21 September 2020

Pendusta Agama dalam Tinjauan Al Quran Surat Al Maun


Oleh: AINUL YAQIN


Dalil Naqli para Pendusta Agama

Ayat yang menjelaskan para pendusta agama menurut kebanyakan ulamak qiro’ah termasuk Imam Ashim terdapat dalam al-Quran Surat Al-Ma’un sebanyak 7 ayat, namun ada juga sebagian ulamak Qiroah mengatakan 6 ayat karena ayat 6 dan 7 dijadikan satu ayat. Ayat tersebut turun pada urutan ke 17 setelah At-Takatsur dan sebelum Al-Kafirun. Mayuritas ulamak mengatakan semua Surat tersebut digolongkan Makkiyah walaupun ada yang mengatakan (Al-Shawi) ayat 1 sampai 3 turun di Makkah sedangkan ayat 4 sampai 7 turun di Madinah.    


Adapun ayatnya sebagai berikut:


أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7)


Artinya:
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

Tinjauan Historis Surat Al-Ma’un

Isu Publik “Pendusta Agama” maupun “Penista Agama” beberapa waktu yang lalu cukup banyak diperbincangkan kalangan kaum Netizen media sosial, tidak perduli berita berita/kabar HOAX  ataupun murahan, sehingga mampu menghangatkan suasana politik yang sudah hangat dan melonggarkan sulaman keharmunisan keberagaman bangsa yang terjahit rapi, padahal para menyebar berita/kabar yang terkadang hanya kabar murahan tidak merasakan apabila dirinyalah sebagai “Penista Agama” atau “Pendusta Agama”.



  Apabila ditinjau dari segi bahasa kata “Pendusta” mengandung arti Pembohong, penghianat atau mengingkari kata hati. Dalam pengertian stilistika bahasa seseorang bisa dikatakan pendusta apabila dia melanggar aturan main dan janji setianya disalah satu agama atau kelompok, misalkan orang yang sudah beragama Islam kemudian mendustakan janji setianya untuk taat beragama namun berbohong dan tidak taat maka pantas diberi gelar “Pendusta Agama”. Jadi gelar “Pendusta Agama” hanya bagi mereka yang menganut agama Islam. Pernyataan tersebut seirama dengan penafsiran Surat Al-Ma’un yang menjelaskan cirri-ciri para Pendusta agama bagi penganut agama Islam.



Untuk meminimalisir penyalahgunaan istilah “Pendusta Agama” maka penulis perlu mengungkap dan menginterpretasikan sebenarnya siapakah yang tergolong “Pendusta Agama” menurut QS. Al-Ma’un sehingga dipandang penting mengangkat topik dengan judul kajian; Pendusta Agama Dalam Tinjauan Tafsir Surat Al-Ma’un.



Menurut riwayat ayat tersebut mempunyai banyak nama, ada yang memberi nama surat Ad-Diin, At-Takdzib, Al-Yatiim diambil dari potongan Ayat pada surat tersebut, Namun  para ulamak banyak menyepakati nama surat tersebut dengan nama Al-Ma’un secara etimologi, alMa’un mempunyai arti banyak harta, berguna dan bermanfaat, kebaikan dan ketaatan, atau Zakat.



Sedangkan tinjauan historis turunnya ayat 1-3 berkaitan dengan sifat  Al-‘Ash bin Wail, berbeda dengan penyampaian Quraish Shihab dalam tafsirnya, mengisahkan seorang tokoh Abu Sufyan ketika kebiasaannya menyembelih Unta tiap minggu kemudian datang anak yatim yang mau minta daging tapi di hardiknya, bahkan dikisahkan salah seorang pembesar kaum Quraisy mendorong anak yatim hingga jatuh, sedangkan kisah azbabun Nuzulnya ayat 4-7, berkenaan dengan Abdullah Bin Ubay dan sifat2 orang munafik yang hanya mau shalat ketika berada di lingkungan kaum muslimin.  Jika tidak berada di lingkungan muslim, mereka tinggalkan shalatnya, mereka melakukan shalat dengan riya’, dan meninggalkan apabila tidak ada yang melihatnya serta menolak memberikan bantuan kepada orang miskin dan anak yatim ( Riwayat ibnu Mudzir ).



Terdapat 5 ciri para Pendusta Agama menurut QS. Al-Ma’un

Pada kisah Azbabun Nuzul diatas menunjukkan betapa pentingnya keterlibatan sosial dan pembelaan sosial kepada masyarakat miskin, minoritas, kaum lemah dan pentingya membela ketidakadilan serta menjustifikasi gerakan-gerakan sosial.  Jelas sekali bahwa surat ini memberikan petunjuk bahwa kesalehan ritual tidak menjadi bermakna tanpa kesalehan sosial.



Tinjauan ayat diatas menyatakan terdapat 5 para pendusta agama, dari kelima cirri-ciri tersebut lebih banyak melibatkan hal yang bersifat sosial, berikut cirri-ciri para pendusta agama menurut QS. Al-Ma’un:



1. Orang yang menghardik Anak Yatim

Pada ayat pertama Allah mengawali ayat dengan huruf Istifham pada lafad أرَأيْتَ dengan mengandung pertanyaan, bukan berarti Allah SWT. Tidak tahu terhadap siapa para pendusta agama, bahkan  menurut Jalaluddin As-Suyuti mempunyai arti هَلْ عَرَفْتَ (tahukah kamu), namun sebaliknya maksud pertanyaan tersebut untuk memberikan ketertarikan kepada pendengar terhadap informasi penting yang sebentar lagi akan disampaikan, oleh karena itu pada ayat kedua menunjukan bahwa yang termasuk pendusta agama adalah penghardik anak yatim diawali Fa’ Jawab pada lafadl فذلك الذي…  yaitu sebagai Fa’ Jawab dari kalimat tafsiran sebelumnya (al-Nasafi) yang mempunyai tafsiran وَإنْ لَمْ تَعْرِف (dan jika kamu tidak mengetahui) sehingga terjawab dengan ayat “maka itulah Orang yang menghardik Anak Yatim”.



2. Orang yang tidak menganjurkan memberi makan orang miskin

Sifat yang mendustakan hukum Allah SWT yang kedua adalah tidak terlibat dalam menyantuni orang miskin. Disini mempunyai tafsiran jangankan tidak memberikan makan, dengan tidak menganjurkan orang lain untuk tidak memberikan makan orang Miskin saja sudah tergolong para pendusta. Menurut Muhammad Abduh sebagian ulama menganggap sama, antara faqir dengan miskin itu. Rasul SAW bersabda:
لَيْسَ المِسْكِيْنُ بِهَذَا الطَّوَافِ الَّذِيْ يَطُوْفُ عَلَى النَّاسِ فَتَرَدَهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتانِ وَالتَّمرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ 

Bukanlah orang miskin, orang yang berkeliling mendatangi manusia yang mengharapkan sesuap atau dua suap makanan, sebutir atau dua butir buah-buahan (minta-minta). Para sahabat bertanya: Kalau begitu apa yang disebut orang miskin itu ya Rasulullah ? Rasul Shalla Allah alaihi wa Sallam bersabda:

الَّذِيْ لاَ يَجِدُ غِنَى يُغْنِيْهِ وَلاَ يفطن لَهُ فَيَتَصَدَّقَ عَلَيْهِ وَلاَ يَسْئأَلُ النَّاسَ شَيْئًا 

“Orang yang tidak memperoleh kemampuan untuk mencukupinya dan tidak mempunyai keahlian (berusaha) dan tidak pernah minta-minta kepada manusia sedikit pun, maka berikanlah kepada mereka sidqah”  Hr.Bukhari dan Muslim.



Orang yang termasuk miskin sebagaimana tersirat dalam hadits itulah yang mesti disantuni oleh yang memiliki kemampuan. Jika tidak memiliki kemampuan harta, maka minimal memberikan fasilitas lain untuk terlaksananya pengentasan kemiskinan yaitu dengan cara menganjurkan orang yang mampu untuk memberikan Makan terhadap orang Miskin.



3. Orang yang celaka karena lalai dalam Sholatnya

Perkataan ويل pada فَوَيْلٌ (maka celakalah)  menurut Ibn Abbas mempunyai dua ma’na yaitu (1) شدَّة العَذَاب  (siksaan yang amat sangat), dan (2) وَادٍ فِي جَهَنَّم (satu lembah siksaan di neraka jahannam). Muhammad Ali al-Syaukani mengutip berbagai pandangan ahli Stilistika bahasa menerangkan bahwa ويل berasal dari وَي yang berarti betapa menyedihkan atau menyakitkan. Perkataan lain yang mengandung unsur ejekan, celaan, antara lain ويح – ويس – ويك – ويب (celakalah, mampuslah, hancurlah). Perkataan المصلين merupakan bentuk jama’ dari المصلي (orang yang shalat). Seperti apakah orang yang shalat tapi masih mengalami kerugian itu? Yaitu orang yang lalai dalam sholatnya.



Siapakah yang tergolong lalai dalam Sholatnya menurut Imam al-Syaukani? Berdasarkan arti lafadl سَاهون dalam shalat mengandung beberapa arti antara lain;

a) Melalaikan waktunya sehingga shalatnya tidak tepat waktu, menunggunya hingga habis,

b)  Lengah dari apa yang dilakukannya, sehingga tidak menghayati apa yang dilakukan dan diucapkannya dalam shalat,

c) Lalai dari syarat, rukun dan apa yang diwajibkan dalam shalat, sehingga tidak sempurna ruku, sujud atau yang lainnya,

d) Tidak konsentrasi dalam shalatnya sehingga jauh dari khusyu,

e) Melakukan shalat tidak seperti apa yang dicontohkan Rasulullah

f) Melakukan shalat tidak serius, asal-asalan, tidak sungguh-sungguh,

g) Shalatnya tidak dimanfestasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga apa yang diikrarkan dalam shalat tidak dilaksanakan di luar shalat.



 Ketujuh diatas akan mengalami kerugian, karena termasuk lalai dari shalatnya.



4. Orang-orang yang berbuat Riya’

Menurut Ibn Abbas, sebagaimana dikutip al-Suyuthi, نزلت في المنافقين كانوا يراؤون المؤمنين بصلاتهم إذا حضروا ويتركونها إذا غابوا ayat ini secara historis turun berkaitan dengan orang munafiq yang suka riya dalam shalatnya. Mereka melakukan shalat tatkala dilihat mu`min, tapi tidak dilihatnya mereka meninggalkannya.  Ditinjau dari sudut bahasa, perkataan يُرَاءُون ingin dilihat asal usulnya sama dengan رَأى melihat. Jadi menurut bahasa riya itu berarti ingin dilihat orang, baik dalam sikap maupun amalnya.



Menurut Al-Jurjani, الرياء   ترك الإخلاص في العمل بملاحظة غير الله فيه 

Ria ialah tidak ikhlash dalam beramal, karena dilatarbelakangi selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala  di dalamnya.
  

 Al-Munawi, mengatakan  الرياء   الفعل المقصود به رؤية الخلق غفلة عن الخالق  riya ialah berbuat sesuatu untuk dilihat oleh makhluq dan melupakan kepentingan keridoan khaliq



Menurut al-Ghazali, riya ialah ibadah kepada Allah SWT tapi bertujuan untuk mendapatkan tempat terpuji di hati manusia. Penerapannya bisa dengan tubuh, ucapan, sikap maupun tindakan. Bahkan  orang yang sengaja menggunakan seragam tertentu supaya dikenal masyarakat sebagai orang sufi, termasuk riya’.



Wahbah al-Zuhayli mengungkap beberapa contoh yang termasuk riya, tapi tidak diketahui manusia antara lain: (1) bersikap ramah dalam sikap supaya mendapat kedudukan atau pujian manusia, (menjilat dan mencari muka). (2) berpakaian lusuh atau compang camping supaya dianggap zuhud. (3) menyampaikan kata-kata yang menggambarkan kebencian pada dunia, mengungkapkan penyesalan pada orang lain tatkala tidak bisa berbuat baik dan tidak sempat ibadah. (4)memperbaiki shalat dan zakat tatkala dilihat orang lain.



5. Enggan (menolong dengan) barang berguna (Enggan Berzakat)

Perkataan الْمَاعُون pada ayat ini menurut Ali bin Abi Thalib adalah Zakat, menurut Ibn Abbas adalah pinjaman, menurut Ibn Umar adalah shadaqah. Menurut Qurais Shihab adalah  Orang yang tidak mau memberi pinjaman, atau menahan zakat atau tidak mau bersedekah termasuk kategori menahan yang berguna.



Ibn al-Qayim al-Jauziyah, berpendapat الرياء ضد الاخلاص  ومنع الماعون ضد الاحسان  (riya merupakan lawan kata dari ikhlash, dan mencegah al-ma’un merupakan lawan kata ihsan/ berbuat baik. 



Dengan demikian ayat 6 mencela orang yang tidak benar menjalin hubungan dengan Allah, dan ayat yang ketujuh melambangkan keburukan orang yang tidak baik menjalin hubungan dengan sesama manusia.  Al-Syafi’iy, berpendapat orang yang mendustakan agama berdasar akhir surat ini adalah yang tidak benar shalatnya sebagaimana digambarkan pada ayat 6 dan yang tidak benar zakatnya seperti pada ayat terakhir.



Hikmah penafsiran QS. Al-Ma’un

Kelima pendusta agama yang tercantum dalam surat al-Ma’un adalah harus berstatus penganut agama Islam disamping dan dinyatakan belum syah keagamaan seseorang apabila hanya mementingkan ibadah ritual belaka tanpa memenuhi kewajiban yang bersifat sosial, begitu pula sebaliknya.



Jadi yang termasuk pendusta agama menurut QS. Al-Maun, Al-Zuhayli berpendapat bahwa surat al-Ma’un ini mengandung beberapa implikasi antara lain:

a) Sifat munafiq yaitu

(1) melalaikan shalat,

(2) riya, dan

(3) kikir.

b) sifat pendusta hari akhir yaitu

(1) menelantarkan anak yatim, tidak memenuhi haknya, atau menghardiknya,

(2) meninggalkan perbuatan baik dengan tidak mendorong untuk menyantuni orang miskin,

(3) kikir.

c) penduduk neraka wail adalah orang yang

(1) melalaikan shalat,

(2) riya,

(3) enggan memberi bantuan

Implikasi dari surat Al-Ma’un diatas mengandung Ibroh yang mencakup seluruh prinsip dasar keagmaan untuk di Implimentasikan, yaitu mencakup dua prinsip hidup  antara Intern dan Ekstern. 1. Intern, mencakup ibadah ritual yang tepat, disipiln, khusyu dan ikhlash dan bebas dari riya, 2. Ekstern, meliputi menjalin hubungan baik dengan sesama manusia seperti memelihara anak yatim, menyantuni orang miskin, memberi bantuan pada orang yang membutuhkannya. 

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy