29.8 C
Indonesia
8 Desember 2019
Mengapa Islam Nusantara Baru Diperkenalkan di Era Millennial?

Mengapa Islam Nusantara Baru Diperkenalkan di Era Millennial?

Islam Nusantara diketahui masyarakat luas sejak Nahdlatul Ulama menggelar Muktamar ke-33 pada tanggal 1 sampai 5 Agustus 2015 di Jombang, Jawa Timur. Walaupun gagasan “rethingking” Islam nusantara sudah dilakukan secara intensif oleh generasi muda NU semenjak akhir abad ke-20 M.

Wujud nyatanya berupa pembukaan program studi (Prodi) Magister Sejarah Kebudayaan Islam, Konsentrasi Islam Nusantara pada Sekolah Tinggi Nahdlatul Ulama (STAINU: sekarang beralih status menjadi UNUSIA/Universitas NU Indonesia) pada tahun 2013. Bahkan nama Islam Nusantara telah dijadikan nama sebuah perguruan tinggi Islam di Bandung: Universitas Islam Nusantara (UNINUS) yang didirikan pada 30 November 1959.

Islam Nusantara diperkenalkan kembali di era millineal sebagai Islam yang khas ala Indonesia, gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di tanah air. Karakter Islam Nusantara ini menunjukkan adanya kearifan lokal yang tidak melanggar ajaran Islam. Islam Nusantara justru menyinergikan ajaran Islam dengan adat istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Indonesia.

Islam Nusantara ditransformasikan agar ummat Islam Indonesia tahu, paham, dan kembali kepada jati dirinya yang asli yang bermartabat, berdaulat, dan moderat. Hal ini dikarenakan pada waktu bersamaan muslim Indonesia sedang terjangkit doktrin ultra-konservatif Salafi dan Wahhabi yang berideologi transnasionalisme. Kekhawatiran makin diperparah dengan kehadiran eks-jihadis Taliban, al-Qaida di tengah-tengah masyarakat Indonesia, dan munculnya kelompok ISIS pada tahun 2013 yang telah memporak-pondakan sendi-sendi peradaban negeri Timur Tengah.

Doktrin ultra-konservatif Salafi dan Wahabi tanpa diperhitungkan nyata-nyata telah mengakibatkan banyak generasi Islam sekarang terpapar radikalisme-fundamentalisme. Bahkan rekruitmen jihadis “calon penganten” mayoritasnya adalah generasi muda yang masih memiliki masa depan.

Oleh Muhammad Ishom el-Saha, Penulis adalah dosen Fakultas Islam Nusantara Pascasarjana UNUSIA Jakarta

Catatan: Tulisan ini diambil dari Branda FB penulis.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy