26.2 C
Indonesia
23 September 2019
Pesan Pengarang pada Karyanya 1

Pesan Pengarang pada Karyanya

Apa yang saya punya dalam hidup ini? Nafas, penglihatan, rasa, dan segalanya hasil menyewa pada Tuhan. Pun, dari saking tak punya apa-apa, membaca karya orang lain malasnya luar biasa. Malas membaca karya orang lain bukan berarti tidak suka membaca, lo, ya. Dari kemalasan itulah saya takut-takut untukĀ  menuliskan sesuatu. Takut yang tertulis hanya omong-kosong atau penyesatan belaka.

Saya ini, kata saya sendiri, adalah pengarang. Atau sebut sajalah sebagai penulis fiksi. Kekurangan diri sebagai pengarang cukup berbahaya kalau dihadapkan dengan tugas makalah dari dosen. Sebagaimana pengarang, kalau mentok, tak ada lagi yang dapat dijadikan referensi dalam makalah, akhirnya dikarang-karang juga. Untuk kasus ini, jangan menganggap saya mengarang yang bukan-bukan. Selayaknya pengarang, tentu berusaha sebaik mungkin agar sesuatu yang ditulisnya diterima akal oleh pembaca.

Satu bulan lebih, identitas diri yang menyukai karangan mulai berkurang. Tahulah, bahwa ada pengarang yang tidak dapat menulis karena emosinya terganggu, walau sebagian malah baru bisa menulis kalau kondisinya demikian. Jujur, barangkali, saya tidak mengarang hampir dua bulan ini tersebab emosi saya terganggu. Pikiran terlalu banyak berharap daripada bersimulasi perihal keadaan dunia. Ah, jadinya saya terkesan curhat, kan. Ya tak apalah, wong kebanyakan penulis, atau pemikir, dia hanya curhat tentang pemikirannya saja tanpa memikirkan pembaca mau membacanya tau tidak.

Perihal satu bulan lebih tak mengarang, barangkali, kondisi lainnya adalah saya terlalu takut sesuatu yang saya tulis tak ada pembaca. Kalaupun ada, saya takut pembaca tak mengerti sesuatu yang saya tulis. Ketakutan ini muncul saat teman yang saya beri buku–saya beri karena ditawari untuk beli tak mau–mengatakan yang saya tulis terlalu tinggi bahasanya. Aih, terlalu tinggi bagaimana, tanyaku. Teman tadi melanjutkan, ya terlalu tinggi saja, tak dapat dimengerti. Dari kalimat itu saya sadar, sepertinya tak layak menjadi penulis, apalagi pengarang. Meskipun tak layak, bukan berarti saya akan berhenti mengarang. Kalaupun tak ada pembaca, saya bertekad mengarang untuk diri saya sendiri. Kelak, semisal menyewa nyawa dari Tuhan ini sampai pada masa tua, saya akan membaca karangan itu. Anggaplah, pada saat itu saya sedang bercakap-cakap dengan diri saya yang masih muda. Saya rasa, itu satu-satunya cara agar saya tetap mengarang.

Saya menulis begini-begini karena mengaggap diri tak bisa apa-apa, karena memang tak memiliki apa-apa. Rasa, emosi, dan keadaan yang saya jalani hasil pinjaman semua. Tapi kok, saya malah merasa frustasi, tak terima, dan jengkel saat rasa dan keadaan itu direnggut? Apa saya terlalu sombong mengakui ketidakterimaan itu? Atau, pembaca tulisan ini pernah tak terima pula pada sesuatu yang hanya menyewa tersebut? Ah, pembaca katanya. Mana ada pembaca untuk curhatan ego seperti ini? Hush, kalaupun tak ada pembaca, barangkali bisa saya baca di lain kesempatan saat saya merasa memiliki sesuatu yang padahal hanya menyewa seperti yang tersebutkan tadi.

Kalau saja saya bisa memahami diri lewat karangan yang pernah saya tulis, barangkali di sanalah saya. Sayangnya, sampai saat ini saya tak paham. Sifat dari saat pertama saya mengarang sampai saat ini berubah-ubah. Karakter diri seperti bunglon. Ah, untuk menyerupai bunglon terlalu pas sepertinya, lebih tepat itu seperti rasa. Karakter diri berubah-ubah seperti rasa. Satu bulan yang lalu mengatakan suka, kemudian dua minggu berikutnya menyatakan tak lagi suka. Tiga tahun lalu menyatakan cinta setengah mati, hari ini menyatakan sudah dimiliki orang lain. Manusia, oh, manusia. Betapa banyak kata-kata yang terbuang percuma? Kata-kata hanya menjadi hiasan. Dan saya rasa hanya karangan saja yang akan selalu ada meski dia tak ada pembaca.

Semoga, sesuatu yang telah dikarang tidak berubah-ubah seperti rasa. Semisal saat ini saya mengarang tentang Tutorial Menjadi Tuhan, kemudian satu tahun berikutnya malah menjadi Tutorial Menjadi Setan, kan lucu. Kisah yang pernah tercipta, pesan saya sebagai pengarangmu, tetaplah menjadi kisah sebagaimana saya menciptakanmu di awal-awal. Tak peduli kisahmu jelek, buruk rupa, atau tak dapat dimengerti, tetaplah menjadi kisah yang tidak ingkar pada pengarangnya. Jangan memberontak, biar tak menjadi sampah sejarah.[]


Ali Mukaddas adalah Alumni PP. Annuqayah yang sedang menempuh pendidikan S1 di UNUSIA Jakarta

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy