28.9 C
Indonesia
19 November 2019
Nasionalisme Kaum Santri 28

Nasionalisme Kaum Santri

Santri, seorang yang identik dengan belajar dan mengabdi dengan kiai. Biasanya belajar lebih fokus dalah hal ilmu agama Islam. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa santri juga belajar ilmu umum. Dalam hal ini, belajar bukanlah hanya pada  teori dan praktik belaka, melainkan juga ilmu yang lebih mendalam, seperti adanya syafaat dan manfaat atas ridlo sang kiai. Bukan hanya belajar soal akademisi, akan tetapi ilmu tentang tata krama dan kesopanan (softskill) adalah yang diutamakan.

Sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran dan perjuangan pondok pesantren. Pada masa awal kedatangan Islam kita mengenal pondok pesantren Giri di Gresik bersama institusi sejenis di Samudra Pasai yang menjadi pusat penyebaran Islam dan peradabannya ke berbagai wilayah Nusantara. Pondok pesantren Ampel Denta menjadi tempat para wali menempa diri yang di antaranya mereka kemudian disebut Wali Songo yang termasyhur dalam penyebaran Islam khususnya di Jawa. Melihat kenyataan di atas, sejarah menunjukkan besarnya peran dan kontribusi pondok pesantren bersama kyai dan santri-santrinya dalam berbagai kiprahnya, baik pada masa perjuangan maupun pada masa pembangunan bangsa dan negara Indonesia.

Sejak masa awal kedatangan Islam, terutama pada masa Walisongo hingga masa penjajahan Belanda dan masa kemerdekan hingga sekarang, pondok persantren telah menyumbang sejuta jasa yang tak ternilai harganya bagi Indonesia terutama kepada pengembangan agama Islam. Sejarah telah membuktikan bahwa Islam diterima di negara Indonesia terbukti dengan jumlah penduduk Islam di Indonesia terbesar di dunia. Padahal dalam sejarahnya, Indonesia bukanlah negara yang notabene Islam layaknya negara-negara di Timur Tengah. Hal ini juga membuktikan bahwa tokoh-tokoh Islam di Indonesia adalah orang-orang yang berpengaruh dalam negara Indonesia.

Sejarah Indonesia mengingatkan kita pada kaum santri dan kyai (ulama). Mereka berperan dalam memperjuangkan negera Indonesia untuk merdeka. Negara Kesatuan Republik Indonesia, sejak 73 tahun silam. Sebelum itu, Indonesia adalah tempat bercocok tanam negara lain seperti Belanda misalnya. Belanda yang menjajah tanah Indonesia selama 3,5 abad untuk kepentingan mereka sendiri yang dikenal dengan tujuan 3G (Gold, Glory, Gospel). Intinya adalah mengambil kekayaan dan menguasai tanah Indonesia. Namun, pada zaman itu pula perjuangan demi perjuangan terus dilakukan untuk membebaskan tanah Indonesia dari tangan penjajah. Pada masa itu banyak tokoh pondok pesantren yang terpanggil untuk ikut serta dalam perjuangan bangsa Indonesia. Mereka dengan gigih dan berani  terlibat dalam berbagai perlawanan menentang penjajah Belanda. Misalnya dalam Perang Dipenogoro di Jawa, Perang Paderi dengan tokoh sentralnya Imam Bonjol yang juga tergolong kaum santri. Perang Aceh mengenalkan kita pada Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Muthia. Ini menunjukkan bahwa ulama dan santri memiliki peran besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pada waktu yang berbeda, perumusan Dasar Negara yang disahkan pada 1 Juni tahun 1945, santri dan ulama ikut berperan. Misal, dalam rumusan sila pertama dengan bunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” yang  diubah menjadi ” Ketuhanan Yang Maha Esa”. Rumusan sila pertama ini menunjukkan bahwa kaum Islam ikut berperan aktif dalam memperjuangkan negara Indonesia. Adanya perubahan sila pertama Pancasila, menunjukkan bahwa Indonesia mengakui adanya warga negara yang bukan pemeluk Islam. Karena sejatinya Indonesia merupakan suatu bentuk negara yang terdiri atas wilayah yang luas dan tersebar dengan berbagai macam adat, suku, keyakinan, serta budaya yang memiliki tujuan dasar menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Peran santri dan ulama terhadap bangsa Indonesia patut dibanggakan. Sejak zaman penjajahan sampai zaman milenial ini, mereka masih berperan aktif demi keutuhan dan kesatuan NKRI. Misal, pada kurun waktu tahun 1900-an, ada nama-nama besar seperti HOS. Cokroaminoto pendiri Sarekat Islam, KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah,  K.H. Hasyim Asyari pendiri Nahdhatul Ulama, dan lain sebagainya. Pada masa kemerdekaan, muncul nama-nama seperti KH. Wahab Hasbullah, M. Natsir, KH. Wahid Hasyim, Buya Hamka, KH. Saifuddin Zuhri. Adapun pada masa sekarang terdapat KH. Maemun Zubair dimana bisa kita lihat perannya dalam dunia politik maupun pengembangan agama Islam.

Perkembangan pondok pesantren terus meningkat bahkan sampai ke pelosok desa. Keberadaannya juga dapat mempengaruhi masyarakat pedesaan menuju hal yang posistif. Pondok pesantren yang tersebar di pelosok-pelosok pedesaan mampu mengembangkan masyarakat muslim yang solid, yang berperan sebagai kubu pertahanan rakyat dalam melawan penjajah. Masyarakat muslim yang solid ini kelak menjadi modal yang kuat bagi persatuan bangsa Indonesia sehingga bangsa ini bisa berdiri sebagai bangsa yang merdeka. Disini menunjukkan bahwa peran pondok pesantren dan pihak yang terlibat di dalamnya ikut berperan dalam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dari kalangan santri juga memunculkan bukti nasionalisme mereka, seperti adanya nyanyian “Shubanul Wathon”. Pada zaman milenial ini lagu tersebut sering terdengar dalam acara-acara yang diadakan oleh kalangan pondok pesantren maupun yang organisasi yang berbasis pesantren. Substansi lagu ini adalah rasa nasionalisme dan cinta tanah air, serta orang yang mengancan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia akan dilawan. Untuk itu, semangat nasionalisme haruslah tetap dijaga dan dipelihara dalam diri setiap warga negara Indonesia. Sama halnya dengan santri dan ulama Nusantara, mereka bukanlah golongan yang menutup diri dari sistem pemerintahan Indonesia. Dari zaman sebelum Indonesia merdeka sampai detik ini pun, mereka tetap ikut serta menjaga NKRI. Karena sejatinya Indonesia adalah rumah tempat berlindung dari panas dan hujan.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy