26.5 C
Indonesia
25 Agustus 2019

Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)

Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo) 1


Pesantren, sebagai institusi pendidikan Islam tertua di NusantaraPesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[1] memiliki riwayat jaringan keulamaan yang kokoh. Seorang perintis pesantren tidak dapat dipisahkan dengan pesantren yang lainnya. Begitu pula dengan tokoh ulamanya yang sambung-menyambung bertalian antara satu tokoh dengan tokoh selainnya. Baik secara keilmuan dan atau nasab kekerabatan. Bersamaan dengan itu pula, akar sejarah pesantren dapat ditelusuri hingga titik pangkalnnya.
Sebagian besar para sejarawan meletakkan Syaikh Maulana Malik Ibrahim—di tanah Jawa masyhur dengan sebutan nama Syaikh Maghribi—dari Gujarat India sebagai peletak batu dasar pesantren nusantara. Agus Sunyoto misalnya, dalam gambar peta persebaran Wali Songo di Nusantara menuliskan Syaikh Ibrahim sebagai peletak dasar pertama pesantren di Nusantara.Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[2] Mohammad Said dan Junimar Affan menyebut Sunan Ampel (Raden Rahmat) sebagai pendiri pesantren pertama kali di Kembang Kuning Surabaya.Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[3] Bahkan Kyai Machrus Aly menginformasikan bahwa di samping Sunan Ampel, ada yang menganggap Sunan Gunung Jati (Syaikh Syarif Hidayatullah) di Cirebon sebagai pendiri pesantren pertama sewaktu mengasingkan diri bersama pengikutnya  dalam khalwat, beribadan secara istiqamah untuk ber-taqarrub kepada Allah.Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[4]
Dalam perspektif Syed Muhammad Naquib al-Attas, Maulana  Malik Ibrahim  oleh kebanyakan ahli sejarah  dikenal sebagai penyebar pertama Islam  di Jawa yang mengislamkan wilayahwilayah pesisir utara Jawa, bahkan berkali-kali mencoba menyadarkan raja Hindu-Budha Majapahit, Vikramawardhana (berkuasa 788-833/1386-1429) agar mau masuk Islam.Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[5] Sementara itu, diidentifikasi bahwa pesantren mulai eksis sejak munculnya masyarakat Islam di Nusantara.Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[6] Akan tetapi mengingat pesantren yang dirintis Maulana Malik Ibrahim itu belum jelas sistemnya, maka keberadaannya masih spekulatif dan diragukan.Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[7]
Dalam konteks ini, analisis Lembaga Riset Islam (Pesantren Luhur) cukup cermat dan dapat dipegangi sebagai pedoman dalam memecahkan teka teki siapa pendiri pesantren pertama kali di Jawa. Dikatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim  sebagai peletak  dasar pertama sendi berdirinya pesantren, sedang Raden Rahmat, putranya sebagai wali pertama di Jawa Timur.Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[8]
Adapun Sunan Gunung Jati mendirikan pesantren sesudah Sunan Ampel, bukan bersamaan. Teori kematian kedua wali ini menyebutkan  bahwa Sunan Ampel wafat tahun 1467 M, sedang Sunan Gunung Jati wafat tahun 1570 M, jadi terpaut 103 tahun. Karena itu, pandangan bahwa Sunan Gunung Jati  sebagai pendiri pesantren pertama mungkin saja benar, tetapi khusus di wilayah Cirebon  atau secara umum Jawa Barat dan bukan di Jawa secara keseluruhan.Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[9]
Bersamaan dnegna ini di Jawa bagian barat didirikan Pesantren Al-Kahfi Somalangu merupakan Pondok Pesantren yang telah terhitung cukup tua keberadaannya. Karena Pondok Pesantren ini telah ada semenjak tahun 1475 M. Adapun tahun dan waktu berdirinya dapat kita ketahui diantaranya melalui Prasasti Batu Zamrud Siberia (Emerald Fuchsite) berbobot 9 kg yang ada di dalam Masjid Pondok Pesantren tersebut.
Sebagaimana diketahui menurut keterangan yang dihimpun oleh para ahli sejarah bahwa ciri khas Pondok Pesantren yang didirikan pada awal purmulaan Islam masuk di Nusantara adalah bahwa di dalam Pondok Pesantren itu dipastikan adanya sebuah Masjid. Dan pendirian Masjid ini sesuai dengan kebiasaan waktu itu merupakan bagian dari pendirian sebuah Pesantren yang terkait dengannya. Pesantren ini resmi berdiri semenjak tanggal 25 Sya’ban 879 H atau bersamaan dengan Rabu, 4 Januari 1475 M. Pendirinya adalah Syekh As Sayid Abdul Kahfi Al Hasani. Beliau semula merupakan seorang tokoh ulama yang berasal dari Hadhramaut, Yaman. Lahir pada tanggal 15 Sya’ban 827 H di kampung Jamhar, Syihr. Datang ke Jawa tahun 852 H/1448 M ketika masa pemerintahan Prabu Kertawijaya Majapahit atau yang dikenal dengan julukannya Prabu Brawijaya I (1447 – 1451).


Lanjutkan Baca di sini Clik


Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[1] Sebelum tahun 1960, pesantren dikenal dengan nama pondok. Istilah pondok barangkali  berasal dari pengertian asrama-asrama para santri atau tempat tinggal yang dibuat dari bambu, atau barangkali berasal dari kata Arab, funduq,  yang artinya hotel atau asrama. Perkataan  pesantren berasal dari kata santri, yang dengan awalan
Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[2] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Hidakarya Agung, 1985), h. 231. Lihat juga Soeparlan Soerjopratondo dan M. Syarif, Kapita Selekta Pondok Pesantren (Jakarta: Paryu Barokah, tt), h. 6. Dan Saifuddin Zuhri, Kyai Haji Abdul Wahab Khasbullah Bapak Pendiri Nahdhatul Ulama (Yogyakarta: Pustaka Falakiah, 1983), h. 103.
Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[3] Muh. Said dan Junimar Affan, Mendidik dari Zaman ke Zaman (Bandung: Jemmars, 1987), h. 53.
Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[4] Machrus Aly, Hakikat Cita  Pondok Pesantren‖, dalam Soeparlan Soerjopratondo dan M. Syarif,  Kapita Selekta Pondok Pesantren (Jakarta: Paryu Barkah, tt), h. 40.
Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[5] SMN al-Attas, Preliminary Statement on a General Theory of The Islamization of MalayIndonesian Archipelago (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka,  1969), h. 12-13.
Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[6] Ahmad Qadry Abdillah Azizy, ―Pengantar: Memberdayakan Pesantren dan Madrasah‖ dalam Ismail SM, Nurul Huda dan Abd Kholiq, ed,  Dinamika Pesantren dan Madrasah (Yogyakarta: Kerjasama IAIN Walisongo Semarang dengan Pustaka Pelajar, 2002), h. vii.
Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[7] 2Berbeda dengan Maulana Malik Ibrahim, putranya yaitu Raden Rahmat –yang dikenal dengan Sunan Ampel—tinggal melanjutkan missi suci perjuangan ayahnya. Ketika Raden Rahmat berjuang, kondisi religio psikologis dan religio sosial masyarakat Jawa  lebih terbuka  dan  toleran untuk menerima ajaran baru yang dikumandangkan dari tanah Arab. Raden Rahmat memanfaatkan momentum  tersebut dengan memainkan peran  yang menentukan dalam proses Islamisasi, termasuk mendirikan pusat pendidikan, yang kemudian dikenal dengan Pesantren Kembang Kuning  Surabaya, dengan bentuk pesantren yang lebih konkret dari peninggalan sang ayah.
Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[8] Lembaga  Riset Islam (Pesantren Luhur), Sejarah dan Dakwah Islamiyah Sunan Giri (Malang: Panitia  Penelitian dan pemugaran Sunan Giri Gresik, 1975), h. 53.
Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)[9] Jika benar bahwa pesantren telah dirintis Maulana  Malik Ibrahim sebagai penyebar Islam pertama di jawa maka bisa dipahami apabila peneliti sejarah dengan cepat mengambil kesimpulan  bahwa pesantren adalah suatu model pendidikan yang sama tuanya dengan Islam di Indonesia. Periksa misalnya Sunyoto, ―Pondok Pesantren dalam Alam Pendidikan Nasional‖, dalam M. Dawam Rahardjo, ed., Pesantren dan Pembaharuan (Jakarta: LP3ES, 1995), h. 65; M. Ali Haidar,  Nahdhatul Ulama dan Islam di Indonesia Pendekata Fikih dalam Politik (Jakarta: Gramedia  Pustaka Utama, 1994), h. 84

*Penulis adalah Mahasiswa UNUSIA Jakarta yang alumni PP. Annuqayah Madura

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy