26 November 2020

Ngaji Hikam Pasal 1 (Jangan Sombong dengan Ibadahmu)


Oleh : Muhammad Nur Hayid

مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ

Kalau sudah menjadi ahli ibadah, Jangan memandang orang lain yang masih bermaksiat dengan pandangan hina, dan jangan berputus asa dengan rahmat Allah kalau kau masih merasa banyak dosa dan masih suka bermaksiat. sebab rahmat Allah sungguh sangat luas dan tak terkira. datanglah kepadanNya dan mintalah ampun serta bertaubatlah, niscaya rahmat dan kasih sayangNya akan senantiasa menyertai kita semua. 
Intinya, jangan hanya bersandar kepada amalanmu semata kalau kau ingin sampai kepada Allah SWT. kita diminta untuk yakin sepenuhnya kepada Allah dengan mengamalkan makna hauqolah, La Haula Wala Quwwata illa Billah. kalau kita bisa beribadah, jangan senang dan bangga dulu, karena itu semua atas taufiq dan pertolongan Allah. Sebagaimana kalau kita bermaksiat kepadaNya, jangan putus asa dan hilang kendali, karena kemaksiatan kita itu sejatinya juga atas kehendak dan takdir Allah.  
Tinggal, kalau kita masih terus bermaksiat, langsung sambung dan lakukan taubatan nasuha sebagaimana yang diperintahkanNya kepada kita, dan teruslah memperbanyak membaca istighfar. semoga dan itu pasti, Allah mengampuni kita karena rahmatNya begitu luas dan dia tak butuh menghukum kita kalau kita mau kembali kepadaNya. 
Rasulullah SAW bersabda, kalimat hauqolah itu adalah kanjuz min kunuzil arsy atau kalimat hauqolah adalah dizir yang menjadi simpanan berharga bagi pembacanya dan pengamalnya di sisi Allah SWT. dalam haditnya yang lain, Rasulullah juga bersabda yang intinya, tidak ada orang yang masuk surga krena amalan baiknya, terrmasuk rasulullah, ketika beliau menjawab pertanyaan sahabat. lalu siapa orang yang bisa masuk surga itu, ya mereka yang mendapatkan rahmatnya Allah SWT.
Intinya, tetap pasrahkan hidup kita sepenuhnya kepadaNya,   “Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal ibadahnya, adalah kurangnya sifat ar-raja’ (rasa harap kepada rahmat Allah)  atau mudah putus asa sewaktu terjadi bencana (kemaksiatan) menimpanya.”

مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy