27.7 C
Indonesia
22 Oktober 2019

Nash Yang Benar Dan Akal Yang Sehat

Nash Yang Benar Dan Akal Yang Sehat 1
Euforia “kebanyakan” muslim dengan narasi “akal sehat” seorang filosof teoritis praktis dengan untaian kata yang logis dan realistis, mengguncang “tahta” filosof feodal yang menganggap keautentikan filsafat dan otoritasnya hanya melalui kasta akademik. Alih-alih belajar dari kelihaiannya membumikan filsafat, justru “mencerca” persona dan narasi “akal sehatnya” yang abstrak.
Tapi pointnya bukan itu. Sebenarnya ini tentang kita, sebagai muslim. Seharusnya fenomena ini menjadi “pukulan” hebat bagi kita, khususnya para Da’i. Bukan dalam rangka bereuforia. Hanya ingin, agar setiap muslim dalam kajiannya tidak mengenyampingkan akal sehat yang merupakan anugerah terindah. Nash yang benar dan akal yang sehat yang menjadikan argumen seseorang sarat kearifan (logis) dan hikmah (realistis), bak oases di gurun sahara. Bukan fatamorgana di ujung jalanan.
Bukankah para Nabi telah terdahulu selalu menggunakan ucapan yang argumentatif dalam dakwahnya. Sehingga masyarakat yang mulanya antipati menjadi simpati. Tunduk “tersihir” oleh bayannya. Tak luput, raja angkuh dan pengikutnya murka lantaran membisu tak bisa berdialektika (berkata-kata). Itulah dahsyatnya wahyu bersama akal yang sehat.
Akal sehat harus dimiliki setiap muslim. Dengannya, seseorang mampu memahami nash dengan benar. Jika nash dipahami dengan benar, maka nash itu benar. Nash yang benar tidak akan pernah kontradiksi dengan akal yg sehat. Sebaliknya, akal yang sehat tidak akan pernah kontradiksi dengan nash yang benar. [Risalah al-‘Arsyiyyah Li Ibni Taimiyyah, 35]
Jika terlihat kontradiksi antara nash dan akal, maka bukan nashnya yang didahulukan. Bukan juga akalnya. Tapi pemahaman nash dan akalnya harus direnungkan. Jika pemahaman nash benar dan akalnya sakit, maka nash yang benar harus didahulukan atas akal yang sakit. Jika pemahaman nash salah dan akalnya sehat, maka akal yang sehat harus didahulukan atas nash yang salah. Jika pemahaman nash benar dan akalnya sehat, maka mustahil terjadi kontradiksi antara keduanya, hatta yaumil qiyamah. [Manhaj al-Istidlal ‘Ala Masaa’ il al-I’tiqad Li Ustman Ali Hasan, 1/366]
Akhirnya, narasi “akal sehat” yang dipopulerkan RG ada sehatnya pada tahap ilmu pengetahuan fisik. Namun sakit pada tahap metafisik. Sebab akal yang sehat pasti mengantarkan pada ketauhidan. Allahu Ahad. Rabb semesta alam.
Wallahua’lam

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy