5 Desember 2020

Pesantren Nurul Jali dan Nilai-nilai Tradisional

Oleh: Ashimuddin Musa*

Pesantren adalah lembaga pendidikan yang dibangun guna untuk membumikan Islam. Pesantren di Indonesia adalah lembaga pendidikan yang bertujuan untuk mencerdaskan anak bangsa di bidang agama Islam. Dengan demikian, jenis pendidikan ini diyakini sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia telah dipandang sukses mengubah wajah keagamaan, yang sebelumnya menganut agama Hindu-Buddha menjadi muslim yang taat beribadah. Beragam strategi yang dilakukan oleh para pelaku sejarah dalam membumikan Islam di Indonesia ini.

Mereka melakukan beberapa langkah strategis, yang mana langkah tersebut belum pernah dilakukan oleh Negara-negara lain, yang pada saat bersamaan juga melakukan terobosan guna mewujudkan Islam yang mudah diserap masyarakat setempat. Terobosan tersebut adalah dengan mengintegrasikan ajaran-ajaran Rasulullah SAW kepada masyarakat, tanpa intimidasi dan memberangus tradisi dan kearifan local yang sebelumnya sudah dianut masyarakat setempat.

Menurut Aguk Irawan M.N. (2018: 361), keberhasilan membumikan Islam sehingga berhasil mendapat sentuhan afirmasi dan apresiasi masyarakat karena dua factor, yaitu selain factor internal ajaran Islam itu sendiri, juga karena factor eksternal—di mana pembawa ajaran ini mendapat dukungan dari struktur penguasa kerajaan Islam di masa itu: yaitu pada abad ke-15 hingga abad ke-16, di antaranya: kerajaan Pasai; kerajaan Demak; kerajaan Banten; kerajaan Kutai; dan lain-lain.

Tidak terkecuali di Madura, yang menurut Fathurrahman (2018: 18), merupakan suatu daerah yang sejak lama telah menjadi basis penyebaran agama Islam. Masyarakat kian hari kiat menguat seiring dan senafas dengan tumbuh dan berkembangnya kerajaan Islam di pulau garam tersebut. Lebih lanjut Fathurrahman menjelaskan, bahwa komunitas-komunitas (Islam) ini semakin kuat dengan banyaknya pondok-pondok pesantren, madrasah, dan majlis taklim.

Nilai-Nilai Tradisional dan Tantangannya

Banyak cara yang dilakukan komunitas pesantren dalam rangka membumikan nilai-nilai keislaman ini ke dalam kehidupan sehari-hari para santri agar tidak punah. Seperti menanamkan pendidikan akhlak, pendidikan moral, agama, dan adat-istiadat. Dalam istilah pesantren, istilah ini dikenal dengan sebutan nilai-nilai tradisional. Prof. Dr. KH. Abd A’la, M.Ag., misalnya, ketika memberikan kata pengantar pada buku ‘Menjaga Warisan Nusantara: Guru Ngaji Langgar (Tangtangan Tradisi dan Dakwah)‘ menganggap penting adanya rumusan applicable pemaknaan moralitas luhur itu kedalam konteks kekinian. Mengingat bahwa kesalehan sosial bangsa akhir-akhir ini kian pupus dari kehidupan para santri dan beresiko ditinggalkan.

Berkenaan dengan begitu mendesaknya rumusan ini, dia kemudian menyuguhkan salah satu hasil penelitian S.S Rehman dan Hossein Askari yang menyebutkan, tingkat kesalehan sosial bangsa, seperti kejujuran, etos kerja, keadilan, tidak korupsi, dan mengedepankan kesetaraan, berada pada urutan 140 dari 208 negara yang diteliti. Urutan pertama yang mengedepankan kesalahan sosial justru New Zealand. Terlepas penelitian ini benar atau salah, menurut Prof. KH. A’la, kenyataannya fenomena kehidupan di sekitar kita membenarkan hasil penelitian itu. Dibuktikan dengan kehidupan santri atau masyarakat di sekitar kita saat ini meskipun sebagian besar mereka adalah orang-orang yang taat beribadah, serta memiliki kesalehan individual tinggi, tapi kesalehan sosial mereka tampak masih rendah, minimal masih perlu dipertanyakan. Salah satu pesantren yang bersikukuh mempertahankan nilai-nilai tradisional ini, meskipun dengan segala resiko dan tantangan yang dihadapinya, adalah pesantren Nurul Jali.

Pesantren Nurul Jali diambil dari nama pendirinya, Syekh Jali, asal Pragaan Sumenep. Pesantren ini letaknya berada di dusun Prang Alas Pakamban Daya Pragaan Sumenep Madura. Banyak mungkin yang menganggap asing nama pesantren ini, karena banyaknya yang kurang tahu-menahu ihwal sejarah berdiri dan kiprahnya dalam mambangun masyakat yang agamis dan reigius, disebabkan belum masuk dalam catatan sejarah. Akan tetapi, peran pesantren ini cukup besar dalam mencetak kader santri yang agamis, memiliki pemahaman keagamaan yang luas, tangguh, dan berideologi ahlussunnah waljamaah.

Dalam meneladani strategi politik dakwah para Walisongo, pesantren Nurul Jali juga tidak membatasi pendidikannya pada satu ruang atau bangunan saja, melainkan para tokoh berdakwah dengan cara melakukan perluasan wilayah. Mereka mendirikan langgar-langgar atau surau-surau di beberapa dusun dan kampung yang berbeda-beda.

Belum diketahui persisnya tahun didirikannya pesantren ini. Yang jelas, Nurul Jali dibangun di kediaman Timur, tempat langgar kuno, yang digunakan sebagai media bimbingan belajar Alquran bagi santri perempuan. Sebabnya, cucu-cucu Kyai Jali seperti diceritakan di muka, banyak yang mendirikan kediaman di dusun dan atau kampung berbeda, dan pada saat yang sama memulai dakwahnya di sana. Akan tetapi menurut penuturan Gus Khairi Rumi, cucu Kyai Jali, sistem pendidikan Kyai Jali dulu dalam membimbing santri-santri belajar ilmu agama adalah menggunakan langgar.

Untuk melanjutkan kiprah perjuangan Kyai Jali, dan demi memenuhi permintaan masyarakat yang haus pendidikan agama, dengan demikian, keturunan Kyai Jali, dengan penuh keterbatasannya, melanjutkan dakwah  dilakukan dengan penuh sederhana; seperti yang kita saksikan saat ini yaitu pendirian masjid atau langgar dan surau di kampung-kampung yang berbeda. Masyarakat mengapresiasi betul. Dibuktikan dengan bertambah-banyaknya masyarakat yang mulai memasrahkan putra-putrinya ke langgar-langgar dan surau-surau tersebut.

Namun, seiring pergeseran zaman, kekhawatiran para kyai pesantren Nurul Jali mulai tumbuh. Ketika Arus globalisasi dan midernisasi yang kapitalistik yang belakangan marak diperbincangkan masyarakat, dengan tawaran-tawaran manisnya itu, mulai berhasil mengubah pola fikir masyarakat pada umumnya, sehingga mereka menganggap nilai-nilai adat tradisional dan moralitas yang diwarisi secara turun-temurun mulai dipandang sebelah mata. Mereka (santri) yang mengaku modern mulai meremehkan nilai-nilai tradisi lokal luhur yang tertanam kuat sebelumnya di masyarakat tersebut. Pendidikan pesantren atau langgar  tampak kian sulit mendapatkan dukungan dari masyarakat luas. Oleh sebab itu, pesantren ini menilai penting perlunya solusi. Dengan demikian, perlunya penguatan nilai-nilai tradisional melalui penguasaan kitab-kitab klasik warisan ulama klasik sebagai alternatifnya.

Sebagai upaya untuk mengejawantahkan misi tersebut, pesantren Nurul Jali kembali membimbing santri-santrinya penguatan nilai-nilai tradisional sebagai kelanjutan dari tahun-tahun kemarennya, yaitu kursus Ramadlan. Kursus Ramadlan diletakkan di langgar Al-Falah, dusun Bara Oro di bawah asuhan Kyai Abd Syakur, yang beliau sendiri merupakan menantu dari Nyai Hamdiyyah, putri pendiri pesantren Nurul Jali (Syekh Jali) itu sendiri. Pendidikan ini bertujuan agar santri bisa menguasai kitab turats dan ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti ilmu nahwu, sharraf, tajwid, fikih, mantik, balagha, dan lain-lain. Teknik memahami teks per lafadz dirasa penting, sehingga santri dapat mengerti bagaimana menerjemahkan kitab berbahasa Arab sesuai aturan gramatikal, mantik, balagha, nahwu, sharaf, dan lain sebagainya.

Pesantren Nurul Jali menganngap penting mempertahankan tradisi lokal luhur agar tidak luntur. Mengingat banyak remaja saat ini mulai terpapar virus arus globalisasi dan modernisasi. Adapun anak-anak mulai berani terhadap orang tuanya; santri-santri mulai meniru gaya hidup Barat, seperti meniru cara berpakain mini dan terbuka, yang dirasa sangat bertentangan dengan nilai-nilai tradisional sebagaimana dipertahankan selama ini, adalah bukti dari pengaruh globalisasi ini. Adalah kehadiran teknologi telah mengubah watak dan kepribadian anak muda.

Meskipun kehadiran teknologi diyakini sebagai embrio kejahatan, kyai dan ustadz—sampai batas tertentu—tidak melakukan pelarangan menggunakan teknologi—misalnya HP dan TV—karena hal tersebut termasuk membunuh sesuatu yang memang menjadi bagian hak-hak prerogatifnya, tetapi mereka hanya memberikan batas penggunaannya saja, mengurangi pemakai HP/menonton televise, guna agar para santri bisa menghindari efek negative yang ditimbulkan oleh modernsasi. Sikap demikian inilah diambil para Kyai Nurul Jali ketika membumikan nilai-nilai tradisional dengan cara damai.

Dengan demikian, sikap oposisi yang dipraktekkan Kyai pesantren ini terhadap efek-efek negative modernisasi dan globalisasi ditujukan dengan cara mempertahankan tradisi-tradisi yang diwarisi secara turun-temurun dilakukan dengan pendekatan persuasif dan santun sehingga -sampai derajat tertentu- tidak sampai pada menghakiminya sebagai doa besar, melainkan dilakukan dengan memberikan pembatasan dan pembinaan dengan ramah dan damai. (*)

(* Penikmat buku tinggal di Ciputat. Alumni PP. Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy