30 C
Indonesia
8 Desember 2019
Nyai Hj Aqidah Usymuni Perempuan Pesantren Visioner

Nyai Hj Aqidah Usymuni Perempuan Pesantren Visioner

Nyai Hj Aqidah Usymuni Perempuan Pesantren Visioner

Perempuan tidak hanya memiliki tugas di dapur, sumur, dan kasur. Perempuan juga bertanggung jawab mendidik dan mencerdaskan generasi penerus. Itulah prinsip Nyai Hj Aqidah Usymuni.

”Biarpun kamu seorang perempuan, aku yakin Allah akan mengabulkan apa yang aku cita-citakan,” demikian kalimat KH Usymuni kepada putri kecilnya saat itu, Nyai Aqidah Usymuni.
Kata-kata itu terus terngiang hingga putri kecil itu menjelma dewasa dan menjadi perempuan hebat. Pesan itu dilontarkan kembali saat koran ini bersilaturahmi ke kediaman Nyai Aqidah, Rabu (18/4). Dia tinggal di Tarate, Desa Pandian, Kota Sumenep.
Tidak ada yang ingat secara pasti tanggal berapa dan bulan apa dia dilahirkan. Yang dia ingat hanyalah tahun. Sebelum Indonesia merdeka. ”Tulis saja lahir 1940. Jadi umur saya sudah hampir 80 tahun, hanya kurang dua tahun,” katanya memulai pembicaraan.
Darah pesantren sudah mengalir di tubuhnya. Dia dididik langsung oleh mendiang ayahnya. Apalagi, sejak dalam kandungan, Nyai Aqidah memang dicita-citakan sebagai penerus untuk mengembangkan pesantren.
”Saya dilahirkan dalam keadaan malang. Ibu saya meninggal dunia pada saat saya masih berusia tiga bulan,” kisahnya.
Ceritanya, Nyai Hj Makkiyah, ibu Nyai Aqidah Usymuni putus asa setelah melahirkan. Penyebabnya, waktu masih hamil, Kiai Usymuni sering mengatakan bahwa anak yang ada dalam kandungan itu akan dijadikan penerus. Tapi, kehendak Allah berkata lain. Bayi mungil yang lahir itu berjenis kelamin perempuan.
”Ibu saya putus asa karena anak yang ditunggu ternyata perempuan. Padahal, dia berharap lahir seorang anak laki-laki yang akan meneruskan pesantren nanti. Tapi ternyata lahir seorang perempuan yang tugasnya di dapur,” katanya.
Setelah ibunya meninggal, Nyai Aqidah tinggal bersama Kiai Usymuni. Dia dididik langsung oleh ayahnya. Termasuk kebutuhan makan sehari-hari juga disiapkan langsung oleh kiai yang masyhur dengan ilmu gaibnya itu.
”Abah bilang Allah tidak membeda-bedakan. Insyaallah pasti bisa, biarpun kamu perempuan,” tegasnya menirukan pesan sang ayah.
Semasa kecil, Nyai Aqidah bersekolah di sekolah dasar milik Belanda. Dia belajar bersama anak-anak keturunan Belanda. Dia melanjutkan pendidikan hingga tingkat PGA Sumenep.
”Tapi saya tidak sampai lulus di PGA. Sebab, saya disuruh kawin sama orang tua,” tegas istri almarhum KH Sofyan tersebut.
Di usia remaja, dia sudah punya kegelisahan terhadap pendidikan masyarakat sekitar. Sebab di daerahnya, waktu itu, rata-rata masyarakat miskin. Belum lagi tingkat pendidikannya yang masih rendah.
Kiai Usymuni berpesan bahwa ada dua tipe pesantren. Pertama, pesantren yang menjadi bengkel kehidupan. Pesantren ini akan memperbaiki masyarakat yang tidak baik. Atau, semakin memperbaiki yang sudah baik.
”Ada yang betul-betul menjadi bengkel. Sepeda motor yang rusak masuk bengkel, keluar jadi bagus,” jelasnya.
Ada pula pesantren yang hanya didirikan secara formalitas. Kualitas tidak menjadi penting bagi pesantren golongan kedua ini. Yang terpenting banyak santri dan mereka bayar biaya pendidikan selama di pesantren.
Pesantrenkedua ini walaupun tidak bagus, yang penting santrinya bayar. Jadi begitu mau masuk sudah ditarik pendaftaran Rp 7 juta,” tegasnya. ”Itu bukan pesantren namanya kata abah. Itu penjajahan kelas sekarang,” tambahnya.
Dia merintis pesantren sekitar 1985. Tetapi secara resmi, pesantren yang dikelolanya baru diresmikan 1990 dengan diberi nama sama seperti namanya sendiri, yakni Pondok Pesantren Aqidah Usymuni.
Pertama kali mendirikan pesantren, hanya ada empat orang yang mondok. Itu pun santri tersebut dia cari sendiri, bukan santri yang datang langsung ke pesantren.
”Jadi pada zaman dahulu tidak ada orang kaya. Kecuali hanya bisa makan. Saya bercita-cita ingin berkumpul bersama mereka. Mereka yang katanya tidak berdaya. Saya ingin memberikan apa pun yang saya bisa,” jelasnya.
Ada tiga tujuan dia mendirikan pesantren. Pertama, dia ingin mengabdi kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Tujuannya, agar masyarakat menjadi pintar, bangsa semakin maju, dan negara jaya.
Kedua, dia ingin mengabdi kepada agama. Dengan mendirikan pesantren, dia berharap agar masyarakat semakin pandai ilmu keislaman, semakin bertakwa dan beriman kepada Allah.
Tujuan ketiga, ingin mendidik keluarga. Sebab pada dasarnya setiap manusia akan berumah tangga. ”Kita tentu ingin mendirikan keluarga sakinah mawadah warahmah (samawa),” urainya.
Nyai Aqidah tentu merupakan sosok perempuan langka. Dia memiliki prinsip yang kuat terhadap pendidikan kaum wanita. Selaras dengan momentum Hari Kartini yang diperingati tiap 21 April. Baginya, perempuan harus memperoleh pendidikan yang sama dengan laki-laki. Perempuan tidak bisa hanya bergelut di dapur, sumur, dan kasur.
Perempuan juga harus menjadi pendidik hebat bagi anak-anaknya. ”Dulu itu anak santri saya setelah lulus tsanawiyah dikawinkan. Sekarang tidak boleh. Sekarang setelah lulus kuliah baru bisa dikawinkan,” paparnya.
Mengapa harus setelah kuliah? Sebab, perempuan harus berpendidikan tinggi. Toh, menikah bisa dilakukan kapan saja. Tuhan telah menjanjikan jodoh untuk umatnya di muka bumi. Karena itu, di pesantren yang dipimpinnya kini tersedia lembaga pendidikan hingga perguruan tinggi.
”Kawin bisa kapan pun. Jodoh tidak akan lari. Tapi kalau umur ada masanya,” tuturnya. ”Kenapa harus belajar duluan dibanding kawin? Karena belajar di waktu kecil seperti menulis di atas batu. Kalau belajar di usia tua, seperti menulis di atas air,” terangnya.
Kepada generasi muda, dia memberikan tiga pesan. Bekal tersebut dia peroleh dari almarhum Kiai Usymuni. Pertama, kata Nyai Aqidah, orang hidup harus sabar dan tawakal. Sifat tersebut merupakan cerminan dari orang yang beriman.
Kedua, orang harus rajin dan cekatan. Dalam bekerja, orang harus punya etos yang tinggi. Ketiga, orang hidup juga harus jujur. Kalau bukan miliknya jangan diambil.
”Kalau kamu hidup dengan bekal itu, dunia akhirat akan selamat,” tambahnya. ”Kalau salah satu dari itu dikurangi, kita akan celaka,” tukasnya.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy