21 September 2020

Pergi dan Kembali

Oleh: Sri Pink Girl’s* 


Disaat burung-burung melambaikan sayapnya, disaat sungai mengalirkan airnya, disaat mata menitikkan air matanya, hatiku terkapar, jiwaku terguncang, kacau. Batinku menjerit dan mulutku kalut terkunci rapat. Kepedihan telah mengakhiri kisah cintaku. Dia begitu kejam meninggalkanku dalam semalaman, hingga tak satupun bintang bersinar dari kegelapan awan mendung. Mendung itu menenggelamkanku.
Saat itulah aku kehilangan sesosok bintang. Kehilangannya telah menjadikanku sesosok mayat hingga akupun lupa bahwa aku masih berada di dunia ini. Dan, saat itu hidupku hampa tak ada sedikitpun senyuman yang dapat kusunggingkan.
20 Agustus 2012
Dua tahun berlalu, aku tak mendengar tentangnya. Namun . . . . . saudaraku mengingkari akan janjiku. Dia menyuruhku untuk minta maaf padanya dan dia menyuruhku untuk menjadi perempuan yang lembut dan pemaaf. Entahlah, walau bukan aku yang salah, aku mengerti bahwa keputusanku semata untuk membuatku tenang. Keputusan yang kuambil bukan hal yang mudah untuk kulakukan.
27 Agustus 2012
“Masfkan aku, De’ . . . ” bintang itu berkata dengan suara khasnya.
“Kenapa kau bilang seperti itu, Bin? Kau tak punya salah padaku,” tanyaku meyakinkan pertanyaannya.
“Yach, kau adalah perempuan yang pernah kukhianati dan kusakiti. Mungkin tak pantas bagiku untuk mendapatkan kata maaf dari perempuan lembut sepertimu.”
Mataku kembali berkaca-kaca. Penghianatannya padaku mulai terbayang kembali.
“Bin, hapuslah semuanya. Lupakanlah kenangan kita yang pernah kita bingkai bersama, dan anggaplah tidak ada apa-apa, karena aku bukanlah adekmu dan kamu bukan bintangku lagi. Bukankah kau sudah bahagia dengan perempuan yang kau impikan? Kau harus tahu, bahwa sekarang aku adalah perempuan dewasa,”
“Terus sejak kapan kau dewasa?”
“Sejak penderitaan menghampiriku dan sejak kau tancapkan kuku-kukumu ke dalam jiwaku. Yakinlah sesungguhnya aku sudah memaafkanmu. Namun jangan kau ungkit masa silam itu, karena bagiku masa silam itu sudah basi dalam kehidupanku. Walau ada luka, kisah tanpa hatimu dan air mata kehilanganmu.”
28 Agustus 2012
“De’ . . . sekarang sudah malam terakhir. Besok kau akan melangkah kembali ke bumi Annuqayah. Namun, di malam terakhir ini akan kuberikan bekal untuk kau renungkan dan fikirkan.
JODOH itu rahasia Allah.
Jika Allah tidak menulis JODOH kita dengan kekasih kita,
kita tetap tidak akan bersamanya.
Karena tulang rusuk dan pemiliknya takkan pernah tertukar,
dan akan bertemu dengan pemiliknya
Pengorbanan adalah jawaban yang paling mulia dari ikatan cinta suci. Yach, ketika aku tak bisa memiliknya karena dia telah pergi untuk cinta yang lain. Namun, sekarang datang kembali untuk memancarkan sinar yang telah lama hilang.
Batu Dinding, 28 Agustus 2012-07-29
* Koord. P2K
Pakar edisi XV, 21 Januari 2013 M.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy