4 Juni 2020

Peci Gus Dur

Sejak kecil aku sudah diajak bapak jualan kopi di jalan utama pasar besar. Lokasi yang dekat alun-alun kota dan menjadi akses utama lalu lalang anak muda, menjadikan pula warung kopi sederhana milik bapak selalu ramai pengunjung. Ditambah kopi buatan bapak memang sudah menemukan penikmatnya sendiri.

Semua itu membuat warung bapak bisa bertahan sampai usiaku menginjak dua puluh dua tahun, di tahun ini. Aku pun sekarang sudah mampu membuat kopi dengan racikan yang sama seperti yang biasa dibuat bapak. Banyak di antara pelanggan bapak yang menyebutku sebagai penerus bapak dalam hal meracik kopi legendaris di jalan utama pasar besar ini.

Aku biasanya menyikapi gurauan orang-orang itu dengan senyum kecil saja. Kadang aku juga menimpalinya dengan gurauan ala penikmat kopi. Lebih sering, aku malah tak menanggapi, karena terlampau bosan berkali-kali mendengarkannya.

“Bapak telah mewariskan keahliannya padaku Pakdhe.”

“Darahmu sudah berubah jadi rasa kopi ya le.”

“Mungkin begitu Pakdhe. Haha…”Gurauan itu pun berakhir dengan tawa bersama. Bapak yang duduk mendengarkan radio ikut tersenyum mendengarkan anak laki-lakinya ini bergurau dengan para pelanggan kopi di warungnya. Memang sudah hampir satu tahun ini bapak tak lagi meracik kopi dan menyeduhnya. Bapak sudah tak kuat berdiri terlalu lama. Kadang bapak hanya duduk di warungnya dengan hanya memandangiku membuat kopi sepanjang malam. Persis yang kulakukan dulu saat masih kecil.

***

Lengkap dengan peci hitam dan sarung yang kupakai sekenanya saja aku selalu memandangi bapak sepanjang malam. Aku biasa ikut bapak di warung usai mengaji di langgarnya Kyai Ali. Selain karena takut pulang sendiri, maklum anak kecil takut pulang malam sendiri. Aku sengaja mampir ke warung bapak usai pulang mengaji untuk mendengarkan radio. Karena radio satu-satunya yang ada di rumah selalu dibawa bapak ke warung.

Awalnya aku hanya mendengarkan radio untuk melepas suntuk saja. Tapi akhirnya aku mendengarkan radio untuk tahu berita sepak bola. Khususnya berita dari tim bola kebanggaan kotaku. Dan yang paling terkenang adalah program radio Kumandang Sastra yang isinya pembacaan cerpen, puisi, bahkan novel yang dibaca secara bersambung.

“Kowe iki ngrungokke opo to le?”

“Apik lho pak.”

Aku dan bapak sering berebut soal acara radio. Kadang kalah kadang juga aku yang menang. Kalau sudah kalah rebutan acara radio aku akan jalan-jalan ke alun-alun kota. Biasanya di sana aku mendatangi penjual kacang rebus. Dengan hanya lima ratus rupiah aku mendapatkan sbungkus kacang lalu mencari tempat duduk di bawah pohon beringin. Di situ aku memulai membayangkan cerpen, puisi, novel yang pernah kudengar di radio. Sambilbergumamam dalam hati “Sepertinya aku juga bisa membuat seperti itu.”

Baca Juga  Ada yang Mesti Kita Lupakan Setelah Ini

***

Sepulang kuliah, aku biasa mampir dan membaca koran di perpustakaan. Aku selalu mengambil jam kuliah pagi. Agar bisa pulang menjelang sore, lalu berangkat lagi untuk menjaga warung kopi milik bapak. Aku yang memaksa bapak untuk membuka warung kalau bersamaku saja. Selalu kubilang sudah bukan waktunya lagi bapak capek-capek menjaga warung.

Usai membaca koran di perpustakaan biasanya aku menyempatkan mampir ke kantor redaksi koran kampus. Menghadap komputer dan menuliskan sebuah cerpen. Kadang selesai kadang juga tidak. Tapi aku selalu menikmati itu. Sebab aku ingin karya-karyaku dibaca oleh orang-orang. Seperti yang aku lakukan selama ini. Membaca karya-karya sastrawan terkenal yang tulisannya selalu dimuat oleh media. Sedangkan aku masih memperjuangkan untuk itu.

Sebagai anggota unit kegiatan pers mahasiswa. Selain aktif mencari berita seputar kampus, aku juga sering mengirim cerpenku ke koran lokal di kotaku. Itu kulakukan tiga bulan terakhir ini. Sebelumnya cerpen-cerpenku hanya kutulis untuk kubaca dan kunikmati sendiri. Atas saran seorang teman, aku mengirimnya ke koran. Dan hasilnya sejauh ini masih belum pernah dimuat.
Aku selalu menyelipkan pesan moral yang kudapat di warung kopi dalam cerpenku. Pernah suatu ketika bapak memaksa membaca cerpenku. Saat itu aku mau ikut sayembara menulis cerpen. Dengan senyum ala bapak. Akhirnya cerpenku mudah ditebaknya.

“Iki ceritoe pakdhe Hadi yo?”

***

Sore ini, di hari minggu yang cerah. Tiba-tiba saja hujan turun membasahi kota. Memang sudah seperti ini kondisi kotaku. Hujan yang dulu datangnya mudah diprediksi, kini datangnya semaunya sendiri. Sore ini karena masih hujan dan Pak Lan Fang tidak membawa mobil akhirnya dia mampir duduk di warung kopi bapak. Sudah lama Pak Lan Fang pemilik toko emas yang teras rukonya dimanfaatkan bapak untuk membuka warung ini tidak mampir dan minum kopi bersama bapak. Keduanya hanya saling sapa kalau bapak mulai membuka warung dan Pak Lan Fang menutup tokonya. Mungkin Pak Lan Fang belum pernah juga merasakan racikan kopiku. Sebab sejak bapak tak meracik kopi lagi sekitar setahun ini, Pak Lan Fang juga tak minum kopi di warung.

“Monggo pak ngopi riyen.”

“Iya pak To. Yang bikin kopi sekarang pemuda tampan ini ya pak. Sekarang sudah gondrong dan jarang pakek peci ya?”

“Iya pak, saya sudah gak kuat berdiri lama-lama. Jadi penonton saja kalau Si Fulan bikin kopi.”

“Lama ndak mampir minum kopi di sini Pak To, Penampilan anakmu sudah mirip sastrawan nih. Lan bikinin aku kopi spesial seperti yang biasa dibuat bapakmu ya!”

“baik pak.”

Baca Juga  Mayat tanpa Bola Mata

Pak Lan Fang memang dekat dengan keluargaku. Dia secara suka rela juga mempersilahkan bapak untuk membuka warung di teras tokonya sekitar 25 tahun yang lalu. Waktu itu bapak baru menikah. Karena terkena PHK, bapak bingung mau bekerja di mana lagi. Melihat peluang berjualan kopi sepertinya menjanjikan untuk menghidupi keluarganya. Bapak memberanikan diri merintis usahanya ini. Pak Lan Fang lah yang akhirnya membantu bapak dengan memberi saran untuk membuka warung di teras tokonya. Karena waktu itu tanpa sengaja bapak dan pak Lan Fang bertemu di alun-alun kota. Saat keduanya sama-sama melihat pagelaran wayang kulit.
Seperti memang sudah garis kehidupannya, bapak dan Pak Lan Fang semakin akrab. Semakin baik hubungan antara keduanya. Bahkan sampai sekarang.

***

“Selamat ya cerpenmu dimuat di koran kota hari minggu kemarin.”

“Benarkah?”

“Papa selalu berlangganan koran di tokonya. Kamu tahu sendiri kan, semenjak mama sakit aku sering ke toko.”

“Iya, aku dengar mamamu sakit kata bapakku kemarin.”

“Maklum kita lama tak bertemu. Aku baru lulus kuliah di Inggris. Kamu sudah selesai kuliah?”

“Aku terpaksa lulus telat. Satu tahun kemarin aku merintis kedai kopi di dekat kampus. Karena itu aku memilih cuti kuliah dulu.”

“Wah. Sukses ya sekarang. Terus warung bapakmu?”

“Ya sementara ini masih survive aku masih mencoba menghidupinya juga, aku masih meracik dan menyeduh di warung bapak selama ini. Tiap sore aku bertemu papamu. Dia selalu melontarkan pertanyaan yang sama setiap bertemu denganku.”

“Pertanyaan apa?”

“Di mana pecimu? Ya papamu selalu menanyakan peci yang tak pernah lepas di masa kecilku itu.”Karena tulisanku dimuat di koran lokal untuk pertama kalinya. Aku mencoba mengajak Rama menonton film di bioskop. Maklum aku juga sudah lama tak bertemu dengannya. Gadis kecil yang kukenal karena rajin membantu papa dan mamanya di toko emas setiap hari libur sekolah.

“Saya mau mengajak Rama ke bioskop pak.”

“Iya, pulangnya jangan malam-malam ya. Jangan lupa ajak dia keliling kota juga, dia mungkin pangling dengan kotanya sekarang.”

“Siap pak. Siap jadi pemandu wisatanya Rama malam ini. Hehe.”
“Kedai kopimu tutup?”

“Tidak pak, sudah ada yang jaga.”

Malam ini berjalan dengan sangat panjang. Rama ternyata ingin menyusuri jalan memutari kota saja. Tak jadi ke bioskop tentunya. Katanya dia ingin mengenang banyak hal yang telah dilewati selama di Inggris. Kangen Indonesia katanya. Negara dengan beribu suku bangsa namun mampu hidup dengan hasanah kerukunan antar warganya. Nuansa seperti itu yang dirindukannya.

“Mending jalan-jalan memutari kota saja. Aku bosan sudah sering ke bioskop.”

“Kamu mau ke mana?”

Baca Juga  Sampah Seumur Hidup

“Kita jalan-jalan saja di sekitar alun-alun kota saja, sambil nanti main ke kedai kopimu ya.”

Dengan tatapan memohon Rama tampak sangat merindukan suasana kota dan negerinya ini. Dia yang bermata sipit, yang selalu terlihat memejamkan mata saat tertawa membuatku semakin akrab dengannya. Gadis berkulit kuning cerah ini tampak seperti seorang putri. Aku pun tak berhenti mencandainya selama berkeliling kota.
Selain kedai kopi milikku yang ingin ia kunjungi. Ia juga mau mengatakan satu hal yang sangat penting malam ini padaku.

***

“Kamu mau kopi apa?”

“Terserah kamu. Pokoknya yang menjadi andalan di kedai kopi milikmu ini.”

“Ok siap tuan putri.”

Rama yang sejak masuk kedai kopi milikku tampak penasaran dengan sesuatu, dan memungkasi rasa penasarannya dengan banyak tanya padaku. Dengan senang hati pula aku menjelaskan konsep dan maksud dari didirikannya kedai RAMAREKSA ini. Meski sedikit aneh visi kedaiku, tapi dia pun mendukung dengan penjelasanku. Tapi satu hal yang sangat menarik perhatiannya malam ini. Di sudut baca dengan rak buku berjajar ia mengamati sebuah lukisan sangat lama.

“Ini mas Lan kopi Tubruk Dampitnya.”

“O iya Jon makasih.”

Sengaja kupesankan kopi yang berasal dari wilayah kota yang kita tinggali ini. Meski kuyakin Rama juga belum tahu kalau di kota kita, di sudut-sudut perbatasannya sangat kaya kekayaan alamnya. Termasuk komoditas kopinya yang sekarang mulai maju pengelolaannya.

“Ram ini kopinya.”

“Sebentar.”

“Kenapa?”

“Ini lukisannya siapa? Betulkah ini Gus Dur?”

“Itu kamu sudah tahu.”

“Kenapa kamu menangis.”

“ini tahun ke sepuluh kami harus merayakan Tahun Baru Imlek tanpa Gus Dur.”

***

Sebenarnya kamu tahu kan maksud papaku selalu menanyakan di mana peci yang biasa kamu kenakan saat kecil dulu. Papaku sebenarnya sangat merindukan sosok Gus Dur. Dia selalu menceritakan bagaimana sosoknya yang begitu dekat dengan kami. Makanya kalau bertemu kamu ia selalu menanyakan di mana pecimu.

“Aku baru tahu Lan”

“Apa?”

“Kalau peci yang biasa kamu pakai sama dengan peci yang dipakai di lukisan Gus Dur ini.”

“Ternyata maksud papamu begitu.”

“Besok kamu datang ya. Ke rumah kami sekeluarga dalam suasana bahagia Lan. Datanglah dengan sarung lengkap dengan pecimu. Biar papa bahagia melihat sosok anak muda yang sama dengan dirinya. Sama-sama mencintai Gus Dur.”

Kota Angin, Januari 2020

 

**Penulis

A. Muhaimin DS , lahir di Nganjuk (Kota Angin)
Seorang penikmat cerita dan penyuka perjalanan. Menulis cerpen, puisi dan catatan ringan tentang kesejukan hidup.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy