Pesta Demokrasi, Pasar Politisi

Spread the love

Ahmad Fairozi*

Pesta Demokrasi, Pasar Politisi

{إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا } [الفتح: 10]

Artinya: Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu, Sesungguhnya merekaberjanji setia kepada Allah. tangan Allah di atas tangan mereka, Maka barangsiapa yang melanggarjanjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri danbarangsiapamenepati janjinya kepada Allah Maka Allah akan memberinya pahala yang besar. (Al-Fath 10)

Mengawali dari segalanya, berilah saya kesempatan menyapa para pembaca yang budiman dengan satu, dua pertanyaan. Sudahkah andah mendapat hak pilih di pesta demokrasiBupati Sumenep mendatang? Bagaimana anda menyikapi kondisi dekat pemilihan seperti sekarang ini? atau anda malah memilih apatis dengan situasi pemilihan ini, lantaran anda sudah tahu betul bahwa—hampir bisa dipastikan—setiap kali ada sesi pemilihan, ada cara yang berkeliaran. Mulai stiker yang dipajang sepanjang jalan, walau tanpa mereka sadari yang nampak dari kejauhan hanyalah baju dan giginya saja yang putih. entah, dengan hati dan sikap keperibadiannya saban hari. Ada lagi yang menggunakan jurus rubah wajah menjadi kyai dan ibu nyai. Untung tidak merubah diri menjadi Wali dan para Nabi. Entahlah aku takpaham lakon para politisi, sebab tugasku hari ini hanya nyantri. Sekian!

Sepenggal cuplikan ayat di atas mungkin cukup menarik kita bahas saat ini. Di saat semua orang mulai kegirangan menaruk harapan besar akan keadilan dan kemakmuran yang akan diperjuangkan oleh peminpin baru kita mendatang. Semoga saja ini menjad ikenyataan, bukan harapan yang hilang tenggelam di tengah kereakusan para pinpinan akan jabatan. Amin!Lalu apabila ada jaminan keadilan dan kemakmuran, saya akan membaiat kalian. Jika tidak, silahkan mundur dari barisan. Biar tidak hanya menjadi pajangan di sepanjang jalan.

Kembali ke-rubrik wacana Qur’an, ayat di atas mengajarkan kita akan ketundukankepada pinpinan. Bagaimana tidak, kalau konteks yang dibicarakan hingga menjadi sebabturunnya ayat tersebut adalah pada kewajiban tunduk akan segala perintah dan ketetapan Nabi Muhammad setelah menyatakan diri masuk Islam, baiat. Dan menurut Ibnu Khuldun, “bai’atadalah perjanjian untuk patuh dan taat kepada peminpin. Ketika seseorang berbaiat kepada pemimpinny aberarti dia berjanji bahwa dirinya akan senantiasa pasrah terhadap keputusan pemimpin tersebut baik dalam urusan dia sendiri maupun dalam urusan muslimin secara umum, dia berjanji tidak akan pernah menentang satupun dari keputusannya dan senantiasa menjalan kantugas-tugas yang dibebankan oleh pemimpin kepadanya, baik tugas-tugas itu sesuai dengan keinginan dia maupun tidak” (IbnuKhaldun, MuqoddimahIbnuKholdun, jilid 1, hal. 400.)

Sedangken secara etimologi kata Bai’at merupakan serapan dari bahasa arab, yang dalam aslinya berbentuk mashdar dari [باع – يبيع – بيعة]. Asalnya sama dengan بيع yaitu mempunyai arti transaksi, dimana kemudian dirubah pada wazan Mufa’alah menjadi (بايع – يبايع -مبايعة) yang mempunyai arti berbai’at (berjanji setia kepada Khalifah). Sehingga di antara peminpin dan yang dipinpinnya ada jalinan hubungan yang kuat. Dengan prosesi bai’at terjalinlah ikatan hukum berupa hak dan kewajiban serta tanggungjawab kedua belah pihak secara adil dan proposional. Adanya hak dan kewajiban ini merupakan hasil daribai’at.

Lalu, apabila kita sepakat kata baiat  berasala dari kata باع maka, saya akan mencoba menginterpretasi sepenggal cuplikan ayat tersebut. Di dalam transaksi jual berli, setidaknya harus terdapat penjual yang mempersentasikan barang yang hendak diperjul-belikan secara objektif mulai dari kualitas hingga cacat dan tidaknya harus dipaparkan. Kedua, pembeli. Pembali berhak bertanya sedemikian rupa tentang benda yang hendak diperjual belikan, hingga ia benar-benar yakin bahwa barang yang akan dibeli itu sesuai dengan apa yang ia inginkan (khiyar majlis). Selanjutnya, ketiga, ijab qobul. Diantara penjual dan pembeli harus ada serah terima sebagai pertanda bahwa barang itu telah benar-benar dialih-milikkan kepada pembeli. Setelah itu semua selesai, selama masa uji coba, masih ada khiyar syarat yang bisa disepakati oleh kedua belah pihak tanpa ada yang dirugikan. Khiyar syarat ini sebagai jaminan kepada pembeli.

Begitu pula dengan kasus baiat. Pertama, yang akan dibaiat harus memarkan secara terang-terangan siapa sebenarnya dan bagaimana hakikat keperibadian, watak, lakon dan lain sebagainya, hingga pembaiat benar-benar yakin bahwa ia memang pantas dijadikan peminpin. Namun realita yang ada hari ini, mereka yang mencalonkan diri untuk dibaiat/dipilih telah beberapa kali mandi susu hingga celahnya tak ketahuan dan sudah berulang kali gonta-ganti topeng untuk sekedar menutupi jejak hitamnya. Dan parahnya—benar atau tidak, saya tidak tahu—katanya ada yang sempai membeli satu surat suara seharga Rp. 150.000,-. Sungguh riskan melihat kultur kita.

Kedua, pembaiat berhak membanding-bandingkan dan memilih-milah para calon peminpin yang sudah mulai bulan kemaren dipasarkan. Selanjutnya, ketiga, harus ada ijab qobul, janji setia untuk tidak ingkar janji, lalu dipasrahkan kepada Allah يدالله فوق ايديهم dan bahkan di antara keduanya boleh membuat perjajian, bila begini dan begitu siap diturunkan. Namun nyatanya, mereka yang sudah benar-benar terbukti salah, janjinya tidak ditepati, kala diajak berunding ada yang selalu menunda-nunda waktu, dan bila ada demonstrasi malah lari kepintu belakang. Kata ayat ini, mereka sudah tidak عهد عليه الله bagaiman bisa ada ا اجرا عظيماMereka hanya bisa نكث tapi tidak mau menerima imbalan  ينكث على نفسه Begitukah kedok peminpin (ulil amri) yang harus kita ikuti? Maaf saja, bukan kami tidak mau mengerjakan اطيع الله واطيع الرسول وآل الامر منكم. Namun, peminpin siapa yang pantas kita ikuti hari ini? Cacat barangnya malah dipolas sedemikian rupa kala dipasarkan.

Bila sudah demikian, sirnahlah harapan besar terbentuknya keadilan, kesejahteraan dankeseimbangan. Dan lalu gagallah keagungan peradaban bangsa yang diharapkan. Kata al-Qur’an dalam kelanjutan ayat ini, فانزل السكينة عليهم واثابهم فتحا قريبا (ketenangan jiwa dan hasil kemajuanperadan) yang diharapkan bangsa luas telah gagal ditengah dhalimnya para peminpin kita. Dzalim? Ya, selain mereka tidak bias menepati janjinya, ketika hendak ditemui kekantornya malah menunda-nundawaktu, soksibukaja (kajian konsep munasabahayat).

Sekarang cobak kembali ke pertanyaanku di depan, tentu kalian sudah faham apa yang harus kalian kerjakan saat ini. Pertama, memilih sesuai hati nurani dan karena Allah taala, bukankarena ajakan paman, bukan karena topeng yang mereka gunakan apalagi hanya karena uang.Kedua, silahkan kenali dulu siapa saja dan bagaimana latarbelakang para calon peminpin kita hari ini, lalu bandingkan satu sama lain hingga kalian mendapatkan yang terbaik. Dan kalian berhakbertanya apatujuan mereka mencalonkan diri dan apa saja yang akan dilaksanakan setelah nantiterpilih. Ketiga, kalian berhak meminta jaminan kepa damereka, entah berupa tandatangan di atas meterai, ataua palah katamu, hingga mereka benar-benar tidak bias berpaling untuk ingkarjanji. Wallahua’lam.

*reng temor bhuru ajher noles, saporana!
@ tulisan ini lahir dari kegamangan terhadap para calon peminpin kita. Dan metode tafsir yang penulis gunakan adalah “tafsir sisi lain,”baca: “Dinamika danTeks Yang Kropos, formasi tafsirsinis” di #aibadmu@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: