3 Desember 2020

Pedagang Kaki Lima

Saya kagum kepada para pedagang kaki lima, saat semuanya dikerjakan dengan penuh semangat untuk memenuhi tanggungan mereka terhadap keluarga. Tekatnya yang begitu membahana dalam diri mereka, sehingga dapat menghasilkan “sesuatu” yang begitu memuaskan bagi para sanak keluarga. Meski tidak seberapa hasilnya, para sanak keluarga akan lebih menghargai proses jerih payah kepala keluarga untuk membiayai sanak keluarganya.
Sebelum lebih lanjut, sekedar hasil pemikiran, saya akan sedikit membandingkan antara kepala rumah tangga yang proses mendapatkan nafkah melalui proses yang berat dan tidak. Pertama, seseorang yang menafkahi keluarganya dengan proses yang berat, mereka akan lebih waspada untuk menggunakan hasil yang diperoleh, karena teringat terhadap proses yang mereka jalani, kira-kira kata mereka begini, “Kami harus banyak pertimbangan untuk menggunakan uang ini, karena kami tidak mau uang ini digunakan untuk hal yang tidak begitu penting, masih ada banyak kebutuhan dalam keluarga kami.”
Kedua, seseorang yang menafkahi keluarganya dengan proses yang sangat gampang, mereka akan lebih melakukan “apapun” demi keluarga, meski hal itu tidak begitu penting dalam kehidupan sehari-hari. Itu disebabkan karena mereka melihat pada proses yang mereka jalani untuk menafkahi keluarga; mudah dan hasilnya banyak.
Selanjutnya, saya teringat pada beberapa hari yang lalu, ada teman-teman saya yang ingin mendirikan sebuah forum kajian tapi santai, istilahnya bincang-bincang inspiratif. Di dalamnya, karena baru perdana, kami kebingungan untuk mencari tema yang akan dibahas. Pada suatu titik, ada teman-teman yang mengusulkan tema, tentang ke-filsafat-an.
Namun, saya pikir, keberadaan filsafat tidak mungkin terpelajari dengan baik tanpa adanya seseorang yang memang mumpuni dalam bidang filsafat itu sendiri. Lah, maka dari itu saya mengajak teman-teman untuk membincangkan keberadaan para Pedagang Kaki Lima (PKL), karena memang keberadaan pedagang kaki lima tersebut sangat “enak” untuk diperbincangkan, hitung-hitung pikiran kita bisa bersosial, karena secara fisik kita jarang bersosial dengan pedagang kaki lima.
Pada titik ini, keberadan para pedagang kaki lima jangan hanya dilihat secara kasat mata saja, namun bisa jadi kita kaitkan dengan keberadaan orang tua kita di rumah, yang cara mendapat nafkah, sama atau hampir sama dengan para pedagang kaki lima. Kalau demikian, kita dalam penggunaan uang saku akan semakin banyak berfikir, karena itu semua adalah hasil jerih payah orang tua kita,sehingga uang saku kita tidak salah “jalur” pada titik yang masih dipertanyakan kepentingannya.
Terakhir, saya sebagai anak yang berusaha untuk selalu ingat usaha orang tua dalam membiayai sanak keluarga, akan terus berusaha mengingat perjuangan orang tua, semoga hal itu menjadi “jalan” untuk tidak mengabaikan usaha orang tua, meski saya hanya mengingat usaha tersebut. Semoga para pembaca juga mau berusaha untuk mengingat semua hal itu.
Mari kita bersama-sama berusaha mengingat, bahkan bukan hanya hal di atas.
Karya: Hairul Amin Ra’is Mantan Bendahara Pasra
13540076

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy