27.1 C
Indonesia
23 September 2019
NEMORKARA [1] 1

NEMORKARA [1]

NEMORKARA [1]Mereka berteriak-teriak ibarat petani yang mengadu ke pelataran tanahnya yang kehabisan sumber air. Muara sungai sudah lama mengering, sumur-sumur kampung terkuras berbagai kebutuhan dari mandi sampai mencuci. Sementara udara makin panas menyiram, mengantarangin sebagai pengempas tanah ke mana-mana, hingga sekujur kawasan Telenteyan bagai peraduan bebatu di ataspangobbârên[2]NEMORKARA [1][3] datang menderai kesenyapan, mengumbar kecemasan yang mendalam dari hari ke hari. Ada apa dengan keadaan yang melentingkan pikiran saling bertanya sangkut paut pijak, mengirim bisikan dan kabar yang mengapung laksana matahari yang terik sepanjang siang.
 
Sementara di pembaringan Kara, lelaki dengan barisan tulang yang tak berdaya itu, bunga-bunga harapan pun melayu, sebagian gugur dan ranggas. Hanya sapu tangan Nurjanah, sang istri yang kuyup dan kusam. Di pelupuk matanyaberkabung cahaya lampu damar dan sorotannya yang hanya cukup menyinari bagian kecil amper gubukSamar-samar terlihat, ia mendekap sang suami dengan mata merembes sumber basah. Setiap kilatan mata Kara memenuhi lengkungankelopaknya. Sedikit-sedikit tak tahan, titik-titik air mendesak bocor. Ya Allah, rahmati suamiku. Sambil terisak lirih pedih.
           
Di atas lincak, dalam rengkuhan Nurjanah, tubuh kurus Kara tergentang seperti sebuah perahu yang rapuh terdampar. Seisi kulitnya menampakkan batang-batang tulang yang menjalar ke setiap lekukan badannya. Sudah 6 tahun berjalan,misteri penyakit yang diderita tak kunjung sembuh. Dari dhukon[4], tukang ramal, habib hingga dokter yang pernah didatangi tak pernah memberikan petunjuk jelas: penyakit apa sebenarnya yang menyelimuti hidup Kara. Mereka semua berbeda-beda penjelasan mengenai itu, ada yang mengatakan panarajhut, parobu, seleb[5] dan macam-macam. Begitu pula ramuan, obat, air minum dan segala macam sarat sudah dicari ke mana-mana, ke tempat keramat, ke polo[6] tak berpenghuni di tasek mereng[7] dan sudah berpuluh-puluh kota disinggahi, tak pernah didapat obat mujarob untukpenyembuhan.
 
***
 
Ecapo’ panyake’ ponapa saongguna sampeanKa’
 
Istrinya selalu meratap. Begitu pula dua anaknya yang beberapa waktu lalu sudah putus sekolah karena tidak ada yang menanggung biayanya lagi. Sedang emak Kara sendiri sudah terlihat lemas di kamar sebelah. Belum lagi tetangga yangberambisi menggunjing-gunjingkan penyakit yang dideritanya selama ini. Celutuk-celutuk tetangga yang menyempal dari sekian banyaknya kegelisahan warga di tepian kampung, bagai titian memijakkan kaki mencari angin siang hari.
 
“Kara kena santet!”
 
Bukan, kodheka!”
 
Seher!
 
Lihat, makanan saja sudah tak bisa masuk ke mulutnya!
 
Apalagi sebulanan ini, saya dengar, ia sering meraung-raung seperti ada yang menginjak-nginjak tubuhnya!”
 
Kayaknya ya, kuku-kukunya juga sering mengeluarkan nanah hitam
Aneh ya!”
 
Semua bergunjing dan keranjingan. Pemain reme di tabunan sawah, pemain cos di malam-malam 7 harian orang meninggal atau jamaah kompolan yang menghilir pulang dari kejauhan. Terutama di sore hari, ketika warung rujak Emak Karma ramai-ramainya disinggahi buat mengisi perut yang kelaparan sehabis meladang atau memburu ikan-ikan ke lautan. Sungguh, mereka tak mau kehilangan aib dan parsemon daripada mengebik-ngebik perbincangan tentang penyakit Kara. Malahan semakin hari semakin banyak yang menyaringkannya ke setiap pelosok, bagai tagihan utang kehidupan sehari-hari.
 
***
Bagi Nurjanah, gunjingan semacam itu bisa jadi tambahan pupuk subur penyakit keluarganya yang menyelinap pelan-pelan ke daun telingan, merasuki nalarnya dan mengikis diam-diam urat sarafnya. Apalagi jika dihubungkan-hubungkan dengan masa lalu yang tidak diketahui. Sang laki yang hanya sebagai tukang ojek serabutan di kota kelahirannya selama ini tampak biasa-biasa saja, jauh sebelum menikah bahkan, suaminya sudah bekerja di kota. Namun, dia sendiri tidak pernah paham kenapa kemudian banyak orang berbisik-bisik dalam keramaian.
 
“Kara itu bajingan!”
 
Mau mencuri saja, mesti keluar kota!”
 
“Apa tak cukup selingkuh dengan bini orang!” 
 
Sudah maling, bajing lagi!”
 
“Bukannya istrinya sendiri, hanya gadis desa yang lakunya hanya di rumah, di dapur dan di kasur saja! Pantas, ia tak pernah tahu ke mana suaminya kerja!”
 
Kini habislah dia, menanggung kutuk perbuatannya!”
 
Begitulah akhirnya, kalau orang kerjaannya cuma nyepir orang lain!”
 
Memang tak pernah ada kecurigaan di hati. Dan Nurjanah tetap setia. Bahkan dia tak ingin mencari-cari kesalahan, jika pun semua itu terjadi. Prasangka buruk takkan mambuatnya lemah sebagai seorang istri.
 
“Kasihan sekali istrinya ya…”
 
“Apalagi harus menanggung dua anaknya!”
 
“Ibunya juga sudah tua renta.
 
Terus siapa lagi yang bisa menanggung hidupnya.
 
Bila omongan itu sudah memenuhi kerangka dadanya, tak jarang dia memang merasa salah sendiri dan hanya menangis adanya. Untung, selama ini keluarga dari Jawa masih sempat diam-diam menampung sebagian kebutuhan hidup, mulai dari biaya obat, makan, minum dan kebutuhan sehari-hari. Bahkan untuk seluruh pengobatan, Man Mukmin yang siapberani membawanya ke rumah sakit mahal di Surabaya dan Situbondo, menghabiskan biaya puluhan juta rupiah selama bulanan. Sebagai orang terpelajar, tentu sang paman tak terlalu percaya dengan umpatan-umpatan sebagian orang kampung.
 
“Kara hanya perlu dibawa ke dokter ahli!” Katanya kepada sanak famili.
 
Bukan ke dukun dan tukang ramal!” dengan ketus sangat.
 
Berbeda dengan keluarga atau tetangga dekat di kampung. Meski tak ada yang mampu mengelak, mendengar ManMukmin, secara diam-diam mereka tetap silih berganti pergi ke dhukon[8]. Alasannya, kami biasa minta petodhu[9] ke Nye Tariye, Ke Salamet. Apalagi kalau sudah mengingat kepintaran Ju’ Mesem, sesepuh kampung ini, dalam menilik dan menafsir keadaan dalam hiduptentu mata orang-orang kampung lebih pasti berbinar, karena setiap penceritaannya tentang hal ihwal yang perlu kami kerjakan selalu berhasil, menuai keberuntungan. Beliau selalu punya sugesti yang baik. Meski bukan peramal, petunjuknya tentang orang-orang pintar selalu benar, seolah punya ikatan batin tersendiri dengan kewalian alam.
 
***
Ketika semua orang sesibuk sapi-sapi menerabas pagar dalam mencari-cari kemujaroban. Kara tetap tak kunjung sembuh, padahal sudah dibawa dan dicarikan tambha[10] ke mana-mana. Man Mukmin sendiri terlihat putus asa dan menyerah, begitu pula sebagian yang lain. Jangankan pil, obat yang harganya ratusan ribu dan jutaan pun sudah pernahditelan, tak membuahkan apa pun, kecuali hanya anggapan, dengan obat-obat itu malah Kara tambah kurus dan kering. Nyaris tak berkebik lagi bibirnya. Hanya sepasang matanya menerawang bagai angkasa kosong yang hanya menyimpan kedalaman permohonan panjang. Ampuni dosa kami, Tuhan. Melata mata orang-orang dalam pandangannya yang jauh.
 
“Coba tak ada minuman bedak ini!
 
Ma Sarwa mulai menimpal, sembari menunjuk-nunjukkan segelas air warna kuning yang sedang dipegangnya dari tadi. Air ramuan yang dicampur daun baluntas, sirih, mimba, yang didapatnya dari Nye Murjam di seberang,
 
“pasti tubuhnya telah kering!”
           
Kemarin sore ketika senja hampir anslup, Kara pun sebenarnya juga telah dimandikan di setiap pertigaan jalan kampung yang menjulur ke bukit, sungai dan laut. Sekujur tubuhnya dibalut daun-daun kelor, yang satu dua daunnya dipurut menimbun tanah yang mulai digenang air. Rupanya mereka memang kehausan. Batin jiwa sang emak.
 
mosem reya, mosem NEMORKARA [1] na’
panyake’ elang bilâ e anyo’ aeng
samogâ’a ba’na cepet barês
 
Entah doa apa yang dibaca Ma’ Sarwa, bibirnya meletup-letup. Sambil mengempas-empas daun-daun itu ke tubuh Kara. Tak ada yang mengerti, beliau melakukan pekerjaan aneh apa itu. Meski sebelum-sebelum itu di tanah seberang, pernah ada yang menganjurkan pemandian itu bagi orang yang kena penyakit NEMORKARA [1]ka nemor[11]barangkali karena bumi terlalu kering kerontang sehingga tapak dhandang[12] berdahaga.
 
Bagi Man Mukmin, perilaku seragam itu terasa ganjil.
 
Pekerjaan tak waras!” bisiknya sengit.
 
Tapi si Ma’ tetap saja tidak hirau.
 
Ini sudah lakona[13] jujuk-jujuk dahulu!”
 
Salah seorang kemudian datang pula dan membujuk supaya si Kara dibawa ke Standur.
 
Segera bawa ke Ke Standur, di sana hidup salah seorang tokang tapa[14], yang hanya mengabdikan hidupnya untuk mengobati orang-orang sakit, barangkali tangkep.”
 
***
NEMORKARA [1], membuat segala usaha di kampung seperti senyap seketika. Ladang, sawah, pertanian dan perkebunan merosot. Begitu juga, urusan melaut sudah mulai mengelupas. Tembakau yang menjadi kebanggaan pun yang biasa ditanam hanya akan tampak berdaun dalupang, kecil-kecil dan kurus. Sehingga tak ada yang berani bertaruh dengan untung malang ruginya. Mereka lebih percaya, musim sekarang bukan musim barokah, tetapi bhalai[15]. Bahkan ketika hari ke hari hanya berjalan dengan kekhawatiran dan ketakutankebutuhan hidup serba mengurang. Utang sana-sini, maling mengincar peliharaan dan uang susah dicari dengan halal. Teka-teki penyakit yang diderita Kara tak juga menemu pangkal ujung sebagai tanda jelas dan kesembuhan.
 
Sebagaimana bebisik angin, maka kasak-kisik mengenai NEMORKARA [1]pun mulai terbertik dari mulut ke mulut. Seolah kasak-kusuk suara gubuk bambu yang reot akibat semilir barat yang menerjang.
 
Penyakit Kara penyebabnya!  Kita ingat sebelum-sebelumnya, tak pernah terjadi mosem panjang yang malaeb[16]seperti ini!
 
Dari desas-desus tetangga, untuk pertama kalinya pembaringan Kara bertambah sepi. Banyak orang pergi meninggalkan, termasuk sebagian famili dekatnya sendiri. Prasangka yang mengungkit-ungkit kembali masa lalu yang sudah hampir lama tertimbun, kian tumbuh berkembang bagai jamur di halaman belakang. Sebuah potret yang penuh kesuraman pandang bagi sang istri. Setelah 7 tahun dilampaui dengan banyak keharmonisan dan kesetiaan, yang barangkali hal itu memang sulit dibayangkan mertuanya sendiri sekali pun. Sebab, mereka tahu, betapa kesetiaan tak bisa menjauhkan hati dan perasaan dalam langgengnya keluarga.
 
Nurjanah hanya bagai perempuan lugu dalam pandangan mereka. Sementara Emak Kara sendiri juga sudah terlalu tua, tak mampu lagi bekerja. Batuk, asma, stroke sesekali menyerangnya. Kara sendiri hanya anak satu-satunya, bapaknya sudah lama mati sejak dia kecil. Di rumah itu, mereka tinggal berlima, juga dengan kedua anak Kara yang masih kecil-kecil. Maka, kini Nurjanah yang menjaga semuanya, dengan hasil usahanya yang masih tersisa dengan buah-buah kelapa dan lahang yang dimasak jadi gula merah di belakang rumahnya.
 
Semenjak sang suami sakit, rasa nyeri mana yang tidak dia tampung. Hanya saja dia selalu menepis. Saat orang-orang di sekitarnya mulai tak peduli, dan banyak menggunjing masa lalu Kara. Mereka menganggap penyakit itu lebih serupa kutukan untuk hidup Kara, sehingga tak ada obat apa pun lagi yang bisa menyembuhkan.
 
Kami sudah jalan ke mana-mana, tetapi sama sekali tak pernah ada tanda jelas mengenai penyakitnya!”
 
Dari pada hanya ikut menimpa kami pula nantinya, kami menyerah!”
 
Haji Salam, satu-satunya haji di kampung itu, ikut menengahi
 
Ini tanggung jawab kita bersama saudara-saudara, kita sesama tetangga bersaudara, harus saling membantu, gotong-royong!”
 
Tapi Pak Haji, penyakit ini sudah dicarikan tambha[17] ke mana-mana!
 
Lagian tidak ada yang pernah berhasil!
 
Nama penyakitnya saja tidak pernah jelas, bagaimana sembuhnya?!”
 
“Sudah, sudah, yang penting kita semua terus berusaha, bukan?”
 
Semua diam. Istri dan Emak Kara tak sanggup berucap apa pun lagi. Mereka terlihat pasrah. Begitu pun kedua anaknya selalu menjerit dan menangis. Tubuh Kara tinggal tulang berkulit sebatangkara. Hari ke hari, tubuhnya makin tak bergerak. Ia harus selalu dipaksa agar ada minuman yang bisa menyerapi tubuhnya, sebab makanan pun sudah tak mampu masuk. Berbagai ramuan, obat dan sasaji menumpuk di lincak. Sudah terlalu banyak, ramuan yang satu belum habis, ramuan dan obat lain sudah keburu datang. Terus begitu. Tapi semuanya kini mulai dibiarin. Selain karena tak adamanjurnya, mulut Kara juga hanya mampu menyerap aeng gû[18] yang biasa dibuat emaknya sejak kecil. Dalam ceritanya, setiap kali Kara mau tidur, ia selalu menangis meminta dibuatin minuman ini, dan dengan air ini pula dia biasa minum setiap kali makan.
 
***
Tiga bulan berlalu. Ketika semua orang meninggalkan dan keadaan kembali seperti biasa, mengembala sapi ke sisa-sisa rumput kering di pematang. Tinggal bisik-bisik nemorkara yang menerba ke sana kemari. Pikiran mereka seolah dikuasai tanda kurang baik, apalagi sejak ada isyarat dari Keae Ansor, bahwa ada seseorang yang terlalu banyak dosa di kampung itu, sehingga mengakibatkan hujan akan sulit turun, segala usaha dan pertanian kurang menguntungkan. Selain itu, isyaratnya lagi mengatakan, bahwa orang itu akan kena kutukan sepanjang hidupnya, yang satu-satunya obat penyembuhnya hanya didapat dari tangan ibunya sendiri.
 
Apa aku bilang, benarkan, itu pasti si Kara” gunjing dan bual orang-orang.
           
Kalau begitu, kita bilang saja ke keluarganya!” timpal yang lain.
 
Walau sebenarnya sudah banyak yang tak terlalu percaya pada penyembuhan Kara, akibat usaha yang mereka cari selama ini tak kunjung berhasil. Mereka toh masih menaruh hati pada ke karismatikan Keae Batu Ampar itu, apalagi sudah banyak bukti kehebatan dan kewaliannya, hanya saja beliau luput dari perhatian selama ini. Mungkin benar adanya nemorkara. Keadaan sudah terlalu laeb. Air terkeruk habis, buat minum saja sudah susah, apalagi buat mandi dan nyassa[19].
 
***
Malam harinya mendengar dabu[20] Keae itu, Emak Kara pun menjerit.
 
 
Dia sudah tak seperti dulu lagi sekarang, dia sudah insaf…”
 
Istrinya hanya diam layu, wajahnya kuyup. Tak berdaya. Apalagi sejak dari kemarin malam tubuh suaminya semakin panas. Matanya seperti menerawang dan tak berkedip lagi. Dalam keadaan lemah, demi mengetahui bisik-bisik itu lagi, sore harinya Nurjanah segera mendatangi Keae Ansor.
 
“Sebenarnya penyakit apa yang menimpa suami saya, Ke?”
 
“Kenapa sampai sekarang tak juga sembuh?” Tanya Nurjanah.
 
Keae Ansor menggeleng, ada sesuatu yang ganjil dalam perawakannya yang sudah menyepuh dirayapi usia.
 
Maaf na’ cebbhing[21]penyakit Na’ Kara hanya mampu diobati oleh emaknya sendiri”
 
“Maksud Keae..?”
 
“Na’ Kara harus diberi aeng sosona emma’na thibi’[22]
 
“Air susu ibunya?”
 
Ya, hanya itu satu-satunya jalan perantara dia sembuh”
 
Kalau tidak?”
 
Kalau tidak bagaimana Keae..?”
 
Tetapi itulah, jalan satu-satunya bhing”
 
Tetapi, bagaimana mungkin itu Keae, emak sudah tua dan sepuh?”
 
“Na’ Kara harus tetap menjalani kodratnya, menempuh hisab-lakunya”
 
Menempuh kodrat, hisab laku Keae?”
 
Firasatnya begitu bhing, dia harus mencicipi kembali air susu emaknya sebagaimana dulu dia bayi, agar dia mengertitindak-tanduk lakunya”
 
Saya semakin tak mengerti Keae…?”
 
Sudah, pulanglah kamu, sampaikan nubuat ini pada emaknya”
 
***
Tanpa menunggu pagi setelah kepulangannya, Nurjanah pun langsung bercerita pesan-pesan Keae. Lagi-lagi emaknya menjerit.
 
Aku sudah mengampunimu Na’…, emak sudah memaafkanmu, jauh sebelum kau sakit-sakitan bahkan, emak juga selalu mengingatkanmu. Tetapi, dirimu yang tidak pernah mau mendengar!
 
Istrinya turut terisak. Tak pernah mengerti, jika kemudian ibunya tidak bercerita mengenai asal hidup Kara selama ini, bahkan jauh sebelum mereka berdua menikah.
 
“Maafkan emak na’, menyembunyikan ini darimu. Bahkan bukan tidak mungkin sebenarnya bila engkau ingin mencari jawaban apa yang sebenarnya dilakukannya di luar, tetapi engkau begitu setia menjadi seorang istri”
 
“Sebenarnya, benar apa yang dikata orang-orang selama ini tentangnya. Dia lahir dari rahim ma’, tetapi tak pernah sekali pun dia mendengar nasihat, menyadari bahwa emak adalah ibunya sendiri. Jika tidak karena Keae, emak mungkin tak bisa menyampaikan ini, melihat cintamu yang begitu besar, emak terkadang jadi malu. Sangat malu sekali…”
 
“Tahukah kamu bhing, ketika dia kecil sukanya minta minum air gula pasir. Tetapi sekarang, saat semua tidak lagi berair, saat semuanya telah tua dan rambut emak melilit putih dimakan umurdia malah meminta emak mengeluarkan sumber mata air berupa susu dari dada ini. Semua itu tidak mungkin… Tidak mungkin bhing
 
Sang emak terduduk, tubuh tuanya tersandar di lincak,
 
Dia hanya semakin membuatku sesak saja!”
 
Nurjanah ikut mendidih, tak tahan tangisnya membesar, diikuti suara emak yang semakin melirih
 
“Sebenarnya kalau mau jujur Keae Ansor, Keae ingin berkata dengan isyaratnya, bahwa Kara memang sudah harus menghadapi akhir hidupnya dengan penderitaan teramat keras yang tiada kesembuhan ini…”
 
Telenteyan-Longos, Gapura, Sumenep, 27 Agustus 2012
 
 

[1]Musim kemarau yang berkepanjangan, diyakini oleh sebagian orang, sebagai suatu bala/ujian terhadap banyaknya masalah dan dosa-dosa.
[2] . Tungku besar yang dibuat untuk membakar batu-batu gunung
[3]Kemarau
[4] Dukun
[5] Nama-nama penyakit sejenis sihir, kodeka, dan semacamnya.
[6] Pulau
[7] Laut miring
[8] . Dukun
[9]. Petunjuk
[10]. Obat, penawar, pengasihan
[11] Musim kemarau ke musim kemarau lagi
[12]Jalan dengan simpang empat
[13]. Pekerjaan tetap, urusan, perhitungan
[14]Tukang tapa
[15] Tulah, ujian, musibah
[16] Membuat segala kebutuhan hidup serba sulit.
[17] Obat/ramuan
[18] Air biasa yang dicampur dengan gula pasir.
[19]. Mencuci baju, mencuci barang-barang rumah tangga, dll
[20]. Perkataan, penyampaian
[21]Panggilan untuk anak perempuan
[22]Air susu ibunya sendiri

Cerpen A’yat Khalili*

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy