggal setelah mewariskan karya-karyanya untuk manusia pada masanya dan sesudahnya. Ia yang memiliki kemampuan belajar otodidak tingkat tinggi, telah mampu menguasai berbagai macam ilmu, baik agama maupun umum, yang dijadikan bahan tulisan. Begitu ia melihat ketidakberesan dalam praktik beragama di kampungnya, ia meluruskan dengan cara menulis kitab.

Sementara kita generasi belakangan, justru memiliki akses yang mudah untuk menggelorakan gairah literasi. Namun, anehnya, orang-orang lebih suka dengan informasi pendek yang cenderung sensasional dan menghibur, karenanya informasi yang bermuatan edukasi jarang dilirik. Di sinilah kemudian amat terasa, betapa tingkat buta huruf kian menurun, tetapi tidak berbanding lurus dengan produk tulisan yang berkualitas. Padahal, menulis adalah cara untuk menceritakan masa lalu untuk mewartakan pada masa depan.

Related posts

Perbedaan Antara Al-Qur’an dan Mushaf

admin

Ketika Khawarij Mempolitisir Ayat Suci

PENA SANTRI

Benturan Paradigma Kekuasaan

admin

Masa Keemasan Pendidikan di Suriah

admin

Kalah di Bulan Kemenangan

admin

Paradigma Manhaji al-Muhafadzah dan al-Akhdu

Ahmad Fairozi

Leave a Comment