25.3 C
Indonesia
16 Juli 2019
Sosial Budaya

Mitos Dalam Era Industri 4.0

Konon katanya saat ini kita telah memasuki era revolusi industri 4.0 yang ditandai oleh lahirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Klaus Schwab mengatakan bahwa revolusi industri yang ke-4 ini telah mengaburkan batas fisik dan digital, serta mengubah hidup dan cara kerja manusia.
.
Revolusi industri sendiri adalah hasil dari modernisasi dimana pada ke-17 terjadi revolusi ilmiah yang mengubah pemahaman manusia terhadap segala sesuatu. Auguste Comte menyebut era ini sebagai tahap positif dimana masyarakat hanya akan mempercayai fakta-fakta ilmiah.
.
Namun, pada kenyataannya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berbanding lurus dengan perkembangan mitos pada masyarakat modern. Modernisasi telah merasionalisasikan mitos menjadi pseudosains. Sebagian mitos kini justru telah bertransformasi menjadi pengetahuan, keyakinan, bahkan praktik yang diklaim sebagai ilmiah, padahal tidak mengikuti metode ilmiah sama sekali.
.
Tak ubahnya seperti ramalan horoskop yang memanfaatkan kesalahan logika (logical fallacy) dalam bentuk validasi subjektif, banyak orang yang terjebak dalam bias selektif, atau dalam istilah agak kerennya “cherry picking” sehingga orang tersebut mempercayai kebenarannya. (Apa itu cherryy picking? Cari aja di mbah google, hahaha). Masalahnya sekarang mitos telah bertransformasi menjadi pseudosains, ramalan (karakter, kepribadian, keberuntungan dll) yang telah dianggap kuno, kini seolah-olah menjadi ilmu pengetahuan yang ilmiah. Kepribadian manusia yang kompleks bisa dibaca dengan metode sederhana yang tidak ada hubungannya sama sekali, namun dihubung-hubungkan.
.
Misalnya, ketika kita sedang berselancar di dunia maya, sering sekali kita menemukan pembagian tipe kepribadian berdasarkan golongan darah. Padahal kedua hal tersebut tidak ada hubungannya sama sekali, namun selalu dihubung-hubungkan. Satu-satunya hal yang membuatnya benar adalah karena dipercayai dan ‘dibenarkan’ oleh orang banyak. Itu pun terjadi karena mereka terjebak dalam validasi subjektif yang menyesatkan logika. Validasi subjektif/bias selektif adalah kecenderungan orang untuk menganggap sepotong informasi menjadi benar jika memiliki makna pribadi atau penting bagi mereka. Hal ini layaknya memanen buah ceri, dipilih yang bagus dan sudah ranum saja. Orang dengan kesalahan logika ini tidak memedulikan kasus atau informasi lain jika bertolak belakang dengan kepercayaannya.
.
Dilihat dari akar sejarahnya, gagasan pengelompokan karakter manusia berdasarkan golongan darah ini berawal dari upaya saintis Eropa 1880-1920-an yang mencoba meneliti distribusi golongan darah untuk membuktikan suatu ras lebih superior dibanding ras lainnya. Upaya ini dilakukan untuk menjustifikasi imperealisme baru. Ide tersebut kemudian diadopsi oleh Takeji Furukawa (1927) dengan melakukan penelitian terhadap 10-20 orang saja. Meskipun cacat secara statistik, namun ide tersebut menyebar luas pada masyarakat Jepang, bahkan pada bidang militer. Ide tersebut semakin populer setelah Masahiko Nomi (wartawan) menulis buku yang terinspirasi dari makalah Fukurawa. Meskipun karyanya banyak dikritik oleh para psikolog jepang, namun bukunya populeh di kalangan masyarakat.
.
Ironisnya, Jepang yang terkenal dengan kemajuan tekonologinya, sampai saat ini masih mempercayai pseudosains tersebut. Kepercayaan tersebut sudah cukup mengakar di kebudayaan Jepang. Bahkan, masyarakat Jepang sudah punya istilah sendiri untuk hal ini, yaitu ketsueki-gata. Survey pada 2008 menunjukkan 75% masyarakat Jepang memercayai konsep ini.
.
Ketsueki-gata telah merasuki berbagai sendi masyarakat Jepang, dari urusan cinta hingga karir. Pada edisi 1990 di Harian Asahi, surat kabar nasional Jepang, Mitsubishi Electronics mengumumkan bahwa tim mereka seluruhnya terdiri dari tipe pekerja AB yang telah dipilih karena “kemampuan mereka untuk membuat rencana.” Tidak sedikit perusahaan di Jepang yang menanyakan golongan darah pada saat wawancara dengan calon karyawan.
.
Ketsuiki-gatapun merupakan bisnis yang laku di Jepang. Pada 2008, empat dari buku top best seller di Jepang adalah buku pedoman kepribadian berdasarkan golongan darah. Karena sudah menjadi stereotype yang kuat, orang Jepang justru malah balik menggunakan ketsueki-gata untuk memahami dan menggambarkan dirinya lebih dalam. Tanpa sadar, mereka berperilaku sesuai dengan deskripsi (stereotype) ketsueki-gata agar dapat diterima oleh masyarakat banyak yang menyetujui konsep ini. Ini adalah bentuk dari self-fulfilling prophecy.
.
Sayangnya, penggunaan ketsueki-gata ini ada sisi negatifnya, yaitu diskriminasi dan prejudice. Pada 2006, New York Times melaporkan keanehan: hampir semua pemain bisbol Amerika kelahiran Jepang (kecuali untuk Ichiro Suzuki) bergolongan darah O. Budaya Jepang melihat kelompok gol.darah O sebagai tipe “pejuang/samurai pemberani”. Jadi mereka percaya kalo ada atlet yang tidak bergolongan darah O, bakal sulit “menjual” pemain itu ke penggemar. Wah padahal kan, tiap orang, terlepas dari golongan darahnya apa, seharusnya punya kesempatan yang sama ya untuk berkarya. Tim softball perempuan yang memenangkan emas untuk Jepang di Olimpiade Beijing (2008) juga dilaporkanmenggunakan ketsueki-gata untuk menyesuaikan pelatihan untuk setiap pemain.
.
Kepercayaan tidak berdasar ini bahkan mempengaruhi politik. Salah satu mantan perdana menteri Jepang, Taro Aso, menganggap cukup penting untuk mengungkapkan di profil resminya bahwa dia bergolongan darah A, sementara saingan oposisinya, Ichiro Ozawa, bergolongan darah B. Pada 2011, seorang menteri di Jepang, Ryu Matsumoto, dipaksa mengundurkan diri, ketika pernyataan keras dan kasarnya kepada pejabat lokal ditayangkan di televisi nasional. Dalam pidato pengunduran dirinya, ia menyalahkan sikapnya yang emosional itu pada kenyataan bahwa ia bergolongan darah B.
.
Selain itu, ada banyak laporan bahwa penggunaan katsueki-gata telah mengakibatkan kasus intimidasi di lingkungan TK, bullying pada orang dengan gol.darah AB (kelompok minoritas 10% di Jepang) di lingkungan SMA, hilangnya kesempatan berkarir, hingga berakhirnya hubungan asmara yang bahagia hanya karena masalah golongan darah. Masalah sosial ini bahkan sudah punya istilah khusus, yaitu pelecehan golongan darah atau bura hara.
.
Konsep tanpa dasar ini mendorong orang untuk menilai orang lain secara terburu-buru berdasarkan golongan darah, tanpa mencoba untuk memahami mereka lebih dalam sebagai manusia. Ini ga ada bedanya dengan rasisme yang menjustifikasi orang berdasarkan latar belakang ras atau warna kulit.
.
Di Indonesia sendiri, penggunaan kategorisasi kepribadian berdasarkan golongan darah kemungkinan besar masih pada level lucu-lucuan. Tapi apa yang berlaku di Jepang adalah contoh nyata, suatu konsep jika diseriusi tanpa diiringi sikap kritis bisa menimbulkan potensi bahaya sosial. Bisa jadi, konteks diskriminasi yang terjadi di Indonesia itu terjadi pada bentuk yang lain, tidak terlepas juga pada hal-hal yang membawa istilah sains.

Related posts

Istana Siak Dikunjungi 25 Ribu Wisatawan Selama Lebaran

admin

Bedah Buku: GUSDURian Sumenep Rajut Kemanusian Lebih Solid

PENA SANTRI

Marx dan Amanat Gelunggung

Ahmad Fairozi

Sejarah Panjang Santri dan Pesantren

PENA SANTRI

Mengangkat Sarung Lusuh

admin

Membumikan Kembali Madrasah Diniyah

PENA SANTRI

Leave a Comment