30.1 C
Indonesia
8 Desember 2019
Perusak NU yang selalu Mengaku NU

Perusak NU yang Selalu Mengaku NU

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi kemasyarakatan (Ormas) keagamaan yang terbesar di Indonesia. Kebesaran NU tak hanya terlihat pada seberapa banyak jumlah (kuantitas) warganya, pun juga bukan hanya dilihat dari seberapa besar suara NU di dengar oleh masyarakat Indonesia. Kebesaran NU terlihat pada seberapa besar ia memberi sumbangsih ide pemikiran, gagasan dan gerakan kongket untuk keutuhan dan kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Sebagai ormas besar, tentu NU tidak lantas (ujuk-ujuk) besar dengan sendirinya. Kebesaran dan kegemilangan NU tidak bisa dilepaskan dengan ketulusan doa dan perjuangan para founding father-nya yang terdiri dari para wali Allah. Kegigihan para penggeraknya di setiap masa. Serta ketangguhan kader-kader penerusnya. Bahkan turut membesarkan NU adalah isu dan tantangan yang menghadangnya ti tengah dialektika perjalanan organisasi tersebut.

Sejak sedia kala batu pertama NU di letakkan sebagai ormas moderat yang bersumpah setia mengawal keutuhan NKRI, NU mesti berani berhadapan dengan monster besar yang berusaha mengggulingkannya. Dalam sejarahnya, NU telah dipersekusi dengan berbagai isu miring yang berusaha menjatuhkan reputasinya, Kita dapat melihat kembali bebeapa lawan menghadang kejayaan NU dari masa ke masa sebagaimana berikut.

Pada zaman Hadratussyeikh KH. Hasyim Asyari, NU dituduh pro penjajah Jepang. Nu di tuduh turut andil dalam menggerakkan kerja rodi tanam paksa. Isunya, NU mememerintah warga Nusantara, terutama para warganya untuk menanam padi yang pada akhirnya padi digunakan oleh Jepang.

Pada dasarnya, Mbah Hasyim dan Mbah Hasbullah sebagai lokomotif utama NU pertamakalinya sudah dipersekusi dengan isu miring. Sebagai pewaris ilmu pengetahuan dan janggkar gerakan NU, beberapa ulama di masanya dicemooh dengan isu keterikatannya dengan para penjajah.

NU zaman KH. Wahab Hasbullah:
Dituduh PKI karena menerima nasakom

NU zaman KH. Bisri Syansuri :
Dituduh takut pada pemimpin yg dzolim karena justru memberhentikan Kyai Subhan ZE pengurus PBNU yang paling vokal mengritik orde baru.

NU zaman KH. Achmad Sidiq :
Dituduh keislamannya goyah karena menerima Pancasila sebagai asas tunggal.

NU zaman KH. Abdurrahman Wahid :
Lebih dulu dituduh Liberal, antek Zionis, agen Syiah, Kafir, dll.

NU zaman KH. Hasyim Muzadi:
Kyai yang secara khusus mendampingi Jokowi saat umroh beberapa hari menjelang pencoblosan capres 2014 ini juga dituduh Syiah karena pembelaannya terhadap nuklir Iran, masa kepemimpinannya banyak mengirimkan mahasiswa ke Iran.

KH. Said Aqil Siradj :
Pimpinannya dituduh Syiah, Liberal, Sesat, Kafir dll.

Jadi, dari zaman dulu hingga sekarang, orang-orang yang ngomongin NU sekalipun ngaku NU dibagi menjadi dua. Pertama, yang ta’dzim dan ikut merawat NU, insyaallah dapat barokahnya NU. Kedua, yang membenci NU dengan membenci pimpinan NU, menggerogoti martabat NU dengan tidak ada ta’dzim dan sering menghina pimpinan NU, insyaallah akan dapat kuwalatnya NU, sekalipun ngakunya NU.

يا جبار يا قهار

Bahkan pada hari ini, ada sekelompok perusak NU yang selalu mengaku NU, mengklaim dirinya ikut NU-nya Mbah Hasyim Asy’ari. Bahkan mereka kepar kali bertutur bahwa NU sekarang melenceng, berbeda dengan NU dulu,

Maka pertanyaanya, sebenernya NU jaman siapakah yangg dianggap baik dan terbebas dari tuduhan miring? Silahkan sadar, bahwa sepanjang sejarah NU meraka tidak tinggal diam untuk merongrong dan hendak menghancurkan NU. Maka kesimpulannya, siapa saja di antara kita dan bahkan mereka yang suka ngaku, mengklaim dirinya paling NU, sedangkan dirinya masih saja terus mencari celah untuk menuduh menyudutkan NU, berarti ia bukan warga NU. Titik.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy