24.6 C
Indonesia
18 Agustus 2019
Penasantri-Pesantren Pada Abad 17

Pesantren Pada Abad 17

Pesantren al-Falah Biru merupakan pesantren kelanjutan dari Pesantren Biru yang didirikan oleh Kyai Akmaludin – seorang penghulu Timbanganten/ Garut, pada 1749 M. Setelah Kyai Akmaludin meninggal, Pesantren Biru dipimpin dan dikelola oleh Kyai Fakarudin, Kyai Abdul Rosyid, Kyai Irfan, Kyai Abdul Qoim, Kyai Muhammad Adra’ie (Ama Biru).[1]
Setelah masa Raden Bagus Kyai Muhammad Adra’ie berakhir, lokasi Pesantren Biru dipindahkan ke Kampung Torikolot, dan diberi nama tambahan “al-Falah” yang dipimpin oleh putranya, Raden Kyai Muhammad Asnawi Kafrawi Faqieh (Bani-Faqieh). Kepemimpinan pesantren kemudian dilanjutkan oleh Syekh Badruzzaman, Kyai Bahrudin, Kyai Enjang Saepudin, dan Kyai Hanif Mamun Budi Kafrawi.[2]
Pada periode kepemimpinan Syekh Badruzaman[3], Pesantren al-Falah-Biru menjadi basis perjuangan dalam rangka menentang pendudukan Jepang dan Agresi Militer Belanda I. Pada masa pendudukan Jepang dan Agresi Militer Belanda II, Syekh Badruzaman pernah membentuk pasukan Hizbullah dan Hizbullah fi Sabilillah. Ia juga memimpin perlawanan terhadap penjajah Belanda dengan melakukan kaderisasi para mujahid melalui khalwat. Karena Pesantren al-Falah-Biru tidak aman dan sering menjadi sasaran serangan musuh, ia pernah mengungsi di Cikalong Wetan (Purawakarta), Padalarang, Majenang (Jawa Tengah) dan Taraju (Tasik). Meskipun dalam pengungsian, ia terus mengembangkan ilmu agama di tempat-tempat itu.[4]
Jaringan pengaruh internasional yakni India dan Arab yang mewarnai profil pesantren  pada awal berdirinya dapat juga ditelusuri  melalui teori kemazhaban.  Beberapa peneliti menemukan bahwa penyebar Islam di Indonesia adalah orang-orang Arab yang tinggal di Gujarat, Malabar dan Pantai Coromandel, India dan Arab waktu itu merupakan tempat-tempat yang subur bagi mazhab Syafi’i.[5]Pada sisi lain, juga ada pengaruh orang Iran baik yang Sunni maupun Syi’ah yang meninggalkan bekas-bekasnya berupa adat istiadat dan kebesaran, tetapi tidak menjadi kepercayaan dasar.[6]Pengaruh ini menyusup ke dalam paham para wali. Sunan Gunung Jati sebagai pendiri pesantren di Cirebon –menurut Hossein Djajadiningrat yang dilansir oleh Wiji Saksono—adalah berpaham Syi’ah Zaidiyah. Oleh karena itu, kalangan pesantren yang Sunni hingga sekarang  masih melestarikan tradisi Syi’ah.[7]
Pada awal rintisannya, pesantren bukan hanya menekankan missi pendidikan, tetapi juga dakwah sekaligus, dan justru missi kedua ini yang lebih menonjol. Lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia ini selalu mencari lokasi yang dapat menyalurkan  dakwah secara tepat  sasaran sehingga terjadi benturan antara nilai-nilai yang telah dibawanya dengan nilai-nilai yang telah mengakar di masyarakat setempat. Lazimnya, baik pesantren yang berdiri pada awal pertumbuhannya maupun yang berdiri pada abad ke-19 dan 20 masih juga menghadapi kerawanan-kerawanan sosial-keagamaan pada awal perjuangannya. Mastuhu melaporkan bahwa pada periode awalnya pesantren berjuang melawan agama dan kepercayaan serba Tuhan dan takhayyul,  pesantren tampil membawakan missi agama tauhid.[8]


[1]Ibid.,hlm. 123.
[2]Ikyan, wawancara 12 Desember 2011 dalam Ibid., hlm. 123-124.
[3] Pada 1933-1928, M. Raden KH Asnawi Muhammad Faqieh dan putranya Syekhuna Badruzzaman mengungsi dari kampung Al-Falah, untuk menyebarkan agama Islam di daerah Kab. Tasik yaitu Taraju/ Indularang yang masih menganut agama Hidnu yang kebetulan di daerah Garut sedang terjadi fitnah “Perintah Suntik” dari penjajah Belanda. Sepulang dari pengungsian pengajian dibuka lagi, pada waktu itu Pesantren Al-Falah Bitu mempunyai puluhan ribu murid bahkan pada masa penjajahan Jepang berjumlah ratusan ribu murid sehingga Jepang menyebutnya “Maha Raja” kepada KH. Faqieh yang dibantu oleh puteranya Syekhuna Badruzzaman, karena Jepang melihat kehebatan pengaruhnya melebihi yang lainnya. (Arifin, “Selayang Pandang Pesantren Al-Falah Biru”, http://biru-garut.blogspot.com, tanggal 30 Juni 2010 dalam Ibid., hlm. 124).
[4] Hanif, wawancara 28 Juli 2011 dalam Ibid., hlm. 124.
[5] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah danKepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII Melacak Akar-Akar  Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1994), h. 24. Lihat juga Hamka, Sejarah Umat Islam Jilid IV (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), h.  41, 53.
[6] 6Hamka,  Sejarah Umat Islam Jilid II (Jakarta: Bulan Bintang, 1976),  h. 53.
[7] 8Misalnya dibâ’, hawl, manâqîb, slamatan, bubur sura, ziarah kubur  dan  tawashshul. Tradisi tersebut  berasal dari Syi’ah yang dipertahankan pesantren sampai sekarang, yang posisinya  bertentangan dengan nikah mut’ah  dan imamah  yang  ditentangnya. Ada dugaan kuat bahwa tradisi ini melalui pintu pesantren yang dibina Sunan Gung Jati yang Syi’ah Zaidiyah itu, suatu kelompok syi’ah paling moderat, lebih mendekati Sunni sebab memiliki kesamaan konsep teologis sehingga memungkinkan  penyerapan tradisi  religiusnya  ke dalam kalangan sunni. 
[8] Mastuhu, ―Kiai Tanpa Pesantren: KH. Ali Yafie dalam Peta Kekuatan Sosial Islam Indonesia‖, dalam Jamal D. Rahman, ed. Wacana Baru Fiqih Sosial 70 Tahun KH. Ali yafie (Bandung: Mizan-Bank Muamalat Indonesia, 1997), h. 259-260. Pesantren juga berjuang melawan perbuatan maksiat seperti perkelahian, perampokan, pelacuran, perjudian dan sebagainya, sehingga akhirnya pesantren berhasil membasmi maksiat itu dan kemudian mengubahnya menjadi masyarakat aman dan rajin beribadah.Selain itu terkadang pesantren juga menghadapi penyerangan penguasa yang merasa  tersaingi kewibawaannya. Sebagai contoh Raden Paku (Sunan Giri) sewaktu merintis pondok pesantren di Keraton pernah terancam pembunuhan atas perintah Prabu Brawijaya (raja Majapahit).  Periksa Qomar, Pesantren, h. 11.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy