28.9 C
Indonesia
17 Juni 2019
Agama Hikmah

Perkembangan Tarekat


Oleh Khalwani Ahmad*

Bulan April 1879, LCW Van Den Berg, yang ketika merupakan Ahli Belanda terkemuka mengenai Islam, mengemukakan didepan perhimpunan Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia bahwa sebegitu jauh ia tida menemukan tarekat [Naqsyabandiyah] di Nusantara. Empat tahun kemudian ia meralat sendiri pendapatnya itu dan memberikan uraian yang membenarkan bahwa tarekat [Naqsyabandiyah] telah diamalkan oleh orang Aceh, Jawa Tengah dan Jawa Timur[1].
Zamakhsyari Dhofier menyatakan bahwa para ahli sejerah Islam di Indonesia dapat mengemukakan bukti-bukti tentang perkembangan tarekat-tarekat dimulai abad ke-16. Prof. Rinkes misalnnya menyebutkan bahwa tarekat Syattariyah mula-mula dikembangkan oleh Abdurrouf Singkel. Kemudian menyebar ke Jawa Barat dibawah pimpinan Abdul Muhyi Pamijahan, yang merupakan murid Abdurrouf Singkel. Demikian juga tarekat Qodiriyah, bermula dari Aceh dibawah pimpinan Hamzah Fansuri yang selama hidupnya banyak berkelana ke berbagai daerah, termasuk Jawa untuk menyebarkan tarekat Qodiriyah.
Dalam abad ke-19, tarekat-tarekat di Indonesia memperoleh semangat dan dukungan dari Masyarakat . hal ini disebabkan oleh kedatangan para pengikut Syekh Khotib Sambas dan Sulaiman Effendi dari Mekah. Dari penelitian terhadap dokumen Belanda, Prof. Sartono Kartodirjo menyimpulkan bahwa pada umumnya tarekat Naqsyabandiyah merupakan tarekat terbanyak pengikutnya di abad ke-19, kemudian disusul tarekat Qodiriyah dan Sammaniyah, disamping itu, adapula sejumlah tarekat lainya seperti Rahmaniyah, Rifaiyah, dan tarekat lainya dalam jumlah kecil[2].
Menurut Prof. Badri Yatim Tarekat-tarekat yang berkembang di Makkah sampai pada abad 19 adalah tarekat yang bernuansa syariah, seperti Qadiriyah, Naqsabandiyah atau Sammaniyah. Sedangkan tarekat Syattariyah yang cenderung lebih filosofis, menjadi berkurang pengikutnya dan kemudian tidak berkembang lagi. Bahkan menurut Snouck, “tarekat Syattariyah sudah lama ketinggalan zaman. Diakhir abad 19 nama tarekat inipun rupanya sudah terlupakan”. Dari semua tarekat tersebut, Naqsabandiyah adalah tarekat yang memiliki pengikut lebih banyak[3].  
Melihat perkembangan tarekat yang begitu massif pada abad ke-19, tanggal 5 September 1886, K.F. Holle, yang bertempat tinggal di Waspada Bandung dan pada saat itu menjadi penasehat kehormatan untuk urusan Bumi Putera, mengirim sebuah laporan yang nadanya mengkhawatirkan dan bersifat sangat rahasia kepada gubernur jendral di Batavia tentang “kebangkitan Naqsyabandiyah yang membahayakan. Tarekat Naqsyabandiyah yang ada di Priangan sejak tiga puluh tahun silam, akhir-akhir ini telah berkembang dengan pesat sekali, khususnya di daerah Cianjur, dimana hampir seluruh bangsawan telah bergabung dengan tarekat ini. Demikian berbahayanya perkembangan ini sehingga Holle memandang tidak perlu menyatakan secara eksplisit. Maksud dan tujuan Holle adalah mau menujukan sebab-sebab utama meningkatnya fanatisme tersebut dan menyarankan tindakan-tindakan yang tepat untuk membendungnya.
Dari saran K.F Holle ini kemudian gerakan tarekat dicurigai oleh pemerintah Kolonial, dan pengikut tarekat mulai berkurang, atas Saran Holle Juga pemerintah Belanda dalam menghadapi gerakan tarekat tidak mentolerir sedikitpun karena dianggap dapat menggoyahkan kewibawaan mereka. Ketakutan ini timbul karena tarekat dianggap dapat membawa pengikutnya menjadi pemberontak. Ketakutan pemerintah Belanda terhadap tarekat juga timbul karena ketakutan adanya perlawanan seperti yang pernah dilakukan oleh tarekat Sanusiyah terhadap kolonialisme Perancis. Sebagai mana contoh peristiwa Cianjur tahun 1885, pemberontakan Cilegon tahun 1888, dan di kemudian waktu persitiwa Garut 1919, membuat pemerintah Belanda semakin terhadap aktivitas gerakan tarekat. Di Banten sendiri, setelah kejadian 1888, para haji dan anggota tarekat banyak yang ditangkap dan kemudian diasingkan.
Pengikut tarekat juga semakin berkurang karena ada kritikan pedas Sayyid Ustman dan Salim bin sumair. Usaha Salim bin Sumair yang mengkritik Syekh Ismail Minangkabau karena mengajarkan tarekat kepada masyarakat awam. Di kemudian waktu, dengan kondisi masyarakat yang berbeda, Sayyid Usman juga mengkritik tarekat. Hal yang sama seterusnya juga  dilakukan oleh Ahmad Khatib Minangkabau [lawan Sayyid Usman dalam polemik shalat jum’at di Palembang] pada waktu yang tidak jauh berbeda[4].Dengan kata lain, bisa terlihat bahwa tarekat pada masa itu bukan saja berkembang dengan sangat pesat, tetapi juga mendapat kritikan yang cukup serius. Di kemudian waktu, kritikan ini juga dilakukan oleh gerakan pembaruan seiring dengan proses modernisasi dalam dunia Islam di Indonesia.


[1] Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah Di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1992), h. 32.
[2] Sartono Kartodirjo, The Peasen Revolt Of Banten In 1888: Its Conditions Course And Sequel, ( The Haqque Nederlansche Boek-En Steen-Drukkerikc V/H Smith, 1966), h. 177-158.
[3] Badri Yatim, Perubahan Sosial Politik di Hijaz 1800-1925 dan Pengaruhnya Terhadap lembaga dan Kehidupan Keagamaan (Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah, 1998) Disertasi, h. 307.
[4]Kareel Steenbrink, Kawan Dalam Pertikaian, (Bandung, Mizan,) h. 194.

Related posts

Arkoun; Logosentrisme dan Dekontruksi Ideologis

PENA SANTRI

Sudahkan Kita Baca Quran Hari Ini?

PENA SANTRI

Darah Keluar Saat Hamil, Haid Atau Bukan?

admin

Mengenal Suhuf Musa A.S

admin

Di Antara Keajaiban Kelahiran Nabi Saw (Bagian I)

PENA SANTRI

Menyempurnakan Wudhu (2)

admin

Leave a Comment