27 November 2020

Menggagalkan Rencana

Oleh: Harishul Mu’minin*

Aku sedang bersiap-siap pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah salat jumat. Ini adalah hari pertamaku di rumah—dan tentumya hari pertamaku akan melaksanakan ibadah salat jumat di kampung halaman sendiri—setelah tadi pagi pulang dari pondok. Liburan pondok selalu jatuh pada hari jumat. Entah kebetulan saja atau memang sudah menjadi pilihan kiaiku di pondok.

Angin berkesiur menyetubuhi pelepah-pelpah pisang. Burung-burung berkicau sahut-menyahut. Lantunan ayat suci dari corong-corong masjid menggema di udara, membuat hati ini sangat tenang. Kulihat merpati menari-nari di cakrawala sana. Tak dapat kupungkiri kalau hari ini sangat indah suasananya.

Setelah semuanya sudah siap, aku terlebih dahulu menghampiri Faris di rumahnya—temanku yang sekarang kuliah di kota Yogyakarta. Dulu dia juga mondok di pondok yang sama denganku. Tetapi setelah lulus SMA, dia berhenti mondok dan meminta izin kepada orang tuanya untuk melanjutkan kuliah di luar.

Kulihat dia sedang tersadai di beranda rumahnya.

“He, Ris.”

“Eh, Roni. Kapan kamu datang?”

“Tadi pagi, Ris. Kamu kok masih enggak siap-siap untuk berangkat ke masjid?”

“Enggak, Ron.”

“Kenapa, Ris? Bukannya hari ini kita harus melaksanakan salat jumat?”

“Iya, tahu. Tapi hari ini aku lagi punya rencana untuk pergi ke acara orkes dangdut di lapangan bersama teman perempuanku, Ron.”

Suara azan pertama dari corong berkumandang. Faris mengatakan kalau dia mau mandi dulu. Aku hanya mengangguk sambil memikirkan cara untuk mencegahnya pergi ke acara orkes dangdut tersebut. Dan lebih baik aku bujuk dia supaya mau berangkat ke masjid untuk melaksanan salat jumat. Tapi bagaimana caranya agar Faris mau ikut denganku ke masjid?

Aku baru ingat kalau Faris mempunyai motor yang selalu dia pakai untuk pergi ke mana-mana. Bagaimana kalau aku kempisin saja ban depan motornya. Aha, siapa tahu dengan cara itu rencana Faris bisa gagal. Kemudian aku langsung menghampiri motor Faris di belakang rumahnya. Cepat-cepat kukempiskan ban depannya dan kembali lagi ke beranda rumah.

***

            Sekarang Faris sudah siap untuk pergi ke lapangan. Dia sangat rapi sekali dengan celana jin dan kemeja putih yang dia pakai. Ditambah dengan parfum yang begitu semerbak baunya. Kupikir teman perempuan yang akan pergi bersamanya bukan sekedar teman, melainkan pacarnya. Ah, aku tidak boleh suuzan terhadap Faris.

“Bagaimana, Ron. Aku sudah keren enggak?”

“Iya, sudah, kok. Tapi lebih keren lagi kalau kamu berangkat ke masjid dulu.”

Faris menggaruk-garuk kepalanya. Kurasa dia sedikit malu dikatain seperti itu. Tapi biarlah, menurutku salat jumat jauh lebih penting dan berharga daripada acara orkes dangdut. Dari pengamatanku, sifat Faris jauh berbeda dengan sifatnya yang dulu sebelum dia kuliah di kota Yogyakarta. Biasanya dia suka pergi ke acara-acara pengajian bersamaku.

Suara azan ke dua dari corong masjid berkumandang, mengisyaratkanku agar segera berangkat ke masjid. Tapi aku ingin menggagalkan rencana Faris terlebih dahulu untuk pergi ke acara orkes dangdut tersebut.

“Waduh, ban depan motorku kempis,” Faris terkejut melihat ban depan motornya. Aku tertawa kecil melihat wajah Faris yang kebingungan. Tetapi cepat kutahan tawaku karena Faris memalingkan wajahnya ke arahku.

“Eh, Ron, barangkali masih ada bengkel yang masih buka enggak?”

“Mana ada yang masih buka, Ris. ‘Kan ini hari jumat, pasti sudah tutup semua lah.”

“Oh, iya, lupa.”

Faris semakin kebingungan saja. Ada sedikit iba dalam hatiku karena sudah kempisin ban motornya. Tapi ini adalah bagian dari caraku untuk menggagalkan rencananya. Semoga aku bisa menggagalkan rencana Faris, dan dia mau berangkat bersamaku ke masjid.

“Mau kemana, Ris?”

“Mau cari pompa angin dulu.”

Anak ini ternyata ngotot mau pergi ke acara orkes dangdut. Dia tak kehabisan akal untuk tetap bisa pergi ke acara orkes dangdut. Kukatakan pada Faris kalau lebih baik salat jumat dulu. Aku berharap dia mendengarkan perkataanku dan mau berangkat bersama-sama ke masjid.

“Sudahlah, lebih baik salat jumat dulu, Ris,” bujukku kepadanya. Sejenak Faris berpikir—setelah tidak menemukan pompa angin. Wajahnya yang semula segar, kini berubah kemerah-merahan dan banyak keringat. Dari raut wajahnya yang demikian, dapat ditaksir olehku kalau dia sedikit kesal. Aku semakin tidak kuat menahan tawa, perutku sakit.

“Bagaimana, Ris?” Tanyaku sembari tersenyum.

Faris masih diam saja. Tetapi beberapa saat kemudian dia berkata, “iya, sudahlah. Aku ikut kamu,” dengan suara yang lemas. Akhirnya dia mau ikut denganku untuk melaksanakan salat jumat. Perasaanku sangat senang, karena dengan caraku mengempiskan ban depan motornya, rencana Faris bisa gagal.

Langsung kuambil motor kakekku di halaman rumah. Aku dan Faris berboncengan berangkat ke masjid.

***

            Ketika beberapa meter lagi akan sampai ke halaman masjid, kulihat para jamaah salat jumat berhamburan keluar dari masjid. Jangan-jangan salat jumat sudah selesai dilaksanankan, batinku. Kupercepat laju motor agar segera sampai.

Ternyata benar, salat jumat sudah selesai dilaksanakan—setelah aku dan Faris bertanya kepada salah satu jamaah. Ah, sial. Kupikir ini akibat dari tadi berlama-lama di rumah Faris. Coba saja tadi aku langsung berangkat, pasti keburu ikutan salat jumat. Ada sedikit rasa sesal dalam hatiku. Aku merasa berdosa karena telah lalai dalam melaksanakan ibadah.

Sambil menepuk pundakku, Faris berkata,”eh, Ron. Pergi ke acara orkes dangdut, yuk?”

Madura, 2020

*Kelahiran Sumenep 12 Mei 2001. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy