27 C
Indonesia
27 Juni 2019
Penasantri Islam dan Tarekat
Esai Islam Lokal

Pesantren dan Tarekat

Tarekat pada dasarnya merupakan suatu metode atau cara yang harus ditempuh seorang salik (orang yang menempuh kehidupan sufistik), dalam rangka membersihkan jiwanya sehinga dapat mendekatkan diri kepada Allah swt. Metode tersebut pada mulanya dilakukan oleh seorang sufi besar, kemudian diikuti oleh murid-muridnya yang akhirnya membentuk suatu jamiyyah (organisasi)[1].
Pada mulanya organisasi tarekat ini muncul di daratan Timur Tengah. Setelah itu, menyebar ke seluruh pelosok dunia, tidak terkecuali Indonesia. Menurut Pranowo tarekat bukanlah fenomena yang sederhana, sebagaimana di Indonesia muncul Banyak tarekat[2]. Adanya tarekat-tarekat kesufian di tanah air boleh dikatakan merupakan salah satu gejala keagamaan Islam yang menonjol. Hal ini sangat terkait dengan proses Islamisasi di Nusantara.  Berdasarkan suatu teori bahwa Islam datang ke Nusantara ini melalui gerakan kesufian dalam tarekat-tarekat. Azyumardi Azra menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia atau Nusantara dibawa oleh para sufi yang gencar mengadakan pengembaraan, terutama sejak abad ke13, setelah keruntuhan Bahgdad atas Mongolia.
Para sufi pengembara, waktu itu, memainkan peran yang cukup penting dalam memelihara keutuhan Dunia Muslim dengan menghadapi tantangan kecenderungan pengepingan kawasan-kawasan kekhalifaan ke dalam wilayah-wilayah linguistik Arab, Persi dan Turki. Pada masa ini tarekat sufi secara bertahap menjadi institusi yang stabil dan disiplin, dan mengembangkan afiliasi dengan kelompok-kelompok dagang dan kerajinan tangan yang turut membentuk masyarakat urban[3]. Senada dengan Azra, Martin Van Bruinesen juga menyatakan bahwa Islam sebagaimana yang diajarkan kepada orang Nusantara yang pertama memeluk Isalam adalah sangat diwarnai oleh berbagai ajaran dan amalan sufi.
Menurut perkiraan para peneliti, penyebaran Islam ke  Indonesia telah berlangsung sejak abad ke-13 M. A.H. Johns, seorang  ahli filologi Australia menyatakan bahwa persebaran agama Islam yang sejak abad ke-13 makin lama makin meluas di kepulauan  Indonesia ini, terutama terjadi berkat usaha para penyiar ajaran mistik Islam (sufi). Para penyiar itu menjadi anggota aliran mistik Islam (tariqat) yang melarikan diri dari  Baghdad ketika kota itu diserbu tentara Mongol pada tahun 1258 M[4].
Tarkat-tarekat Di Indonesia mulai berkembang pada abad ke 17. Tarekat-tarekat mendapat pengikut awal dari lingkungan istana, kemudian menyebar ke kalangan masyarakat awam. Para anggota kerajaan maupun tokoh masyarakat mengunjungi tanah Arab ketika berhaji maupun menimba ilmu dan berbaiat menjadi pengikut sejumlah tarekat, mereka kemudian menyebarkan ajaran tarekat ke Indonesia, tarekat yang berkembang di Indonesia diawali dari tarekat Syatariyah, kemudian Nagsyabandiyah, khalwatiyah dan menyusul tarekat-tarekat lainya[5].
Di Indonesia, pada awal penyebarannya, tarekat tidak bisa dilepaskan dari institusi pondok pesantren. Seperti halnya, salah seorang anak Jaka Tingkir yaitu Pangeran Benawa, yang diperkirakan hidup pada awal abad ke-17 di Kudus Jawa Tengah. Meskipun beliau mempunyai keturunan ningrat, beliau lebih menyukai kehidupan religius daripada terlibat dalam kerajaan keluarganya. Pangeran Benawa menghabiskan seluruh hidupnya di pondok pesantren yang ada di Kudus dengan menjadi guru tarekat[6].
Selain menjadi pusat pengajaran keilmuan Islam, pesantren juga men jadi pusat gerakan tasawuf, dalam hal ini tarekat. Menurut Zamakhsyari Dhofiier, sebenarnya yang menjadi landasan pengajaran tarekat di pesantren adalah ajaran-ajaran nabi sendiri, terutama tentang tiga pilar ajaran Islam yaitu, Islam, iman dan ihsan[7].
Hanya saja perlu diketahui bahwa tarekat yang dipahami di pesantren tidak hanya menunjuk pada tarekat yang dipahami selama ini, tetapi juga dipahami sebagai suatu kepatuhan secara ketat kepada peraturan-peraturan syariah Islam dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, baik yang ber sifat ritual maupun sosial; yaitu dengan menjalankan praktek-praktek wira’i. Sebenarnya pemahaman seperti ini lebih identik pada tasawuf pada masa awal sebelum timbulnya organisasi-organisasi tarekat. Dalam masyarakat Islam telah berkembang amalan-amalan tarekat yang semata-mata merupakan aliran doktrin tasawuf. Oraganisasi-organisasi tarekat pada awal pertumbuhanya merupakan kelanjutan paham-paham tasawuf yang berkembang mulai abad ke Sembilan. Dan oleh karena itu istilah tarekat tetap dipakai sesuai dengan arti aslinya, yaitu suatu cara atau jalan yang ideal menuju kesisi Allah denganh menekankan pentingnya Aspek-aspek doktrin disamping pelaksanaan praktik-praktik ritual yang tidak menyeleweng dari contoh-contoh yang diberikan oleh Nabi Muhammad.
Dengan demikian ada dua bentuk tarekat yang berlaku di pesantren, pertama tarekat yang diperaktekkan menurut cara yang dilakukan oleh organisasi-organisasi tarekat, dan kedua, tarekat yang dipraktekkan menurut cara-cara diluar ketentuan organisasi tarekat. Dalam kategori pertama tidak semua pesantren menjadi penganut tarekat tertentu, tetapi dalam pemahaman kedua barang kali dapat dipastikan bahwa semua pesantren menjadi pengamal tarekat. Dan perlu diketahui juga bahwa Kedua bentuk tarekat yang dijalankan oleh pesantren ini pada akhirnya akan menjadi sumber spritualisme dalam Islam.
 Magister Sejarah Peradaban Islam Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia 


[1] Lihat Mirce Aliade (ed.), The Encyclopedia of Islam, Vol. 14 (New York: Macmillan Publishing Co. 1987), h. 342.
[2] Mahmud Sujuthi, Politik Tarekat Qodiriyah dan Naqsabandiyah Jombang, h. 52.
[3] Lihat Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timut Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1994), h. 33.
[4] Simuh , Sufisme Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa, (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1999), cet. III, h. 50-51.
[5] Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren danTarekat, (Yogyakarta: Gading Publishing, 2012), h. 237.
[6] Saifullah Ma’sum, Menepak Jejak Mengenal  Watak, (Jakarta: Prisma, 1994), hal. 58
[7] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai, (Jakarta: LP3ES, 1994), h. 136.

Related posts

Agama Damai Itu Bernama Islam

admin

Khilafah, Khalifah, Hoax, dan Terorisme

admin

Sekilas Tentang Perkembangan Tafsir

Putri Adelia

Residu Sosial di Medan Dakwah

admin

Tentang Bagaimana Mengatur Prasangka

PENA SANTRI

Berkenalan dengan Nuansa Fikih Sosial

Ahmad Fairozi

Leave a Comment