28.9 C
Indonesia
17 Juni 2019
Sosial Budaya

Pesantren Sebagai Pusat Spritualisme Islam: Pesantren Dan Tarekat

Martin Van Bruinesesn pada tahun 2001 dalam salah satu artikelnya menyatakatan bahwa sampai dua, tiga dasawarsa yang lalu, sebagian besar pengamat masyarakat muslim meramalkan bahwa tarekat dan ritual yang lazim dikaitkan dengan tarekat seperti dzikir, ratib, ziarah kubur, khaul, baiat, hormat dan taat kepada syekh akan sedikit demi sedikit punah dalam masyarakat modern. Ritual-ritual tersebut sering dikaitkan dengan kehidupan desa atau lingkungan kota yang paling tradisional, sedangkan lingkungan kota modern dianggap cenderung ke paham Islam modernis atau pemurnian. Pada masa kini, masyarakat sedang mengalami proses modernasi dan urbanisasi, yaitu perkembangan kota-kota besar dan perpindahan dari daerah pedesaan ke kota. Oleh karena itu masuk akal kalau kehidupan agama juga berubah sesuai dengan perubahan ekonomi dan social, yaitu perubahan dari islam tradisional yang sarat pengaruh tasawuf kepada Islam pemurnian, atau sekularisasi dan radikal[1].
Kini Sembilan belas tahun sudah pendapat tersebut diungkapkan, akan tetapi menurut hemat penulis justru perkembangan tarekat menunjukan signifikasinya, terlebih lagi ketika Habib Lutfi mengadakan beberapa kali muktamar tarekat tingkat dunia. Justru tarekat malah lebih berkembang dari masyarakat pedesaan merambah ke masyarakat perkotaan.
Kenapa hal demikian bisa terjadi..? karena tarekat yang merupakan sumber spritualisme Islam masih terjaga baik melalui pesantren. Selama masih ada pesantren ritual tarekat akan tetap terjaga, dan pesantren akan selalu menjadi pusat spiritualisme Islam.
Kiai Sahal dalam bukunya Nuansa fikih mengatakan bahwa kaum muslimin sekarang ini sedang dihadapkan pada tantangan perubahan. Perubahan-perubahan yang terjadi telah menggiring masyarakat dari orientasi pada nilai-nilai Islam kepada orientasi pada nilai-nilai ekonomi, hal ini berbahaya. Dewasa ini setiap kegiatan akan diperhitungkan sesuai dengan untung-rugi berdasarkan nilai ekonomi. Perbuatan apapun dilakukan tanpa memperhitungkan resikonya terhadap moral masyarakat, tapi didasarkan pada pertimbangan untung-rugi secara ekonomi[2].
Dengan demikian spiritualisme dalam mengambil suatu kebijakan harus tetap dikedepankan, hal ini ditujukan untuk kemaslahatan umat. Spiritualisme Islam itu pusatnya adalah pesantren. Bahkan Kiai Sahal sampai menyatakan bahaya apalagi suatu kebijakan hanya berorientasikan untung dan rugi saja. Berdasarkan sedikit uraian diatas, dalam makalah ini akan membahas mengenai pesantren sebagai pusat spritualisme Islam dan upaya menyebarkan spritualisme dalam berbagai aspek kehidupan.

Pesantren sebagai Pusat Spritualisme Islam
Pesantren sebagai pusat spritualisme menurut Gusdur adalah karena kehidupan pesantren yang diwarnai oleh asketisme yang dikombinir dengan kesediaan melakukan segenap perintah kyai guna memperoleh berkah kyai, sudah barang tentu memberikan bekas yang mendalam pada jiwa seorang santri, dan bekas inilah yang pada gilianya nanti akan membentuk sikap hidupnya sendiri. Sikap hidup bentukan pesantren ini, apabila dibawakan kedalam kehidupan masyarakat luar, sudah barang tentu pula akan menjadi pilihan ideal bagi sikap hidup rawan yang serba tak menentu yang merupakan ciri utama kondisi serba transisionil dalam masyarakat dewasa ini[3].

Pesantren sebagai pusat spirtualisme juga mempunyai hubungan timbal balik dengan masyarakat diluar pesantren. Hubungan timbal balik antara pesantren dan masyarakat luar ini meiliki dua tugas yaitu mengatur bimbingan spiritual dari pihak pesantren kepada masyarakat dalam soal-soal perdata agama (perkawinan, waris dll), dan soal ibadat ritual, dan pemeliharaan materil-finansil oleh masyarakat atas pesantren (dalam bentuk pengumpulan dana dll).
Bagi anggota masyarakat luar, kehidupan pesantren merupakan gambaran ideal yang tidak mungkin dapat direalisir dalam kehidupanya, dengan demikian pesantren adalah tempat yang dapat memberikan kekuatan spiritual kepadanya dalam saat-saat tertentu. Di samping itu, bagi pesantren yang menjadi pusat gerakan (tasawuf), terdapat daya tarik dalam kedudukan sebagai pusat gerakan. Tidak jarang pula faktor kharismatik yang dimiliki seorang kyai merupakan daya tarik yang kuat pula.
Pesantren dikatakan sebagai pusat spritual Islam karena dalam praktek kehidupannya selalu tercermin suatu sikap dan perilaku yang mengarah pada ajaran tazkiyatun nufus [pembersihan hati] dan ajaran tentang fadha’il al-a’mal [keutamaan perilaku].
Sikap dan perilaku yang selalu mengarah pada tazkiyatun nufusseperti sabar, syukur, ikhlas pada akhirnya akan membentuk suatu nilai spiritualitas. Nilai spritualitas inilah yang kelak akan menjadi sumber kearifan dalam memutuskan segala sesuatunya bagi santri apabila telah kembali ke masyarakat. Sedangkan sikap dan perilaku yang mengarah pada ajaran tentang fadha’il al-a’mal berupa ritual-ritual mulia seperti sejumlah ibadah sunnah sebagai sebuah pelengkap terhadap tugas-tugas wajib yang ditentukan dalam syariah dan berupa akhlak yang mulia seperti ketaatan terhadap guru akan membentuk perilaku terpuji yang sangat diharapkan dan diimpikan masyarakat untuk menjadi teladan dan contoh.
Mastuhu mendefinisikan pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari ajaran, memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari[4].
Menurut K.H. Saifuddin Zuhri, yang juga diikuti oleh Dhofier, bahwa pesantren merupakan sebuah institusi sosio-kultural dan religius. Pesantren dikenal sebagai benteng pertahanan umat Islam (fortresses for the defence of the Islamic community) dan pusat penyebaran Islam (centre for the dissemination of Islam)[5]. Selain itu pesantren juga merupakan lembaga yang memiliki kaitan erat dengan sufisme. Hal ini terbukti dengan berbagai kitab tasawuf yang dikaji dalam pesantren seperti Ihya karangan Iman Alghazali.
K. H. A. Shahibulwafa Tajul Arifin, yang dikenal sebagai Abah Anom, berpendapat bahwa Sufisme berarti pembersihan hati dari hawa nafsu dan kecenderungan kecenderungan kejinya dengan mengajarkan latihan-latihan untuk mengendalikan hawa nafsu, mengembangkan watak mulia dan mengikuti semua ajaran Nabi Muhammad seteguh mungkin[6].
Posisi spiritualisme dalam dunia modern merupakan hal yang sangat penting, karena spiritualisme akan mengisi ruang-ruang kehidupan yang sangat luas. Sebagaimana John O. Voll menyatakan dimanakan posisi spiritualisme dalam kontek dunia modern..? ia menyatakan bahwa ada tiga komunitas yang selalu terlibat dalam proses kontinuitas dan perubahan peradaban Islam, setelah runtuhnya kekuatan politik Islam, yaitu ulama fikih, para pedagang Muslim (organisasi komersial)danasosiasi sufi(tarekat)[7]Yang disebut terakhir ini menurut John O. Voll pada awalnya merupakan kumpulan dari sekelompok murid yang hidup bersama dan menjalankan ajaran-ajaran sufi yang terkenal. Namun sejak abad ke-12, organisasi dari sekelompok ini menjadi semakin resmi dan tarekat menjadi berskala lebih luas menjadi asosiasi yang berdasarkan kesalehan. Mereka melakukan fungsi-fungsi yang ruang lingkupnya lebih luas, yang dapat meningkatkan integrasi dan kohesi (kesatuan sosial).
Spiritualitas yang diidentikkan dengan sufisme (tasawuf) dalam konteks modern sebetulnya memiliki posisi menarik, tasawuf ini merupakan bidang yang sangat potensial untuk memupuk rasa keagamaan para santri dan menuntun mereka memiliki budi pekerti mulia. Ini juga sebenarnya jika dicermati merupakan tujuan mempelajari tasawuf dan sekaligus tujuan belajar di pesantren. Karena membentuk budi pekerti mulia dan mempelajari tasawuf merupakan tujuan pesantren maka tidak salah jika pesantren menjadi pusat spiritualisme. Dan perlu diingat pula bahwa tasawuf  merupakan tulang punggung pesantren atau tiang penyangga pesantren dalam rangka membina akhlak mulia maka dapat dinyatakan bahwa pesantren merupakan lembaga pemelihara dan pengembang esensi tasawuf, sebagai subkulturnya[8].
Dengan demikian pesantren sebagai pusat spiritualisme Islam memiliki kaitan erat dengan sufisme. Melalui lembaga tradisional khas Indonesia inilah umat Islam banyak bergantung supaya dapat menghadapi kemajuan global secara arif karena pada dasarnya persoalan modernisasi yang paling besar dan mendasar adalah apakah seseorang dapat secara efektif memenuhi berbagai kebutuhan spiritualnya sendiri.
Nilai-nilai spiritual yang senantiasa diyakini dan diajarkan oleh para kiai pesantren dalam tahap tertentu menjadi bekal berharga bagi pengikutnya untuk menghadapi modernitas dan kemajuan zaman. Hal ini karena nilai-nilai tersebut tidak pernah tidak relevan bahkan kecenderungannya dari waktu ke waktu semakin banyak orang yang mengharapkan curahan nilai-nilai spiritual untuk membimbing hidup mereka. Semangat untuk membekali diri dengan nilai-nilai spiritual ini juga menjadi sarana untuk membangun sebuah konstruksi identitas yang melampaui pintu-pintu pesantren.
Pesantren dan tradisi spiritualitas menjadi sebuah identitas yang saling melekat. Keduanya sampai sekarang masih mengakar kuat dalam tradisi-tradisi pesantren salaf yang berada di berbagai wilayah di Indonesia. Suryadi Siregar menjelaskan bahwa pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri, yaitu tarekat. Pesantren mempunyai kaitan yang erat dengan tempat pendidikan yang khas bagi kaum sufi. Pendapat ini berdasarkan fakta bahwa penyiaran Islam di Indonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat. Hal ini ditandai oleh terbentuknya kelompok organisasi tarekat yang melaksanakan amalan-amalan zikir dan wirid tertentu.Pemimpin tarekatyang disebutKiai itu mewajibkan pengikutnyauntuk melaksanakansuluk, selamaempat puluhhari dalam satutahun dengancara tinggalbersama, sesamaangota tarekatdalam sebuahmasjid untuk melaksanakan ibadah-ibadah dibawa bimbingan Kiai.Untuk keperluansuluk inipara Kiai menyediakan ruangan khusus untuk penginapan dan tempat-tempat khususyang terdapatdi kiri kanan masjid.Disamping mengajarkanamalan-amalan tarekat,para pengikutitu juga diajarkan agamadalam berbagaicabang ilmu pengetahuaan agama Islam[9]
Pesantren sebagai pusat spritualisme Islam di Indonesia pada masa penjajahan menjadi bukti yang sangat jelas, bagaimana spritualisme Islam mampu membangkitkan nasionalisme dan menggerakan rakyat untuk melawan kolonial, tak pelak pada zaman penjajahan, pesantren  menjadi basis perjuangan kaum nasionalis pribumi. Banyak perlawananterhadap kaumkolonial yang berbasispada duniapesantren dantarekat. Sedertan tokoh yang menyandang gelarPahlawan yang berjasa dalam proses perjuangan melawan penjajah banyak bermunculan dari figur para kyai kyai Pesantren. Diantranya adalah; Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, hadrotus saikh Hasyim Asyari, Kyai Ahmad Dahlan dalam tokoh-tokoh lainnya. Fakta sejarah ini semakin menguatkan argumentasi bahwa pesantren di Indonesia tidak bisa dianggap sebelah mata, karena lembaga pendidikan klasik tersebut telah berkontribusi besar dalam pembentukan bangsa Indonesia.
Magister Sejarah Peradaban Islam Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia 


[1] Mahmud Sujuthi, Politik Tarekat Qodiriyah dan Naqsabandiyah Jombang, (Yogyakarta: Galang Press, 2001), h. xiii.
[2] M.A Sahal Mahfudh, Nuansa Fikih Sosial, (Yogyakarta: LKIS, 1994), h. 79.
[3] Abdurrahman Wahid, Bunga Rampai Pesantren, (Jakarta: Dharma Bakti, 1984), h. 17.
[4] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta: INIS, 1994), h. 55.
[5] Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia di Indonesia, (Bandung: al-Ma’arif, 1981), h. 616.
[6] K.H.A. Shahibul Wafa Tajul Arifin, Kunci Pembuka Dada, (Selangor: Thinker’s Library, 1988), h. 107.
[7] John Obert Voll, Islam, Continuity and Change in The Modern World, Terj. Ajad Sudrajat, (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1997), h. 38.
[8] Nidlomun Ni’am, Tasawuf sebagai Subkultur Pesantren, dalam Prof. Dr. Simuh dkk, Tasawuf dan Krisis, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), h. 170.
[9] Dr. Suryadi Siregar, Pondok Pesantren Sebagai Model Pendidikan Tinggi, (Bandung: Kampus STMIK Bandung, 1996), h. 2-4.

Related posts

Agama, Politik dan Masa depan Indonesia

admin

Sepintas Tentang Perang Paderi 1821-1837

admin

Narasi Islam Nusantara Habib Luthfi

PENA SANTRI

KH Hamid Kajoran Jelaskan Pancasila, KH Ali Maksum Menangis

PENA SANTRI

Menyoal Polemik RUU Permusikan

PENA SANTRI

Ihwal Sarung: dari Mulai untuk Berdoa, Bergaya, hingga Bercinta

admin

Leave a Comment