23.3 C
Indonesia
18 Juni 2019
Sosial Budaya

Mengangkat Sarung Lusuh

oleh Yazid Mubarok*
“Al ma’ahid ruuhunnahdliyyah” ruhnya NU itu ada di pesantren!. Demikian kiranya yang menjadi pembuka halaqoh saat itu, 21/10/2017 dalam Halaqah Santri oleh MWC NU Bawang-Batang bersama punggawa Gerakan Ayo Mondok, KH. Luqman Harits Dimyati Tremas.
Tahun1400-an masehi pesantren sudah berdiri. Bahkan negeri ini baru merdeka setelah berabad abad lebih muda dari pesantren. Namun disayangkan keberadaan santri di negeri ini sama sekali tidak diberikan ruang pengakuan oleh pengampu negeri. Bahkan seandaikan tak ada fatwa Resolusi Jihad 22 oktober oleh HadratusSyaikh waktu itu, rasanya kita masih besar kemungkinan jadi kacung yang belum merdeka.
Tidurnya para pamomong negara dengan mengacuhkan santri sangat dirasakan dengan dikesampingkannya kepercayaan kepada kami terkait peraturan-peraturan formal yang mengkerdilkan kaum sarungan. Selembar ijazah para sarjana formal selain pesantren yang smakin tabu keilmuan mengalahkan kepercayaan kemampuan dan keramat para santri penekun setumpukan jilid kitab kuning hanya gegara tak ada pengakuan sebagai lembaga pendidikan yang diakui resmi dalam negeri ini. 
Apesnya santri yang selalu terbelakang karena dianggap tak layak bersaing dengan para penekun lembaga formal. Apesnya santri yang hanya bisa sarungan dan diabaikan wawasan kiprah pada negerinya sendiri. Apesnya pesantren dan diniyyah yang lembaga pendidikannya hampir tak pernah terbahas dimeja para elit bahkan jauh dari perhatian istana. Kekuatan mereka hanya terbentuk dengan lembaga-lembaga kecil yang mereka buat sendiri secara independen dalam tubuh organisasi masyarakat yang memperhatikan.
Geram yang demikian ini,  diperjuangkan sendiri berdarah-darah oleh para kiai agar esksistensi santri dan pesantren mau diakui pemerintah.  Para kiai muda (sebut saja ‘gawagis‘) akhirnya berdialog satu meja dengan Maftuh Basyuni (eks Menteri Agama) saat itu. 
Sebenarnya ada dua kategori pesantren di Indonesia (salafiyyah dan modern), bahkan ada yang memadukan keduanya, mereka membuat sistem pengajaran sendiri sehingga tak ada tendensi resmi kaidah dasar kurikulum yang digunakan. Dalam pertemuan tersebut, alotnya adalah bagaimana pemerintah bisa membuat satu rumusan kurikulum pesantren yang terbantu dengan aturan pemerintah, sementara ada dua tipe pesantren yang tidak dapat disatukan sistem pendidikannya.
2015. Dialog dan perjuangan yang susah payah ini pada akhirnya menerbitkan peraturan tiga menteri agama (Maftuh Basyuni, Surya Dharma Ali dan Lukman Hakim Syaefuddin). Peraturan ini membuka ruang dimulainya perhatian pemerintah mengakui adanya keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang dinilai sangat berperan dan berpengaruh yang selama berabad abad telah dilupakan. 
Lahirnya kurikulum yang ditandatangani 3 Menag ini berupa ;
1. kurikulum Mu’adalah (kebebasan materi dan sistem aturan pendidikan bagi pesantren modern dan pesantren salafiy khusus), 
2. Kurikulum PDF (pendidikan diniyyah formal bagi sistem salafiyyah yang mengkaji kitab kuning dan segala jwnis tradisi pendidikan pesantren salaf)
3. Lembaga pendidikan Ma’had Aliy ( Lembaga pendidikan S1 untuk mahasantri setelah menyelesaikan jenjang aliyah pesantren salaf).
Aturan menteri ini pada akhirnya menjadikan pemula diformalkannya pendidikan santri pesantren dan diniyyah (cieee pada akhirnya berijazah dan MONDOKNYA diakui pemerintah).
Lahirnya penetapan aturan menteri ini disambut dengan pembentukan GERAKAN AYO MONDOK saat itu di Lantai 8 Gd. PBNU Kramat Raya pada 1 Juni 2015.
Joko Widodo dilantik sebagai pemomong negara. Santri mulai diberi nafas. Pemerintah mulai memberikan ruang. 2014 silam, awalnya sekedar menagih janji beliau, menjanjikan hadiah Hari Santri kepada kaum santri jika beliau terpilih nanti sebagai presiden.
Setelah beliau terpilih ditagihlah janji itu. Mulailah presiden intrusksi beberapa lembaga dan ormas untuk sosialisasi terkait hari santri dan mendeklarasikannya. Semua ormas dan lembaga se-Indonesia sepakat dan mendukung adanya Hari Santri. Meski terjadi pro kontra mengenai tanggalnya (awalnya 1 Muharram). Meski demikian Pada akhirnya seluruhnya sepakat dan menerima keputusan nasional bahwa Hari Santri dijatuhkan pada 22 Oktober untuk mengenang gerakan santri peristiwa Resolusi Jihad NU. Seluruhnya sepakat hingga beberapa hari menjelang penandatanganan peresmian oleh Presiden. 
Sayangnya ada satu ormas yang memungkiri hasil kesepakatan. Baruuu saja beberapa hari menjelang tanda tangan presiden, satu ormas menolak keputusan ditetapkannya HSN yang dijatuhkan tanggal 22 Oktober. Tidak saya sebut siapa mereka, namun cobalah bertanya kepada para penggagas atau pada para kiaimu. Sepertinya sudah menjadi rahasia umum. Namun penolakan ini diabaikan oleh kesepakatan awal dan presiden pun meresmikannya.
Uniknya sempat ditawarkan apakah 22 Oktober diberlakukan tanggal merah atau tidak? Para Kiai menolak dengan dalih santri dipesantren tidak mengenal libur sebelum kiamat. Anekdot yang menjadi dalih luar biasa ini diceletukkan oleh para kyai untuk lebih memperlihatkan konsistensi pesantren dan pendidikan diniyyah dalam mementingkan kualitas dan intensitas pendidikan.
Sayangnya apes lagi dengan munculnya isu lima hari sekolah (FDS) dikalangan sekolah formah setelah pergantian Mendikbud. Entah apapun motifnya kebijakan FDS oleh menteri baru ini kemudian menjadi ancaman luar biasa bagi kalangan santri dan pesantren, terutama madrasah diniyyah. “santri baru saja ambegan (bernafas) lega, ini sudah mau diinjak lagi”. Demikian sambutan Gus Luqman Tremas. Serangan kebijakan FDS ini memang murni mengancam eksistensi Madrasah Diniyyah. NU geram setengah mati, “bahkan sebelumnya sekalipun saya tak pernah melihat Kiai Said (KH. Said Aqil Siraj) sampai marah seperti itu, hanya gara-gara FDS ini” imbuh Gus Luqman.// Batang, Oktober 2017.
Sarung lusuh itu ini telah terangkat dan terlipat rapih. Dihaluskan dan akan terpakai dengan ikatan yang lebih kencang tak kedodoran. Selamat Hari Santri, Alhamdulillah 2018 ini santri kian terjamu dalam ruang yang kian luas. Multi event santri nasional kian merebak, semoga semua itu adalah cara Allah menjaga ke-Nahdloh-an kita kian berbiak.
*Penulis adalah Magister Peradaban Islam Fakultas Islam Nusantara UNUSIA Jakarta
Pengurus wilayah Ikatan Sarjana Quran Hadits Jawa Tengah
PMMD Kemenpora RI 2018 DKI Jakarta

Related posts

Dakwah Itu Bukan Kekerasan

Khalilullah

Mengapa NU Keluar dari Masyumi?

PENA SANTRI

Blangkon: Tegakkan Kedaulatan Dengan Mengisi “Blangko” Supaya “Tidak Kosong”

admin

Kitab Suci di Rak Fiksi

admin

Benteng-Benteng Warisan Kerajaan Islam di Nusantara

admin

Bencana Alam Menantang Kita untuk Berfikir

PENA SANTRI

Leave a Comment