23.3 C
Indonesia
18 Juni 2019
Ulama Nusantara

Mengenal Sosok Kiai Miftahul Akhyar

Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah putra KH. Abd. Ghoni pengasuh pondok pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah. Sosok penuh kharismatik yang lahir tahun 1953 anak ke-9 dari 13 bersaudara ini pernah menjabat sebagai Rais Syuriah PCNU Surabaya 2000-2005, Rais Syuriah PWNU Jatim 2007-2013, 2013-2018 dan Wakil Rais Aam PBNU 2015-2020 yang selanjutnya didaulat sebagai Pj. Rais Aam PBNU 2018-2020.

Genealogi keilmuan KH. Miftachul Akhyar tidak diragukan lagi. Beliau tercatat pernah nyantri di pondok Tambak Beras, pondok Sidogiri, pondok Lasem Jawa Tengah, dan mengikuti majelis ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.

Penguasaan ilmu agama KH. Miftachul Akhyar ini membuat kagum Syekh Masduki Lasem, sehingga KH. Miftach diambil menantu oleh Syekh Masduki yang terhitung mutakharrijin istimewa di Pondok Tremas.

KH. Miftachul Akhyar mendirikan  Pondok Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan mulai dari nol. Awalnya beliau hanya berniat mendiami rumah sang kakek, akan tetapi setelah melihat fenomena akan pentingnya “nilai religius” di tengah masyarakat setempat, maka mulailah beliau membuka pengajian. Apa sebab?

Konon, kampung Kedung Tarukan terkenal sejak lama menjadi daerah yang tidak ramah pada dakwah para ulama. Namun berkat akhlaq dan ketinggian ilmu yang dimiliki KH. Miftachul Akhyar, beliau berhasil merubah kesan negatif itu sehingga kampung yang “gelap” menjadi “terang dan sejuk” seperti saat ini dalam waktu yang relatif singkat.

Kesederhanaan KH. Miftachul Akhyar yang terekam dengan jelas adalah bentuk penghormatan terhadap tamu, bahkan beliau sendiri tidak segan-segan menuangkan wedang dan menyajikan cemilan kepada tamunya.

Akhlaq ini beliau dapat dari ayahandanya, KH. Abd. Ghoni.
Menurut penuturan Gus Tajul Mafakhir, KH. Abd Ghoni merupakan karib KH. M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada Kiai Romli di Rejoso, Jombang. Terlebih lagi KH. Abd. Ghoni juga nyantri kepada Kiai Dahlan Ahyad Kebondalem sang pendiri MIAI dan Taswirul Afkar.

Tepatlah kiranya pepatah mengatakan: “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. KH. Abd. Ghoni dalam pandangan Abah Thoyib Krian merupakan salah satu kiai ampuh yang ditutupi oleh keindahan akhlaq. Acapkali KH. Abd. Ghoni mengadukkan wedang, menyuguhkan dan mempersilahkan kepada tamunya. Nah, “lelaku sae” inilah yang oleh KH. Miftachul Akhyar tetap dilestarikan.

Semoga, indahnya akhlaq yang dimiliki oleh KH. Abd. Ghoni dan dilanjutkan oleh KH. Miftachul Akhyar selaku Pj. Rais Aam PBNU menjadi energi positif bagi Nahdlatul Ulama dengan tetap menebarkan akhlaqul karimah.

Oleh: Ahmad Karomi*

Related posts

Kiai Subeki Inisiator Senjata Bambu Runcing Perjuangan

PENA SANTRI

Kiai Asnawi dan Doa Keamanan untuk Indonesia

admin

K. Munif Djazuli; Kesederhanaan dan Mode Penampilan

admin

Ki Abi Sujak dan NU Sumenep

PENA SANTRI

Kiai Emas, Inmemoriam Kiai Miming

PENA SANTRI

Biografi KH. M. Munawir Krapyak Yogyakarta

admin

Leave a Comment