Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

MERANTAU

Listen to this article

Oleh Mohammad Cholis

_adakala kegelapan meraung keagungan
maka merantau di negeri tuhan adalah sebuah pilihan_

Kungkungan sunyi membuat aku terbuang, tapi tidak di buang
Dari jendela lebam, isak mata mengeja sisa puing-puing kejadian
Waktu berayun lunglai ikrarkan selaksa kerinduan anak jalang
Hanya hilir samudera keilmuan tak membuatku rentan

Kadang derak tanah bicara tentang bulan yang patah sebelum terang
Bunga-bunga teratai tertawa liar mengurai muasal pencitraan
Aku tak peduli seberapa tahun lesap belia menjamuh perjuangan
Sebab saut gema tuhan lebih menawan dari permata tuan

Sebelum larut semaput mengakar kembang semburat cakap
Kerap kali angin menjerit mahkota malam paling munajat
Lalu gigil tunjukkan kaki menuju ruang sekantong harap
Di sini aku belajar merakit sekawanan cahaya yang hampir tenggelam
Agar suram akan jelah, akan lorong menuju pulang
Dan mencegah aku untuk menjadi binatang

Annuqayah, 2019

Mohammad Cholis
pegiat literasi Garawiksa Institute Yogyakarta, menulis puisi dan resensi. Karyanya tersiar di pelbagai media, seperti Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Bangka Pos, Riau pos, Tanjungpinang pos, Lampung News, Fajar Makassar, Harian Bhirawa, Lensasastra.id, Biem.co, litera.co.id, Dlln.