Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Mengenal Karier Politik Aria Wiraraja di Singhasari

https://www.voaindonesia.com/a/kongres-ulama-perempuan-indonesia-hasilkan-3-fatwa-/4005416.html
Listen to this article

Aria Wiraraja atau Banyak Wide adalah nama seorang tokoh pemimpin pada abad ke-13 M di Jawa dan Madura. Dalam sejarah, ia dikenal sebagai pengatur siasat kejatuhan Kerajaan Singhasari, kematian Kertanagara, serta bangkitnya Raden Wijaya dalam usaha penaklukan Kadiri tahun 1293 dan pendirian Kerajaan Majapahit.

Menurut Babad Pararaton, nama kecilnya adalah Banyak Wide, yang secara etimologis yaitu, “Banyak” adalah biasanya adalah nama yang disandang kaum Brahmana, sedangkan “Wide” yang berarti “Widya” yang berarti pengetahuan. jadi nama banyak wide sendiri berarti brahmana yang punya banyak pengatahuan atau cerdik. Hal ini kemudian sesuai dengan perjalanan kariernya kemudian. Tentang kelahiran Banyak wide, Babad Pararaton menyebutkan, beberapa keterangan yang penting.

“Hana ta wongira, babatanganira buyuting Nangka, aran Banyak Wide, sinungan pasenggahan Arya Wiraraja, arupa tan kandel denira, dinohaken, kinon Adipati ing Songenep, anger ing Madura wetan”

yang artinya:

“Ada seorang hambanya (Kertanegara) merupakan keturunan tetua di Nangka bernama Banyak Wide yang kemudian bergelar Arya Wiraraja dan dijauhkan menjadi adipati Sumenep, Madura wetan”.

Dari keterangan ini, dapat dinilai bahwa ia dilahirkan di desa Nangka, namun daerah mana belum diketahui dengan jelas.

Dikenal ada 3 versi tentang kelahiran Arya Wiraraja. Pertama, versi dari penulis Sumenep bahwa ia dilahirkan di desa Karang Nangkan, Kecamatan Ruberu, Kabupaten Sumenep. Kedua, versi tradisional Bali di mana menurut “Babad Manik Angkeran”, ia dilahirkan di Desa Besakih, Rendang, Karangasem, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Ketiga, menurut Mansur Hidayat, seoarang penulis sejarah Lumajang, bahwa ia dilahirkan di dusun Nangkaan, Desa Ranu Pakis, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang. Hal ini berdasarkan analisanya di mana Pararaton tentang pemindahan Arya Wiraraja ke Sumenep dalam rangka “dinohken” yang berarti “dijauhkan”, sehingga dimungkinkan ia bukan berasal dari Madura.

Kelahiran Arya Wiraraja di wilayah Lumajang (Lamajang) juga dideduksi berdasarkan pemindahan kerajaannya dari Sumenep ke Lamajang pada tahun 1292-1294 Masehi. Sebagai seoarang politisi ulung, tampaknya ia sudah mengenal betul daerah Lamajang. Demikian pun di sekitar Dusun Nangkaan ini terdapat sebuah situs besar yang pernah digali tim “Balai Arkeologi Yogyakarta” pada tahun 2007, di mana situs ini dimungkinkan adalah pemukiman dengan komplek peribadatannya. Tentang kelahirannya tokoh ini diperkirakan lahir pada tahun 1232 Masehi karena dalam “Babad Pararaton” dinyatakan ketika terjadi ekpedisi Pamalayu, ia berusia sekitar 43 tahun dan menjadi Adipati Sumenep pada usia 37 tahun. Dalam perjalanan politik selanjutnya, nama Banyak Wide atau Arya Wiraraja lebih mencuat dalam sejarah politik di kerajaan Singhasari.

Karier Politik di Singhasari

Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya mengisahkan Arya Wiraraja semula menjabat sebagai rakryan demung sedangkan Babad Pararaton dan “Kidung Ronggolawe” menjelaskan bahwa jabatannya adalah “Babatangan” yang berarti tukang ramal atau bisa ditafsirkan sebagai “Penasehat Kenegaraan” pada masa pemerintahan Kertanagara di Singhasari. Arya Wiraraja merupakan tokoh muda Singhasari yang terbilang cemerlang, karena di usia 30-an ia sudah menduduki jabatan sebagai “penasehat raja”.

Di kerajaan Singhasari sendiri, terdapat konflik intern yang sangat parah yang diwariskan sejak zaman pemerintahan Ken Arok yang merupakan pendiri kerajaan. Ada 2 Wangsa yang bertentangan ketika itu yaitu Wangsa Rajasa (keturunan Ken Dedes- Ken Arok) dan Wangsa Sinelir (keturunan Ken Dedes- Tunggul Ametung). Nah, Arya Wiraraja ini termasuk seoarang pendukung Wangsa Rajasa karena ia telah merupakan seorang murid politik dari Narasinghamurti.

Dalam perkembangan politik, sepeninggal raja Wisnu Wardhana yang kemudian digantikan oleh raja Kertanegara pada tahun 1269 Masehi di mana raja ini mempunyai kebijakan politik untuk menundukkan kerajaan sekitar atau dikenal dengan “Doktrin Drnnyawipantara” yang akan meluaskan wilayahnya ke Jawa dan Sumatra. Dirakertialam politik internnya, raja Kertanegara kurang menyukai peran Wangsa Rajasa dan kemudian menyingkirkannya baik di turunkan pangkatnya seperti Pendeta Santasmerthi(dari pendeta kerajaan menyingkir ke pegunungan), Patih Mpu Raganatha (dari Patih ke Jaksa) maupun Tumenggung Wirakerti. Sedangkan Banyak wide di naikkan pangkatnya namun dipindahkan dari jauh pusat kerajaan menjadi “Adipati” di Sumenep. Pemindahan besar-besaran ini terjadi pada tahun 1269 Masehi di mana Banyak Wide kemudian memperoleh gelar “Arya Wiraraja” yang berarti “pemimpin yang berani”.

Namun penurunan pangkat dan pemindahan ini tidak menjadikan Wangsa Rajasa tercerai berai. Mantan Patih Raganatha merupakan penasehat utama yang mengamati keadaan di ibu kota, sedangkan Arya Wiraraja bertugas memantau perkembangan dari luar. Secara perlahan-lahan Arya Wiraraja membangun Kadipaten Sumenep menjadi sebuah pelabuhan dagang yang penting sehingga menimbulkan kemajuan besar bagi perekonomian daerah ini yang sangat tandus. Hubungan perdagangan yang besar ini menyebabkan Arya Wiraraja banyak mendapatkan hubungan dengan negeri asing seperti kekaisaran Mongol.

Dalam perkembangan selanjutnya Sri Kertanegara semakin bernafsu mengirim tentara ke luar Singhasari misalnya pada tahun 1275 mengirim “Ekspedisi Pamalayu” di mana pasukan Singhasari berusaha menundukkan kerajaan Melayu Dharmasraya dan kemudian menolak untuk mengakui kemaharajaan Mongol Tar Tar di tanah Jawa. Arah kebijakan luar negeri yang semakin ekspansif ini menyebabkan pertentangan politik intern Singhasari semakin memanas. Dua Wangsa yang selama ini bertentangan saling mempersiapkan kelemahan lawan. Menurut Prasasti Mula Malurung yang dikeluarkan oleh raja Wisnu wardhana (ayah raja Kertanegara), Jayakatwang sendiri merupakan keponakannya yang kemudian di jadikan menantunya yaitu dikawinkan dengan putrinya yang bernama Nararya Turuk Bali dan diberi wilayah di Wurawan. Setelah pemerintahan raja Kertanegara sendiri Jayakatwang yang merupakan adik ipar raja Kertangara diangkat menjadi raja bawahan yang berkuasa di Daha yang merupakan kerajaan bawahan Singhasari yang paling penting. Demikian juga putra dari Jayakatwang ini yang bernama Nararya Ardharaja dijadikan menantu.

Ketika kerajaan Singhasari masih dalam suasana pertentangan melawan kerajaan Mongol Tar Tar, pada tahun 1292 Masehi terjadi kudeta berdarah yang menewaskan raja Kertanegara tersebut. Ini adalah suatu “blank spot” dalam sejarah di mana tiba-tiba Raden Wijaya dari wangsa Rajasa melarikan diri ke madura dan menemui penasehatnya yaitu Arya Wiraraja di Sumenep. Menurut Babad Pararaton Arya Wiraraja mengetahui kalau Jayakatwang bupati Gelang-Gelang berniat memberontak, untuk membalas kekalahan leluhurnya, yaitu Kertajaya raja terakhir Kadiri yang digulingkan oleh Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel atau Singhasari. Wiraraja pun mengirim surat melalui putranya yang bernama Wirondaya, yang berisi saran supaya Jayakatwang segera melaksanakan niatnya, karena saat itu sebagian besar tentara Singhasari sedang berada di luar Jawa. Tetapi dalam buku sejarah terbaru karangan Mansur Hidayat, dimungkinkan bahwa Jayakatwang yang merupakan orang terdekat raja Kertanegara merupakan “korban politik” dari lawan-lawannya yaitu Wangsa Rajasa yang kemudian gagal mengambil alih kerajaan dan kemudian memanfaatkan kedatangan pasukan asing Mongol Tar Tar menyerang tanah Jawa.

Sumber Wiki