27 November 2020

Pesantren Al-Khoziny Waspadai Maraknya Paham Radikal

Pena santri : Pesantren Waspadai Maraknya Radikalisme
Pena santri : Pesantren Waspadai Maraknya Radikalisme


Penasantri.id, Jakarta-Pimpinan Pondok Pesantren Al-Khoziny Jiput, Kabupaten Pandeglang, KH. Khazinul Asror mengatakan, hampir di semua pondok pesantren tidak menginginkan santrinya menjadi terorisme atau melakukan tindakan radikalisme.

Hal tersebut bukan disebabkan sistem kurikulum pendidikan yang salah. Tetapi ada upaya diluar sistem yang mempengaruhi para santri, seperti lingkungan dan pengaruh media sosial (medsos),” kata Pimpinan Ponpes Al-Khoziny KH. Khozinul Asror yang juga aktif dalam presidium FSPP Kabupaten Pandeglang saat acara Seminar Deradikalisasi untuk para pelajar dan santri serta pengajar di Lingkungan Kabupaten Pandeglang, di Aula Majelis Taklim Ponpes Al Khoziny, Desa Kadutomo, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, Rabu (11/4/2018).

Menurut KH. Asror, untuk menghadapi tantangan tersebut, ponpesnya melakukan sistem pengawasan dengan memberikan pemahaman agama secara komprehensif ke para santri dan santriwati.
”Maka kami sebagai pendidik di ponpes punya strategi yang keras, yakni memberikan pemahaman agama ke santri secara berkelanjutan. Karena masalah sumbernya adalah ketidakpahaman dan hal itu timbul karena ilmu yang diterima setengah-setengah. Sehingga mereka mencari jawaban sendiri dan parahnya mereka mencari,” tuturnya.

Sementara itu, Pengurus Pusat Lembaga Dakwah PBNU KH. Ahmad Shodiq mengatakan, radikalisme agama berawal dari keinginan memaksakan kehendak bahwa orang lain harus sama pemikiran, sama pedoman. Sehingga ketika perbedaan tersebut dianggap prinsipil, maka akan timbul sifat intoleransi. Sehingga, bisa terjadi sikap keras dan brutal yang sering kita sebut radikal.

”Melihat pilihan wajah agama yang beragam. Seharusnya kita kembali pada nilai etik Alquran dan Sunnah sebagai panduan utama. Dua hal inilah warisan Rasulullah SAW, yang tak terkira nilainya. Jika kembali pada keduanya, kita akan mendapat ajaran yang ramah dan bukan marah,” ucapnya.
Untuk itu, Achmad Shodiq mengimbau para dai, penyuluh agama atau sejenisnya, agar menyampaikan ajaran agama dengan cara yang baik sehingga dapat diterima khalayak.

”Status hukum dakwah tetap wajib, karenanya tidak mungkin dihindari. Sampaikanlah kebaikan Islam dengan tuturan yang sopan, tindakan yang santun dan perangai yang luhur. Biarkan orang di luar Islam menilainya secara objektif. Tak perlu kita paksa mereka mengakui ajaran kita sebagai yang terbaik dan paling sempurna. Lalu kita marah jika mereka tidak menerima ajaran kita. Ini bukan karakter Islam,” ucapnya.

Suritauladan Nabi Besar Muhammad SAW, lanjut Shodiq, tidak pernah memaksakan kehendak untuk membuat manusia lainnya agar mengikuti ajaran yang dibawa. Sikap tersebut merupakan contoh yang membuktikan bahwa hidayah hanya atas seizin Allah.

”Rasulullah SAW saja tidak kuasa memaksa hidayah pada orang-orang terdekatnya. Apalagi umatnya yang penuh kelemahan ini. Meski demikian, Allah SWT sangat mampu menjadikan manusia di atas bumi ini beriman seluruhnya tanpa kecuali. Tetapi hal itu tidak dilakukan-Nya. Allah SWT akan mengecam siapa pun yang memaksakan keimanan pada pihak lain,” ujarnya. (Iman Fathurohman)*

Sumeber: Kabar Banten

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy