Pesona Islam Pesisir

Spread the love

Judul
Islam pesisir
Pengarang
Penerbit
LKiS, 2005
ISBN
9798451147, 9789798451140
Tebal
Peresensi
324 halaman
Muh Audi Yuni Mabruri*

Buku “Islam Pesisir” merupakan disertasi doktoral Nur Syam. Judul asli buku ini adalah “Tradisi Islam Lokal Pesisiran”. Penelitian mengambil latar wilayah pesisir utara, tepatnya daerah Palang, Tuban Jawa Timur. Ia Berusaha melihat bagaimana Islam dan tradisi masyarakatnya berkembang di sana.

Kajian Islam Pesisir telah menjadi kritis mendasar bagi para Indonesianis. Dalam tradisi Indonesia, kajian Islam Jawa cenderug hanya memotret latar masyarakt pedalaman dan pengunungan. Tradisi inilah yang membuat mereka melupakan masyarakat pesisir. Nur Syam mengusulkan hal baru. Kajian Islam Jawa harus lebih meyapa setting masyarakat pesisir.
Dalam buku tersebut, Nur Syam lalu merancang gagasan Islam pesisiran sebagai respon terhadap Indonesianis. Gagasan yang diutarakan antara lain: Pertama, melihat gambaran besar tentang konstruk sosial masyarakat pesisir terhadap tradisi Islam lokal (upacara). Konstruk sosial itu dilakukan melalui medan budaya (culture sphare) dalam ritus keseharian mereka. Kedua, memperoleh gambaran bagaimana tradisi Islam lokal (upacara) dalam konfigurasi varian-varian sosio-religiusitas (hal. 11). Dua gagasan  di atas dikaji menggunakan pendekatan etnografi, dengan cara melihat masyarakat pesisir melakukan ritual upacara seperti upacara lingkaran hidup, kalenderikal, upacara tolak balak, maupun upacara hari-hari baik.
Antropologi tradisi Islam lokal (upacara) memiliki dua aspek, yaitu ritual dan seremonial. Istilah ritual dan seremonial ini diambil dari Winnick. Winnick menggunakan ritual sebagai seperangkat tindakan keagamaan. Kemudian dimantabkan melalui tradisi atau ritus keeharian. Sedangkan pandangan Winnick tentang seremoni ialah sebuah pola tetap dari tingkah laku terkait variasi tahap kehidupan, tujuan keagamaan atau estetika dan perayaan kelompok partikular (hal.17).
Bangunan buku “Islam Pesisir” secara sengaja menggunakan cara berpikir Geertz. Agama oleh Geertz dipandang sebagai sistem kebudayaan. Konstruk sosial atas sistem kebudayaan tersebut merupakan hasil produksi dan reproduksi manusia. Hal ini dikuatkan oleh para ahli lain yang sama-sama melihat agama sebagai sistem kebudayaan.
Nur Syam lebih jauh menjelaskan, terdapat dua tipologi kajian Islam dalam konteks Islam lokal. Pertama, kajian Islam Iawa bercorak sinkretisme, yaitu perpaduan antara dua atau lebih budaya (Islam, Hindu, Buddha, dan Animisme) menjadi agama Jawa. Ketika agama lokal seperti ini didefinisikan dengan cara pandang Islam, definisi ini terkadang meleset. Ternyata agama Islam yang didefinisikan adalah agama sinkretisme. Hal ini senada dengan pendapat Geertz tentang sikretisme. Andrew Beatty memperkuat argumen sinkretisme Geertz dengan melihat lebih jauh tradisi slametan.Konsep sinkretisme dianggap masih mengaburkan subjek mana yang dominan dan yang tidak dominan, maka Niels Mulder memilih istilah lokalitas sebagai cara untuk melihat mana yang lebih dominan dalam percaturan agama Jawa. Bagi Mulder, Islam hanyalah baju luar dari jiwa masyarakat Jawa yang masih sepenuhnya bersifat kebatinan.
Pendapat berbeda datang dari Indonesianis kelahiran Schenectaday, New York, yaitu Mark Woodward. Woodward menolak pandangan sinkretisme, dan memunculkan corak baru yaitu akulturasi. Pandangan ini melihat Islam dan budaya lokal sebagai sesuatu yang akulturatif, sesuai dengan prosesnya masing-masing. Islam dan budaya lokal bukanlah sesuatu yang antonim tetapi kompatibel. Bukan sesuatu yang berdiri sendiri tetapi saling berkesinambungan.
Masing-masing tipologi di atas telah dijadikan banyak rujukan bagi kalangan akademisi yang menstudi kajian Islam Jawa. Namun, tidak menutup kemungkinan terdapat celah yang masih membutuhkan revisi. Semisal tipologi sinkretismekelemahan dari corak ini ialah pengabaian dialog antara islam dan budaya lokal. Islam dan budaya lokal yang sesungguhnya selalu bertalian, dalam hal ini absen dalam pembahasan Geertz dan para penyokong tipologi sinkretisme. Dalam corak akulturatif Woodward pun masih menyisakan pertayaan. Bagaimana Islam dipahami dan dikontruksi menjadi proses saling menerima? dan bagaimana Islam berkontribusi dalam konteks praktik ritual yang bersifat lokal?
Nur Syam merevisi corak sinkretisme Geertz, Beatty, dan Mulder serta corak akulturatif Woodward dengan mengusung suatu sintesis. Syam mengusung tipologi ketiga, yakni Islam kolaboratif.  Istilah ini untuk menggambarkan hubungan antara Islam dan budaya lokal yang bercorak akulturatif-sinkretik. Hubungan tersebut merupakan hasil konstruksi bersama antara agen (elit-elit lokal) dengan masyarakat dalam membentuk dialektika yang terjadi secara terus menerus. Lebih lanjut Nur Syam juga memberikan ciri dengan bangunan Islam yang bercorak khas (hal. 291). Dengan mengadopsi unsur lokal yang tidak bertentangan dengan Islam, dan melalui proses transformasi secara terus menerus dengan melegitimasi pemahaman atas interpretasi teks-teks Islam.
Tradisi Islam yang bercorak khas itu muncul dalam medan budaya (culture sphare). Dalam kaitan ini, medan budaya digunakan untuk melihat perjumpaan berbagai varian masyarakat yang ditemukan di wilayah pesisir. Medan budaya yang dimaksud Nur Syam adalah makam, sumur, dan masjid. Sumur dengan budaya nyadran, Makam dengan budaya manganan, dan Masjid sebagai lokus peribadatan.
Selain itu, Nur Syam juga membuat trikotomi baru, antara wong abangan, wong NU, dan wong Muhamadiyah. Kategori ini dibuat guna mencari interaksi antar agen yang nantinya mengarah pada suatu transformasi. Interaksi seimbang dilakukan oleh wong NU karena bisa berinteraksi dengan wong abangan dan wong Muhamadiyah. Sedangkan interaksi yang tidak seimbang dilakukan oleh wong abangan dan wong Muhamadiyah. Syam berpandangan wong NU merupakan jembatan antara wong abangan dan wong Muhamadiyah.
Adapun pisau bedah Syam dalam melihat masyarakat pesisir adalah teori sosial Weber, Berger, dan Schultz. Melalui tindakan, Weber memaknai tindakan identik dengan motif untuk tindakan (in order to motive), artinya untuk memahami tindakan individu haruslah dilihat dari motif apa yang mendasari tindakan tersebut. Schultz menambahkan dengan motif asli (because-motive) yang benar-benar mendasari tindakan oleh individu (hal. 36).
Dalam perkembangannya, pisau bedah Weber, oleh Syam dipaparkan menjadi tiga proposisi. Proposisi pertama dilekatkan pada masyarakat tradisonal, yakni saklarisasi, mistifikasi, dan mitologi terhadap budaya. Untuk menggambarkan bagaimana proposisi ini dimaknai, bisa diamati dalam tindakan ngalap berkah (in order to motive)Hal ini juga terkait dengan keyakinan bahwa makam, sumur, dan Masjid dipandang sebagai subjek sakral (because motive). Manusia dianggap sebagai entitas yang misterius dengan keperecayaannya pada benda-benda sakral. Proposisi kedua dilekatkan pada masyarakat modern. Desakralisasi, demistifikasi, dan demitologis dipandang sebagai objek (because motive). Menimbulkan tindakan rasionalitas (in order to motive) ketika medan budaya (culture sphare) dipandang sebagai benda-benda biasa. Masyarakat menggunakan rasionalitasnya dalam keyakinan-keyakinan mereka.
Hal berbeda dilakukan oleh masyarkat yang masih berada pada fase memasuki dunia modern atau masa transisional. Mereka melakukan dialog, antara dunia keyakinan dengan dunia rasional. resaklarisasi, remitologi, dan remistifikasi terhadap medan budaya. Dengan memandang alam sebagai subjek-objek sehingga menimbulkan tindakan rasionalitas. Hal demikian yang membuat teoritisasi weber tentang disenchanment of the world tidak bisa digunakan. Karena tindakan rasionalitas belum tentu mengubah tindakan religiusitas. Bahkan malah memadukan antara kedua menjadi tindakan yang disebut sebagai rasionalitas berkah. Berger menambahkan tentang konsep motif (pragmatic motive). Pengetahuan ditentukan oleh kepentingan individu. Manusia melakukan tindakan berdasarkan pengetahuan atas ada atau tidaknya suatu kepentingan. Demikianlah yang memicu percaturan antar individu.
Dalam analisis saya, Syam masih belum keluar dari lingkaran sinkritisme Geertz dan akulturasi Woodward. Dalam hemat saya, tawaran Islam Kolaboratif a la Syam tidak bisa lepas dari budaya yang bersifat seremonial. Di samping itu, buku Islam Pesisir ini masih menimbulkan pertanyaan, apa sebenarnya Islam pesisir? belum ada batasan secara tegas mana yang tergolong sebagai Islam pesisir, apakah istilah tersebut mengacu pada faktor geografis? atau tipologi akulturatif-sinkretik suatu masyarakat sebagaimana digambarkan Nur Syam? Bila jawabannya mengacu pada tipologi Islam Kolaboratif, maka tentu saja Islam Pesisir tidak selalu bermakna geografis karena tipologi tersebut bisa ditemukan di manapun, tidak terkecuali pada masyarakat dengan latar belakang pedalaman dan pengunungan []

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research dan mahasiswa jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir; Sekjen Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia, Tulungagung)

Sumber Tulisan: http://blog.iain-tulungagung.ac.id/pkij/2017/04/19/pesona-islam-pesisir/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: