30.1 C
Indonesia
8 Desember 2019

Mengenal Suhuf Musa A.S

oleh Ibnu Badri

Mengenal Suhuf Musa A.S 27

Hari itu penulis pergi kesebuah toko buku, tokonya bukunya agak luas, penulis menelusuri rak demi rak yang memajang berbagai buku kontenporer dan kitab-kitab klasik untuk disajikan kepada pembeli, tak lama kemudian mata penulis tertuju kepada sebuah buku kecil yang berada dipojok rak, walaupun sampulnya sudah agak usang, tapi judulnya cukup menarik penulis, judul buku tersebut adalah Suhuf Musa A.S, sebuah buku kecil yang merangkum isi suhuf yang diturunkan Allah SWT kepada nabi Musa A.S.

Nabi Musa A.S yang kitab taurat diturunkan kepadanya, kepada beliau juga diturunkan suhuf yang jumlahnya sebanyak 40 suhuf. Penulis melihat dalam sampul buku tersebut bahwa buku tersebut telah diterjemahkan oleh Muhammad Nafis Bin Misbah Mustofa. Misbah mustofa ini penulis tafsir Al-Quran berbahasa jawa dengan aksara pegon yang berjudul Tafsir Al-Iklil, sama dengan kakak beliau Bisri Mustofa juga seorang mufasir melaui karyanya Tafsir Al-Ibris.

Ada beberpa pertanyaan yang menghantui pikiran penulis. Apakah kitab dan suhuf yang diturunkan Allah kepada para nabinya terkodifikasikan dengan baik…? apakah itu benar otentik suhufnya nabi Musa A.S..?. Penulis meyakini dengan sepenuhnya yakin bahwa Allah telah menurunkan kitabnya kepada para nabinya, dari kitab yang diturunkan tersebut, penulis berkeyakinan bahwa hanyaAl-Quran yang terjaga dari penambahan dan pengurangan huruf.

Setelah mengkaji buku kecil ini, penulis menyimpulkan bahwa isi dari suhuf nabi Musa yang terdiri dari 40 suhuf ini, isinya hampir sama dengan hadis-hadis qudsi yang dikumpulkan oleh Ghazali dalam buku karangannya, Kitabul Mawa’id Fi Ahadisil Qudsiyah, Ghazali hanya menyebutkan 38 hadis qudsi saja. Apakah benar suhuf yang diturunkan kepada nabi Musa ini hampir sama dengan hadist qudsi..?. menurut, Imam Nawawi Al-bantani. Bahwa yang dimaksud dengan kitab adalah sesuatu yang mengandung beberapa suhuf.

Imam Syahimi mengatakan bahwa hakikatnya kitab yang diturunkan oleh Allah tidak diketahui dengan bilangan yang jelas, maka tidak bisa dikatakan bahwa kitab yang diturunkan itu berjumlah 104 saja, karena apabila engkau meneliti berbagai riwayat engkau akan menemukan bahwa jumlahnya lebih dari 184. Maka wajib untuk beri’tiqod bahwa Allah telah menurunkan kitabnya dari langit secara keseluruhan, dan yang diwajibkan untuk diketahui adalah empat, yaitu Taurot, Zabur, Injil dan Al-Quran.

Kitab-kitab yang telah diturunkan oleh Allah itu wajib diyakini dengan imanyang kuat. Imam Abu Laist As-samarqondi dalam buku karanganya Qohtru Ghoist, menerangkan cara beriman kepada kitab yang telah diturunkan Allah yaitu apabila engkau ditanya bagaimana cara beriman kepada kitab Allah..? maka jawablah dengan mantap sesungguhnya Allah telah menurunkan kitab kepada pada nabinya, yang kitab itu diturunkan melalui perantara malaikat, dan juga meyakini bahwa kitab itu bukan buatan mahluk, dan barang siapa meragukan satu ayat atau satu kalimat saja maka orang tersebut sudah dikategorikan kufur.

Dan apabila engkau ditanya berapa jumlah kitabyang diturunkan kepada nabinya..? maka jawablah dengan mantap Allah telah menurunkan 104 kitab, 10 kitab kepada Nabi Adam A.S, 50 kitab kepada Nabi Syis A.S, 30 kitab kepada Nabi Idris, A.S, 10 kitab kepada Nabi Ibrahim A.S, kitab Injil kepada Nabi Isa, A.S, kitab Taurot Kepada Nabi Musa, A.S, kitab Zabur kepada Nabi Daud, A.S, dan kitab Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW.

Berdasarkan pendapatnya Imam Abu Laist ini, penulis berhipotesa bahwa 40 suhuf Nabi Musa ini merupakan sebagian isi dari kitab taurot, dan antara suhuf Nabi Musa dan hadis qudsi terdapat kesamaan makna dan redaksi, hal ini diperkuat dengan pendapat Ghazali dalam Kitab Mawaid, bahwa hadis qudsi inijuga terdapat pada suhuf terdahulu, yaitu suhufnya Nabi Ibrahim dan Nabi Musa. Sebagai catatan bahwa seluruh kitab yang telah diturunkan oleh Allah, semuanya terangkum dalam kitab yang terakhir, Al-Quran.

Jadi barang siapa ingin mempelajari seluruh kitab yang telah diturunkan oleh Allah maka pelajarilah Al-Quran. Dan seluruh isi Al-Quran terangkum dalam Surat Al-Fatihah, maka barang siapa telah mempelajari tafsir surat ini, berarti sudah seperti belajar tafsir Al-Quran secara keseluruhan, dan rahasia Al-Fatihah terangkum dalam kalimat basmalah, dan rahasia basmalah terangkum dalam huruf ba’nya (ب), dan rahasinya huruf ba ini berada pada titiknya.

Penulis coba sadurkan isi suhufNabi Musa yang pertama, yaitu Allah SWT berfirman, bahwa tidak ada tuhan kecuali aku, hanya aku sendiri, tiada sekutu bagiku. Bahwa Nabi Muhammad adalah utusanku, maka barang siapa yang tidak ridho dengan keputusankudan tidak bersabar atas cobaanku, dan tidak pula bersyukur atas nikmatku, maka silahkan cari tuhan selain aku. Barang siapa menjadi orang yang bersusah hati terhadap urusan dunia, maka seperti menjadi orang yang benci terhadapku, barang siapa yang protes terhadap musibah yang mengenainya, maka seperti protes terhadapku, barang siapa menghormati orang kaya karena kekayaannya maka telah hilang sepertiga dari agamanya, barang siapa memukul-pukul wajahnya sendiri karena kematian seseorang, maka seperti menghancurkan ka’bah, dan seperti orang yang memegang tombak untuk memerangiku, barang siapa yang tidak memperdulikan makanan yang dimakannya, maka Allah tidak akan memperdulikanya dari pintu neraka mana ia akan dilemparkan, barang siapa yang setiap harinya tidak bertambah pengetahuan agamanya, maka ia juga kekurangan rahmatku, barang siapa berkurannya rahmatku terhadapnya maka mati lebih baik baginya, barang siapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui maka Allah akan mengajari ilmu yang belum diketahuinya, dan yang terakhir barang siapa memperpanjang angan-angannya maka ia tidak ikhlas dalam mengamalkanya.

Nabi Muhammad juga pernah ditanya mengenai isi Suhuf Nabi Musa dan Kitab Taurot oleh sahabat Abi Dzar, Nabi langsung menjawab semua isinya itu merupakan ibroh (hikmah), diantara isi suhufnya yaitu aku terheran dengan orang yang yakin adanya kematian, tetapi ia bisa terus bahagia, saya heran kepada orang yang yakin adanya neraka, tetapi ia terus tertawa, aku heran kepada orang yang melihat dunia beserta susah payah para penghuninya, tetapi ia bisa tenang terhadapnya, aku heran terhadap orang yang yakin adanya qodar dan terus menyulitkan dirinya sendiri, dan kemudian benci terhadap qodarnya, aku heran terhadap orang yang yakin adanya hari perhitungan amal, akan tetapi tidak beramal. 

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy