25.3 C
Indonesia
16 Juli 2019
Cerpen

Mewakili Kematian

Nalu tak ingat dirinya pernah menjadi pendosa. Dia lupa dengan ucapan yang dijadikan tirai atas perbuatannya. Dulla bingung harus menjelaskan dari mana sesuatu yang membuat Nalu bisa ingat. Bagi Dulla, dosa yang diperbuat Nalu tak bisa memperoleh pengampunan begitu saja. Lalu bagaimana dia bisa lupa dengan mudahnya? Bahkan dengan kata-kata legendaris yang semua orang berikan hak paten atas namanya pun dia tak ingat. 

“Setiap dari kita ini tidak berdosa. Sebab semua sudah diwariskan begitu oleh Adam. Kau tahu Adam mewariskan apa pada kita? Dia mewariskan kematian dan nafsu.” Begitu kira-kira kalimat Nalu. 

Dulla hanya bisa memukul-pukul kepala Nalu. Tapi Nalu tangkas memelintir tangan yang memukul, lalu membantingnya. Dulla sumpah-serapah seraya mengatakan, mungkin dengan mengetuk kepala pelupa itu, ingatan tentang dosa bisa terangkat. Dan Dulla tidak kalah marah pada Nalu. Sebagai sahabat yang sama menjalani getirnya kehidupan, Dulla tidak ingin hanya dirinya yang mengingat semua dosa itu. Dosa yang kala tidur menjadi mimpi, kala bangun disesali. Mereka sepakat bahwa dosa mereka saling terikat sama rata. 

“Kau jangan berusaha membuat cerita yang bukan-bukan, Dul. Orang sepolos aku ini, sekurus aku, bisa membunuh orang kekar tangguh dan bermuka garang? Kau jangan mengada-ada.” Nalu mendekatkan wajahnya ke mata Dulla. 

“Lihat baik-baik foto itu, kau pasti mengingatnya. Aku malas sekali menceritakan dari awal semua perbuatan yang kita lakukan. Dan yang paling aneh, kau lupa segalanya setelah selesai membunuh orang itu. Coba lihat lagi, tak usah kau melihat mataku.” Dulla mendorong Nalu dengan kakinya. 

Kehidupan mereka keras, dalam memilih tindakan pun sama kerasnya. Nalu dan Dulla tahu, sebagai pembohong, mata mereka tak pernah bohong. Jadilah Nalu melihat mata Dulla dengan lekat, siapa tahu ada kebohongan di sana. 

“Baiklah, kalau begitu kau ceritakan semua agar aku ingat. Tapi aku tak akan terpengaruh dengan ceritamu.” 

Dulla melekatkan matanya pada mata Nalu, lelaki kurus kerempeng itu benar-benar menjadi orang polos. Sebelum bercerita, Dulla menepuk kepala Nalu dengan keras. Nalu segera mencak-mencak sumpah-serapah. Setelah itu Dulla berkata, “Memang seperti itulah sikap alamiah tubuhmu, Nal. Sekali pun ingatanmu dimakan rayap, reflek tubuhmu itu jelas sekali tak sepolos yang kau bayangkan.” 

“Ya sudah cepat cerita sana. Aku mau tidur. Mendengar omong-kosongmu, mungkin bisa lelap.” 

Sebelum memulai ceritanya, Dulla melihat sekitar. Memastikan gang gelap dengan jejeran tong sampah beserta redupnya lampu di ujung masuk gang itu sepi dari pengemis liar. Dia juga memastikan bulan tak mengintip cerita yang akan dia ucapkan. Juga memastikan polisi tak bisa menjangkau tempat itu. Dirasa aman, mulailah Dulla bercerita, bahwa sejak muda mereka berdua sudah hidup dalam kegelapan. Masa yang seharusnya mereka gunakan untuk masuk SMA seperti anak lelaki kebanyakan, mereka gunakan untuk pergi ke ibu kota secara ilegal. Mereka tak memiliki KTP, tak memiliki uang, tapi sepakat berangkat bagaimana pun caranya. Dari desa, mereka berjalan kaki menyuri jalan. Kadang melambaikan tangan ke sopir truk, berharap sopir itu menghentikan kendaraannya. Kalau beruntung, mereka numpang, lalu berhenti kala sopir menurunkan mereka di jalan yang berdekatan dengan masjid. Begitu seterusnya, hingga mereka sampai di ibu kota. Oya, masalah makan, kadang sopir yang mereka mintai berhenti, memberi sedikit uang setelah mereka bercerita perihal keinginannya pergi ke tempat jauh. Satu dua sopir terharu dengan cerita mereka, sisanya datar-datar saja. Dan tahulah, yang paling mahir bercerita sejak saat itu memang Dulla. 

Ketika sampai di ibu kota, mereka tidak terkejut-terkejut amat. Sebab di perjalanan sudah melihat banyak kota dan tempat-tempat yang tidak mereka dapati di desa. Namun yang menjadi pembeda, kata Dulla, mereka bingung akan tinggal di mana. Semua tempat seakan sesak. Semua orang seakan hanya memedulikan dirinya sendiri. Luas jalan dengan luas tanah rumah berdiri, mereka lihat lebih luas jalan. Setelah memerhatikan semuanya, mereka sepakat untuk tinggal di jembatan penyeberangan jalan. Selama tiga tahun begitu-begitu saja. Untuk makan, kadang mencari di tong sampah atau kalau beruntung sisa penjual nasi yang mau tutup. Walau, pas di awal-awal sampai di ibu kota, mereka langsung menanyakan gedung DPR ke orang-orang. Sebetulnya itu konyol sekali. Saat itu Dulla berpemikiran, paling pas untuk dimintai pertolongan itu ya DPR. Namun saat mereka menemukan gedung itu, mereka tak bisa masuk, sebab tak punya KTP, terlebih lagi pakaian mereka serupa pengemis. Mereka memaksa, tapi tak ada hasil. 

Lingkungan yang keras, mereka pikir harus segera menyesuaikan diri. Karena harapan awal ingin mendekatkan diri pada pemerintah, mereka mulai menyusun skenario agar bisa masuk ke gedung-gedung pemerintahan. Awalnya pemikiran semacam itu dapat penolakan dari Nalu, dia terlalu penakut. Kemudian Dulla menjelaskan bahwa, untuk menjadi terlihat itu harus membuang rasa malu. Presiden dan para artis serta orang-orang terlihat lainnya, mereka seperti itu karena membuang rasa malu. Bayangkan kalau presiden pemalu, dia tidak akan berani berkampanye, meminta bantuan ke pengusaha-pengusaha besar. Bayangkan kalau artis pemalu, dia tak akan mau menyanyi atau berlaga di depan banyak orang. Mulai saat itulah mereka membuang rasa malu, bukan berarti mereka tak malu. 

Masa yang seharusnya lulus SMA, mereka gunakan untuk memantaskan diri. Awal bulan saat pertama sampai di ibu kota, mereka sempat kelimpungan mencari sungai bersih untuk mencuci pakaian, tapi pada akhirnya bisa menyuci dan mandi di SPBU secara sembunyi-sembunyi, atau di masjid-masjid. Berkat pengalaman tiga tahun, mereka mulai bisa masuk ke gedung-gedung megah. Awalnya hanya sebagai relawan, kemudian jadi pelawan. Saat itulah dosa-dosa mereka dimulai. 

Di sebuah apartemen, saat mereka tanpa malu meminta uang parkir pada seorang lelaki paruh baya, lelaki yang dimintai uang bertanya, apakah mereka tak memiliki pekerjaan lain? Lagipula, mana ada apartemen memiliki tukang parkir? Kemudian lelaki itu menanyai keluarga, rumah, dan pekerjaan. Mereka berdua menggeleng, tidak punya. Terakhir, lelaki itu meminta mereka menunjukkan KTP. Mereka juga menggelang, tak punya. Saat itulah, lelaki tersebut menyuruh mereka masuk ke dalam mobilnya. Nalu menolak, seraya tetap meminta uang parkir. Mereka sempat akan berkelahi, namun Dulla menjadi penengah. Lelaki itu menatap mata Nalu, kemudian berganti ke mata Dulla. Setelah tatap itu dia berkata, “Kalau kalian tak punya rumah, keluarga, pekerjaan, dan identitas buram, ikut aku.” 

Dulla menarik Nalu untuk ikut. Pada akhirnya, lelaki tersebut meminta mereka untuk menghakimi orang yang tidak mau membagi keberuntungannya di dalam mobil itu. Mereka sempat menolak untuk melawannya, namun berkat penawaran lain, mereka pun tertarik. Orang pertama yang mereka aniaya, pemilik pabrik rokok. Rasa seru memukul orang lain menjadi candu, dan entah bagaimana ceritanya, mereka seringkali mendapat pekerjaan serupa.

Tak terhitung berapa kali mereka menjadi pendamping orang-orang yang menganggap dirinya penting, pejabat, pengusaha dan pe-pe lainnya. Mendapingi orang-orang itu ke klub malam, ke gedung aneh, bahkan ke rumah biasa yang terletak di antara rumah biasa lainnya. Tugas mereka hanyalah mengamankan. Kalau ada sesuatu yang dirasa menghilangkan keamanan, nyawa, tangan, kepala, atau apa saja bisa diputus. Tak terhitung berapa nyawa yang mereka putus. Dan di antara orang-orang yang meminta mereka untuk ikut menyelesaikan masalahnya, Nalu selalu menyelipkan kalimat, “Setiap dari kita ini tidak berdosa. Sebab semua sudah diwariskan begitu oleh Adam. Kau tahu Adam mewariskan apa pada kita? Dia mewariskan kematian dan nafsu.” Yang orang kenal hanya kata-kata itu, bukan namanya. Mereka tidak pernah memberi tahu nama yang sama pada orang yang dilayani. 

Mereka berdua tentu tidak sebodoh itu memberikan nama asli pada orang yang tak punya otak. Untuk melakukan sesuatu yang memalukan saja harus menggunakan tangan orang lain. Karena begitulah, tak pantas orang-orang tahu nama mereka. Begitu, jelas Dulla. Rupanya, menyembunyikan rasa malu itu mengeluarkan banyak potensi. Silat-silat dan gerakan tubuh tidak jelas banyak mereka peroleh dari ketidakmaluan itu. Terutama Nalu, orang kurus dengan muka tak meyakinkan itu memiliki mata yang bisa menerkam mangsanya. Dia lebih ketagihan menyiksa orang daripada Dulla. Tapi sebagaimana janji yang pernah mereka buat, dosa mereka adalah satu, sama rata. 

Dari pekerjaan dosa-dosa itu, mereka memiliki apartemen sendiri. Hidup layaknya manusia biasa. Layaknya manusia biasa sebelum lelaki bertubuh kekar besar berdiri di depan pintu apartemen mereka. Petarungan yang membuat apartemen mereka berantakan terjadi. Nalu sering terbanting daripada membanting. Begitupun Dulla, beberapa kali terduduk di atas kursi dan meja demi menahan tubuh kekar lelaki tak dikenal itu. Saat mereka berhenti menahan lelah masing-masing, lelaki tak dikenal itu berkata, “Aku adalah wakil dari orang-orang yang kalian bunuh. Serahkan nyawa kalian.” Selesai kalimat itu, Nalu dan Dulla berlari menuju pintu keluar. Saat kaki mereka melewati pintu, lelaki tak dikenal itu berkata, “Kalian melawan satu orang tapi memilih kabur. Dasar lemah.” Mendengar kalimat itu, Nalu memutar balik badannya. Dia menerjang, tubuhnya melayang seakan ringan. Siku kakinya membentur kepala lelaki kekar itu. Yang dibentur terbanting menghantam sudut tembok. Dulla yang melihat tingkah gegabah Nalu ikut berbalik, lalu menarik tangan Nalu agar dia ikut lari. 

Nalu cukup keras kepala. Dia membanting Dulla lalu memburu orang yang tersungkur di sudut tembok. Sebelum tangan Nalu sampai di leher lelaki kekar tersebut, Dulla melihat sekepal tangan meninju dagu Nalu. Nalu terhuyung ke belakang dan lelaki yang menjadi lawannya menerkam. Mereka berdua berguling, saling mengungguli untuk menindih. Dari kejauhan, Dulla membanting meja, ke arah mereka, tak peduli Nalu atau lelaki kekar itu yang terkena. Meja yang Dulla banting terpental menghantam televisi. Ruang tamu apartemen itu semakin berantakan. 

Melihat Nalu yang lebih sering tertindih daripada menindih, dengan paksa Dulla melompat, ikut mencengkram lelaki besar tersebut. Tak beberapa lama, dia pun terpelanting. Nalu dan lelaki itu tetap berguling-guling saling terkam. Merasa tak bisa melakukan apa-apa lagi, Dulla memilih jadi penonton, duduk di sofa ruangan. Saat memilih jadi penonton itulah, lelaki kekar tersebut melemas. Nalu berdiri seakan dia sudah menang. Dulla ingin berteriak, tapi Nalu mengangkat tangan seraya berkata, carikan pisau. Dulla bertanya, apakah dia ingin membunuh lelaki itu? Dengan santai Nalu menjawab, lelaki itu sudah mati. Sebelum Dulla bertanya lagi tentang bagaimana bisa, Nalu berkata, dia mencengkeram erat kemaluan lelaki itu. Di akhir kata Nalu menyelipkan kalimat, “sekuat-kuatnya lelaki, kelemahannya ya itu.” 

Setelah mengucapkan kalimat akhirnya, Nalu tumbang. Bersamaan dengan tumbangnya nalu, seorang perempuan tua yang tinggal bersebelahan dengan apartemen mereka berteriak di mulut pintu. Dulla tak sempat menghentikan perempuan tua itu, yang jelas dia disibukkan dengan Nalu yang sungguh sial mengapa harus tumbang setelah mengalahkan musuh. Itu terkesan dramatis sekali menurutnya. 

Sebagaimana kejadian yang pernah berlalu, saat situasi kejahatan selesai, pasti ada pelapor yang mengharap polisi datang memeriksa keadaan. Sebagaimana pemeriksa, bagi Nalu dan Dulla, mereka tak memiliki apa-apa untuk diperiksa, seluruh KTP yang mereka punya palsu. Dulla tak sempat membungkam perempuan tua yang berteriak di depan pintu apartemennya. Dulla yakin, perempuan itu akan memanggil polisi. Jadi, tanpa menunggu Nalu terbangun dari tumbangnya, dia menyeretnya keluar lewat lif barang. Pilihan terakhir, dia harus sedikit menjauh dari apartemen itu. Pada akhirnya, dia sampai di gang gelap bau bersama orang yang tak mengingat dosa-dosanya. 

Dulla menganggap, ceritanya sudah lumayan singkat, bagus, dan cukup nyata seraya menunjuk beberapa memar dan darah yang ada pada tubuh Nalu. Karena gang itu sedikit gelap, Nalu tak dapat melihat darah yang ada pada tubuhnya. 

“Kalau kau tak percaya, dengar sirene yang mengaung itu.” 

“Baiklah aku percaya. Tentang lelaki kekar yang kau tunjukkan fotonya padaku, bagaimana kau bisa mendapat fotonya?” 

“Kau masih bodoh, ya. Sebagai orang yang selalu hati-hati, aku menjepretnya sebelum membawamu ke sini. Kurang jelas? Dasar! Sekarang cepatlah ingat semuanya. Kira-kira siapa orang yang mengirim lelaki itu untuk membunuh kita?” 

“Kalau ceritamu itu benar, musuh kita terlalu banyak, aku tak bisa memperkirakannya. Dan lagi, aku lupa pernah membunuh.” 

“Dosamu tak akan terhapuskan hanya karena kau lupa, Nal.” 
Lagi-lagi Dulla memukul kepala Nalu. 
“Sekarang, kau bunuh aku dengan pisau ini, barangkali bisa mewakili orang yang pernah kita bunuh.” Dulla menyodorkan pisau yang sebelumnya Nalu minta sebelum tumbang.[] 
Jakarta, 30 Desember 2018.

Lagi-lagi Dulla memukul kepala Nalu. 

“Sekarang, kau bunuh aku dengan pisau ini, barangkali bisa mewakili orang yang pernah kita bunuh.” Dulla menyodorkan pisau yang sebelumnya Nalu minta sebelum tumbang.[] 

Jakarta, 30 Desember 2018.

Oleh Ali Mukaddas

Related posts

Keif

Ahmad Fairozi

Ukhti, Izinkan Aku Mencintai Suamimu

admin

Pesan Pengarang pada Karyanya

Ali Mukoddas

Sampah Seumur Hidup

Ali Mukoddas

Cintaku Berakhir Tragis

admin

Mayat tanpa Bola Mata

PENA SANTRI

Leave a Comment