25.5 C
Indonesia
25 Agustus 2019

NU; Merawat Keberagaman Merajut Persatuan

Mm

NU; Merawat Keberagaman Merajut Persatuan 1


Oleh Masrurah”
Negara Indonesia selain kaya dengan sumber daya alamnya, juga memiliki kandungan budaya, tradisi, suku yang sudah ada sejak dahulu kala. Kebudayaan atau tradisi yang terlahir dari tangan kreatifitas masyarakat terdahulu tetap bertahan dan masih dijadikan sebuah kepercayaan. Bagi sebagian orang menganggap bahwa hal tersebut patut dilaksanakan guna mendapatkan kemudahan dan terlepas dari beberapa kemungkinan. Seperti halnnya tahlilan, slametan,dan rokat dhisah adalah budaya patriaki masayarakat Indonesia khususnya Madura.

Kepercayaan terhadap benda-benda masih saja melekat dan mengakar. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia sebelum memeluk agama Islam memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme. Maka tak heran, apabila dalam pelaksaan rokat dhisah, masayarakat biasanya berkumpul di bawah pohon yang besar dengan berkeyakinan bahwa pohon tersebut memiliki tenaga atau kekuatan dalam mempengaruhi keberhasilan bercocok tanam,  memberi keselamatan, dan malapetaka dapat ditangkal. Berkat walisongo melakukan akulturasi budaya dengan memasukan nilai-nilai keislaman, maka budaya seperti itu tidak lagi dikatakan menyimpang. Perlulah kiranya untuk merawat keberagaman budaya yang tidak hanya mengandung aspek spiritual melainkan juga tersimpan maksa sosial teramat mendalam. 

Keberhasilan meleburnya Islam dan kebudayaan yang sudah menjadi kebiasaan dan tersebar luasnya ajaran harus menjadi pusat perhatian. Dengan bermaksud menyebutkan, kedatangan Islam tidak bertujuan ingin merusak atau bahkan menghancurkan kebudayaan melainkan berkeinginan merawat, melestarikan, dan menyempurnakan tingkat kemanfaatan dengan memasukan nilai-nilai keislaman. Sehingga Nahdlatul Ulama’ (NU) yang berdiri pada pada tanggal 31 Januari 1926 M. salah satu alasannya ialah pelembagaan tradisi yang kemudian tetap melanjutkan strategi dan model dakwah walisongo dengan merawat dan bahkan memperkaya tradisi. 

Keberagaman budaya atau tradisi menjadi sangat penting untuk dipertahankan, ketika melihat di masayarakat sudah mengalami beberapa pergeseran; dari humanis menjadi apatis, spritualis menjadi materialis-hedonis, dan terjadi perpecahan hanya karena berbeda pandangan atau pilihan. Oleh sebab itu, NU terus mengupayakan pelestarian keberagaman budaya dan tradisi agar masyarakat tetap  berada dalam satu komando persatuan. Mengingat kembali bahwa berkat adanya budaya atau tradisi selain terdorong untuk mendekatkan diri pada sang Kuasa. Pun meningkatkan rasa persaudaraan antar sesama yang terlahir dari berbagai kalangan baik miskin ataupun kaya. 

Sebagai organasasi kemasayarakatan, NU senantiasa peduli terhadap keberlangsungan peradaban Negara; tidak semena-mena mengambil keputusan yang dapat merugikan sekelompok orang, bersikap adil dalam segala hal, dan mejaga persatuan dengan menghargai perbedaan. Semuanya tergambar dalam prinsip NU yaitu, tawassuth, tawazun, al-i’tidal,, dan tasamuh. Sekalipun dalam Negara terdapat berbagai suku, ras, dan agama, NU tetap mengedepankan persatuan, tidak ambisius mendirikan Negara Islam serta menanamkan kecintaan pada Negara bukan hanya agama. 

Apalagi K.H. Hasyim Asyari mengajarkan pada kita semua agar memiliki komitmen kebangsaan menjaga Negara dari kehancuran dan menjadi pelopor perdamian di tengah perbedaan. Sehingga beliau memandang bahwa spirit agama tidak cukup untuk menyatukan rakyat Indonesia yang terdiri dari pelbagai agama. Maka diperlukanlah semangat nasionalisme agar persatuan tetap terlaksana. Dari sinilah terdapat sinergisitas antara spirit agama dan semangat nasionalisme yang saling menguntungkan tak bisa dilepaskan. Adanya perbedaan supaya semakin erat persatuan bukan justru semakin tercerai-berainya persatuan. 

Sangat miris dan tragis. Apabila ada sekelompok orang atau salah satu organisasi kemasyarakatan memberikan contoh kemungkaran melakukan kekerasan atas nama agama, menyerukan penegakan Negara Islam atas dalih firman Tuhan, hingga menjadi mesin penghancur keberagaman karena tidak sama dengan dirinya. Beruntunglah posisi NU dalam suatu Negara mendudukkan ketaatan agama dan kecintaan pada negara harus berimbang. Bisa dibayangkan bila tidak ada yang merawat keberagaman, kehancuran segera datang dan sulit membangun peradaban karena persatuan tidak diutamakan. Maka merawat keberagaman agar tercipta persatuan adalah sesuatu yang harus dilakukan supaya kemajuan yang diinginkan bisa tercapai. Salam!

*Kader PMII Guluk-Guluk dan Pegiat Komunitas Membaca Santai (KOMNAS).

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy