27.7 C
Indonesia
22 Oktober 2019

Mitos Masuknya Islam di Nusantara dan Terbentuknya Seni Budaya Islam Nusantara

Mitos Masuknya Islam di Nusantara dan Terbentuknya Seni Budaya Islam Nusantara 1
A.            A. Pendahuluan
Masyarakat Indonesia sebelum kedatangan Islam ada yang sudah menganut agama Hindu Budha maupun menganut kepercayaan adat setempat, Islam harus menyesuaikan diri dengan budaya lokal maupun kepercayaan yang sudah dianut daerah tersebut. Selanjutnya terjadi proses akulturasi (pencampuran budaya). Proses ini menghasilkan budaya baru yaitu perpaduan antara budaya setempat dengan budaya Islam. Setiap wilayah di Indonesia mempunyai tradisi yang berbeda, oleh karena itu proses akulturasi budaya Islam dengan budaya setempat di setiap daerah terdapat perbedaan.
Masuknya Islam ke Nusantara juga memunculkan banyak mitos-mitos mengenai masuknys Islam diberbagai daerah Di Nusantara. Mitos-mitos tersebut pada akhirnya mempengaruhi cara pandang masyrakat terhadap peninggalan mitos tersebut. Disebagian tempat peninggalan dari cerita mitos dilestarikan dalam bentuk upacara, seperti upacara nyadran yang dilakukan di Gunung Balak, desa Pakis, Kabupaten Magelang, untuk merawat dua batu lumpang dan jimat kalimasada peninggalan Syehk subakir, upacara nyadran ini disamping untuk merawat benda kramat juga untuk memperingati masuknya Islam di wilayah tersebut.
B.          B. Sejarah Masuknya Islam Di Nusantara Berdasarkan Mitos
1.           1. Mitos Masuknya Islam Di Samudra Pasai
Hikayat Raja-Raja Pasai, merupakan salah satu sumber tentang mitos cerita masuknya Islam ke Samudra. Dalam cerita ini disebutkan bahwa Khalifah di Mekah mendengar tentang adanya Samudra dan memutuskan untuk mengirim sebuah kapal ke sana untuk memenuhi harapan forcasting Nabi Muhammad SAW bahwa suatu hari nanti akan ada sebuah kota besar di timur yang bernama Samudra, yang akan menghasilkan orang suci. Kapten kapal itu, Syekh Ismail, singgah dulu di India untuk menjemput seorang sultan yang telah mengundurkan diri karena ingin menjadi da’i. Penguasa Samudra, Merah Silau (atau Silu), bermimpi bahwa Nabi menampakan diri kepadanya, mengalihkan secara gaib pengetahuan tentang Islam kepadanya dengan cara meludah ke dalam mulutnya, dan memberinya gelar Sultan Malik As-Salih. Setelah terbangun, sultan yang baru ini mendapati bahwa dia dapat membaca Qur’an walaupun dirinya belum pernah diajar, dan bahwa dia telah dikhitan secara gaib. Dapat dimengerti bahwa para pengikutnya merasa takjub atas kemampuan sultan mengaji dalam bahasa Arab. Kemudian kapal dari Mekah tadi tiba. Ketika Syekh Ismail mendengar pengucapan dua kalimat syahadat Malik As-Salih, maka dia pun melantiknya menjadi penguasa dengan tanda-tanda kerajaan dan jubah-jubah kenegaraan dari Mekah. Syekh Ismail terus mengajarkan dua kalimat Syahadat. Syekh Ismail kemudian meninggalkan Samudra, sedangkan da’i yang berkebangsaan India tetap tinggal untuk menegakan Islam secara lebih kokoh di Samudra. Sultan Malik As-Salih meninggal pada tahun 1297 M[1].
Berdasarkan cerita pengislaman Merah Silu di atas, dapat dipahami bahwa islamisasi sebagai suatu titik balik yang penting yang ditandai dengan tanda-tanda formal dari perubahan agama seperti mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, pengucapan dua kalimat Sahadat, penggunaan gelar sultan, dan pergantian nama dengan menggunakan bahasa Arab. Pergantian nama dari “raja” menjadi “sultan” dan “kerajaan” menjadi “kesultanan” ini, menurut Azra, dipandang tidak bertentangan dengan konsep-konsep Islam. Artinya, pengambilalihan ini tidaklah melibatkan proses transisi yang rumit, melainkan hanya merupakan konsekuensi yang wajar dari proses islamisasi[2].
Cerita tentang pengislaman Kerajaan Samudera di atas juga memperlihatkan suatu proses integrasi antara Islam, perdagangan, dan politik yang menjadi karakter penting sejarah awal Islam di Nusantara. Berislamnya Merah Silu bertepatan dengan proses pembentukan kekuasannya menjadi sebuah kerajaan. Merah Silu masuk Islam tidak lama setelah dia memangku kekuasaan dan mentransformasikan kerajaannya menjadi karakter penting sejarah awal Islam di Nusantara. Berislamnya Merah Silu bertepatan dengan proses pembentukan kekuasannya menjadi sebuah kerajaan. Merah Silu masuk Islam tidak lama setelah dia memangku kekuasaan dan mentransformasikan kerajaannya menjadi kerajaan Islam terkemuka yang mencapai puncaknya pada abad XIV M[3].
2.          2. Mitos Masuknya Islam Di Jawa.
Dalam buku Historiografi yang ditulis oleh R. Tanoyo mengunggapkan bahwa dalam usaha mengislamkan Jawa , Sultan Al-Gabah  dari negeri Rum mengirim 20.000 keluarga muslim ke pulau Jawa. Namun,banyak diantara mereka yang tewas terbunuh, dan yang tersisa hanya sekitar 200 keluarga. Sultan Al-Gabah dikisahkan marah kemudian mengirim ulama, syuhada, dan orang sakti ke Jawa untuk membinasakan para jin, siluman dan brekasakan penghuni Jawa.
Salah satu diantara ulama sakti itu adalah syech Subakir, dia dikenal sebagai seorang wali keramat dari Persia yang dipercaya telah menanam tumbal di sejumlah tempat di pulau Jawa agar kelak pulau tersebut dapat dihuni umat Islam. Disejumlah tempat di pantai utara Jawa dikenal sebagai makam Panjang, baik yang terdapat di Gresik, Lamongan, Tuban, Rembang dan Jepara diyakini sebagai kuburan atau bekas petilasan syeck Subakir.
Istilah memasang tumbal dalam kisah Syeck Subakir berkaitan dengan usaha rohani menyucikan suatu tempat, dengan cara menanam “tanah” di tempat yang dianggap angker[4].
Dalam cerita mitosnya syeck Subakir juga dalam menumbali tanah Jawa Bertemu dengan Raja jin Di tanah Jawa Yang disebut Sang Hyang Semar. Hyang semar ini merupakan keturunan kesembilan dari Nabi Adam yang menjadi leluhur tanah Jawa. Adam berputra Syist berputra Anwar dan Anwaa, berputra Hyang Rasa, berputra Hyang Wenang, berputra Hyang Tunggal, berputra Hyang Ismaya, berputra Hyang Wungkuhan. Dari Hyang Wungkuhan lahir tiga anak yakni Dang Hyang Semar, Hyang Hantaga, dan Hyang Manikmaya.
Semar atau Smarasanta inilah yang mengajarkan kapitayan, yaitu sebuah ajaran yang mengajarkan untuk menyembah Sang Hyang Taya. Kata Taya bermakna dzat Mutlak, yang tidak bisa dipikirkan dan dibayangkan dan tidak bisa didekati dengan panca Indra. Taya bermakna tidak ada tapi ada, ada tetapi tidak ada. Untuk itu agar bisa dikenal dan disembah manusia, Sang Hyang Taya digambarkan mempribadi dalam nama yang disebut tu atau to, yang bermakna daya ghaib[5].
Pertemuan Syeck Subakir dan Semar ini terekam dalam Kitab Serat Jangka Syech Subakir dan Islam Banjar (I). Dalam Serat Jangka Syech Subakir digambarkan sebagai berikut:
Sampun sangang ewu warsa, inggih wonten pulo ngriki, dedukuh ing hardi Tidar, saweg antuk sewu warsi, langkung taun puniki, Syech Bakir gawok angrungu, dika niku wong napa, napa ta ayekti janmi, umur dika dene ta kaliwat-liwat
Yang artinya antara lain : “Sudah 9000 tahun, ya (saya Semar) sudah ada di pulau ini (Jawa), di pedusunan di Gunung Tidar, tapi baru 1000 tahun berjalan, di sini, Syech Subakir heran mendengarnya, engkau ini makhluk apa, apa benar manusia? Kok usianya luar biasa”. Demikian perkenalan Semar dengan Syech Subakir. Selama ribuan tahun itu Semar bertapa di Gunung Merbabu dan tidak mengetahui keadaan manusia di Jawa. Gambaran tentang kondisi Pulau Jawa juga digambarkan dalam Serat tersebut penuh dihuni oleh demit, jin, gendruwo bekasaan dan sejenisnya. Bahkan beberapa utusan dari negeri Rum sebelum Syeh Subakir dimakan demit (Binadog demit).
Dari serat ini, ditegaskan bahwa Raja Rum mendapat petunjuk untuk mengisi pulau Jawa:
jeng Sultan Rum kang winarni, angsal sasmitaning Sukma, dinawuhan angiseni, manungsa pilo Jawi,…”
Syeck Subakir mengambil orang-orang Keling untuk dibawa mengisi pulau Jawa, sebanyak 2 laksa (20000) keluarga. Dari serat ini, maka yang mengisi (menjadi penghuni P. Jawa) adalah dari bangsa Keling yang dibawa oleh Syeck Subakir. Padahal dalam naskah itu pula, Semar adalah manusia. “Sang Hyang Semar lon wuwusnya, gih sumangga karsa Aji, sajatine gih kawula, lan kiraka tiyang Jawi, ing kina prapteng mangkin, kawak daplak inggih ulun, wong Jawa kuna mula, saderenga dika prapti, kula manggen Marbabu pucak haldaka”. Namun, selama bertapa ribuan tahun itu pula pulau Jawa sudah berubah isinya, bukan manusia seperti Semar, tetapi sudah dikuasai oleh para demit.
Dalam Serat Jangka Tanah Jawi juga digambarkan tidak beda jauh dengan serat Jangak Syeck Subakir, yaitu pertemuan antara Semar dengan Syeh Subakir ketika memberi tumbal (mengusir) para dedemit yang menguasai tanah Jawa. Dalam serat ini ada dialog yang sebenarnya adalah bantahan anggapan bahwa tanah Jawa belum dihuni oleh manusia, hanya oleh bangsa jin dan demit. “Syekh Bakir lon angandika, sayrkti ing tanah Jawi, pan durung ana manungsa, pan isih rupa wanadri, Hyang Semar matur aris, kawula sajatosipun, ing kina makina, saderenging tuwan prapti, hamba kalih dhedhukuh Rebabu arga Artinya : Syeh Subakir berkata, sebenarnya di tanah Jawa, belum ada manusia, masih berupa hutan. Hyang Semar menjawab dengan lembut, hamba ini sebenarnya, di masa lalu, sebelum kedatangan tuan, hamba berdua (Semar dan Togog) ini penghuni Jawa yang bertempat di Gunung Merbabu”.
Cerita lebih lengkap mengenai hal ini dapat dilihat dalam serat Asal Keraton Malang, disini digambarkan bahwa Syeck Subakir juga disebut Ajisaka atau Prabu Jaya Baya[6].
C.         C. Persinggungan Budaya Nusantara dan Budaya Islam
1.          1. Kepercayaan Benda Kramat
Dalam sistem kepercayaan Nusantara pada masa sebelum Islam, tepatnya pada kepercayaan kapitayan, orang-orang Nusantara mempercayai benda yang dianggap Keramat, benda-benda yang dianggap Keramat itu merupakan manifestasi dari Sang Hyang Tunggal. Kekuatan Syang yang Tunggal tersembunyi di dalam segala sesuatu yang memiliki nama berkait dengan tu atau to seperti watu, tugu, tungkup, tulang tunda, tunggul, tuk. Dalam rangka melakukan puja bakti kepada Sang Hyang Tunggal, Penganut Kapitayan menyediakan sajen berupa tumpeng, tumpi[7].
Namun setelah datangnya Islam kepercayaan terhadap benda-benda yang dianggap sakral tidak lagi pada benda-benda yang dianggap manifestasi dari tuhan yang biasanya terdapat kata to atau tu, akan tetapi kepercayaan benda sakral beralih kepada benda-benda peninggalan wali, atau petilasan wali, seperti masjid sumur dan makam. Hal ini sesuai dengen penelitian Prof. Nursyam, beliau menyatakan Menurut Tradisi masyarakat Jawa, terdapat tiga lokus penting  yang disakralkan yaitu masjid, makam dan Sumur[8].
Sebagaimana contoh benda peninggalan Syeck Subakir yang dianggap keramat adalah jimat kalimasada dan dua buah lumpang yang berada di Gunung Balak, Desa Pakis kabupaten Magelang, Sampai saat ini masyarakat masih percaya bahwa lumpang yang pertama dimaksudkan sebagai sarana penyucian diri dan lumpang yang satunya lagi untuk menjaga agar daerah tersebut tetap tentram dan damai.
2.         2. Mantra dan Doa
Dalam budaya Nusantara sebelum Islam datang, orang-orang Nusantara terbiasa membaca doa dan mantra. Mantra dan doa tersebut biasanya ditujukan untuk menolak bala’ dan pengaruh setan dan roh-roh halus. Ketika islam datang doa dan mantra ini berbaur dengan doa dan mantra Islam seperti doa dan mantra yang dibaca ketika seseorang hendak bepergian dan melakukan perjalanan Jauh, mereka akan meminta perlindungan dan hyang desa dengan mengucapkan mantra:
Allah huma, Genderuwo, olehne dah hyang ngela dasar ing bumi, bumi tuwa buyute dhanyang desa………, dhanhyang desa…….ingsung ewangana muji, apa sek sun puji yaiku lupute lara, lupute panca bala, lupute bilahi kabeh, ingsung urip, warasna sebab berkate kyai dahyang”.
Selain itu juga banyak mantra yang digunakan untuk pengasihan atau mantra yang digunakan untuk menarik lawan jenis, maka mantra yang dibaca adalah:
“Bismillahirahmanirrahim, asihan aing si leket serep si sukma simawa lumpah ya herang asaleng banyu ya butak nujadi darah, darah nu mawa amarah, kurungan nu melang tawan, tawan sukma temirasa, ah leiy, ah leiy”[9].
D.          C. Penutup
Mitos mengenai sejarah masuknya Islam Di Nusantara diambil dari mitos mengenai masuknya Islam Di Jawa dan Di Samudra Pasai. Dari mitos ini melahirkan persinggungan budaya nusantara sebelum islam dan setelah Islam.
Salah satu persinggungan budaya tersebut adalah dalam mantra atau doa dan mengenai pengkramatan benda. Dalam sistem kepercayaan Nusantara pada masa sebelum Islam, tepatnya pada kepercayaan kapitayan, orang-orang Nusantara mempercayai benda yang dianggap Keramat, benda-benda yang dianggap Keramat itu merupakan manifestasi dari Sang Hyang Tunggal. Kekuatan Syang yang Tunggal tersembunyi di dalam segala sesuatu yang memiliki nama berkait dengan tu atau to seperti watu, tugu, tungkup, tulang tunda, tunggul, tuk. Namun setelah datangnya Islam kepercayaan terhadap benda-benda yang dianggap sakral tidak lagi pada benda-benda yang dianggap manifestasi dari tuhan yang biasanya terdapat kata to atau tu, akan tetapi kepercayaan benda sakral beralih kepada benda-benda peninggalan wali, atau petilasan wali, seperti masjid sumur dan makam. 
E.          D. Daftar Pustaka
A. Teeuw, Sedjarah Melaju, (Jakarta: Jambatan, 1952).
Agus Sunyoto, Atlas Walisongo, (Depok: Pustaka Illman, 2016).
Amiruddin, Kolodete 2: Peralihan Peradaban Hindu ke Islam Di Pegunungan Dieng, (Wonosobo: Media Kreasi Press, 2018).
Azumardi Azra, Renaisance Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana Dan Kekuasaan, (Bandung: Rosydakarya, 1999).
Burhanudin, Ulama dan Kekuasaan, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995).
Nur Syam, Islam Pesisir, (Yogyakarta: LKIS, 2005).
Suyono, Dunia Mistik Orang Jawa: Roh, Ritual, Benda Magis, (Yogyakarta: LKIS, 2009).

[1]A. Teeuw, Sedjarah Melaju, (Jakarta: Jambatan, 1952), h. 83.
[2]Azumardi Azra, Renaisance Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana Dan Kekuasaan, (Bandung: Rosydakarya, 1999), h. 90-91.
[3]Burhanudin, Ulama dan Kekuasaan, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), h. 18.
[5] Amiruddin, Kolodete 2: Peralihan Peradaban Hindu ke Islam Di Pegunungan Dieng, (Wonosobo: Media Kreasi Press, 2018), h. 173.
[7] Agus Sunyoto, Atlas Walisongo, (Depok: Pustaka Illman, 2016), h. 52
[8] Nur Syam, Islam Pesisir, (Yogyakarta: LKIS, 2005), h. 8.
[9] Suyono, Dunia Mistik Orang Jawa: Roh, Ritual, Benda Magis, (Yogyakarta: LKIS, 2009), h. 178.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy