27.7 C
Indonesia
22 Oktober 2019
Poligami Berkedok Sunnah Rasul 1

Poligami Berkedok Sunnah Rasul

Pernikahan adalah suatu keniscayaan bagi setiap manusia yang mampu menunaikannya. Setiap manusia berhak hidup dengan berpasang-pasangan diantara laki-laki dan perempuan.

Bahkan, Allah SWT telah mempersiapkan untuk kita semua seorang pendamping dalam mengarungi bahtera rumah tangga sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Hal tersebut termaktub jelas dalam kitab suci al-qur’an:

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS. Ar. Ruum (30):21.

Membahas segala hal tentang nikmat Tuhan, tentu tidak akan pernah ada habis-habisnya. Sebab nikmat Tuhan itu amat banyak, tak dapat kita bandingkan dengan sesuatu apa pun. Pernikahan adalah salah satunya.

Baginda Nabi Muhammad SAW, memandang sebuah pernikahan bukan hanya simbol kemanusiaan yang kemudian menjadi tampak lumrah pada diri manusia. Namun baginda Nabi lebih dalam memandang pernikahan menjadi hal tak terpisahkan dari diri Agama. Terbukti dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

 “Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa”

Dari kedua nash (Al-qur’an-hadist) tersebut, cukup jelas betapa agung dan nikmatnya pernikahan itu bagi kita. Hal ini bukan karena semata-mata untuk kepentingan pemuas nafsu birahi seorang laki-laki terhadap perempuan, apalagi dalam rangka menjatuhkan vonis buruk sebagai hiperseks kepada pihak lelaki. Namun satu hal yang dimaksud adalah bahwa terdapat implikasi positif (lahiriyah wa bathiniyah) dari sebuah pernikahan, sehingga sampai pada titik kesimpulan akhir bahwa pernikahan sebagai bagian terpenting sunnatullah.

Dari pemahaman itulah diharapkan adanya pengetahuan yang lebih mendalam tentang makna pernikahan yang sesungguhnya. Dari pada hanya menganggap pernikahan sebagai langkah awal terwujudnya hubungan badan antara suami dan istri.

Jika melihat kehidupan dewasa kini, bukan lagi persoalan pemahaman manusia yang kurang tepat tentang pernikahan, namun telah terjadi pergeseran yang memusat pada hal yang lebih serius lagi. Maka wajar jika kita kini seakan memposisikan pernikahan sebagai persoalan terprinsip dalam rangka membina rumah tangga. Bahkan, dikalangan muda-mudi sekalipun banyak yang menghabiskan masa lajangnya dengan memutuskan untuk segera menikah di usia dini. Itulah bukti yang cukup kuat yang menggambarkan bahwa pernikahan (beserta kenikmatannya) bukan lagi sesuatu yang asing di kalangan generasi saat ini.

Hebatnya lagi, dalam beberapa kasus tertentu, pernikahan menjadi alasan (dalih) dalam rangka mengangkat harkat-martabat seorang perempuan. Hal ini rentan terjadi. Terutama bagi laki-laki yang ingin menikahi perempuan lebih dari satu (poligami). Artinya, dengan keputusan berpoligami mampu meng-counter  nasib para perempuan yang tengah dirundung masalah keluarga.

Perihal praktek poligami, penulis menjadi ingat dengan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW kala itu. Masa itu, kaum kafir Quraisy dan Yahudi tengah meningkatkan permusuhan dan kebenciannya terhadap umat Islam, sehingga penindasan-penindasan biadab yang dilancarkan musuh-musuh Islam tak bisa lagi dibiarkan, kecuali dilawan dengan kekuatan fisik. Singkat cerita, setelah turunnya wahyu dari Allah SWT, akhirnya terbukalah perang.

Di tengah peperangan ini, tak sedikit tentara Islam yang gugur sebagai syahid di medan pertempuran. Dampaknya jelas, banyak istri sahabat Nabi yang menjanda dengan memikul beban berat karena harus menghidupi anak-anak mereka yang tiada berayah lagi.

Masyarakat Arab waktu itu memandang wanita-wanita tawanan perang atau wanita-wanita yang dihadiahkan majikannya kepada pihak lain, adalah budak. Wanita hanya dianggap sebagai alat pemuas nafsu birahi. Ditengah masyarakat pun, wanita tak punya kedudukan apa-apa.

Kenyataan pahit itu, mendorong Nabi Muhammad SAW untuk membuka pintu poligami. Dua wanita tawanan perang Islam, (Siti Juwairiyah, dan Siti Shafiyah) Beliau merdekakan, kemudian Beliau nikahi. Maria Al-Qibtiyah yang dihadiahkan Muqauqis Raja Romawi di Mesir kepada Nabi Muhammad SAW juga dimerdekakan dan dinikahi. Dengan begitu, ketiga wanita ini menempati derajat tertinggi di tengah masyarakat Islam karena telah menjadi istri Nabi.

Dan banyak lagi kisah tentang wanita-wanita budak-tawanan dan wanita merdeka yang kemudian Rasul nikahi. Dari catatan sejarah, setelah Siti Khadijah Wafat, Nabi Muhammad SAW menikahi 11 wanita, tiga diantaranya adalah wanita budak atau tawanan perang (Siti Juwariyah, Siti Shafiyah, dan Maria Al-Qibtiyah), delapan lainnya adalah wanita merdeka yaitu (Siti Saudah, Siti Aisyah, Siti Hafsah, Siti Zainab Ummul Masakin, Ummi Salamah, Siti Zainab Putri Umaimah, Ummi Habibah dan Siti Maimunah). Dari delapan wanita merdeka itu, hanya seorang wanita yang berstatus gadis. Itulah Siti Aisyah, sedangkan yang lainnya berstatus janda.

Dari kisah perjalanan Rasul inilah kemudian menjadi contoh bagi generasi saat ini dalam praktek poligami. Seolah-olah ketika memutuskan untuk berpoligami sudah sepenuhnya menjalankan serta mencontoh suri tauladan beliau dalam memuliakan derajat wanita.

Sebagai manusia biasa, tidak dapat dipungkiri lagi kelemahan kita dalam menilai hati seseorang, sepenuhnya hanya Allah yang tahu. Termasuk saya sendiri tidak mungkin bisa menilai secara objektif bagaimana sebenarnya latar belakang para lelaki masa kini yang berpoligami. Apakah dalam rangka memuliakan derajat wanita sebagaimana Rasulullah, atau justru agar nafsu biologisnya bisa tersalurkan sepuas-puasnya? Dan apakah mungkin lelaki masa kini mampu berbuat adil kepada istri-istrinya sebagaimana keadilan Rasulullah? Wallahu a’lam.

tetapi penulis tidak akan membahas panjang lebar tentang sesuatu yang sebetulnya menjadi hak prerogatif Tuhan dalam menilai. Hanya saja, situasi dan kondisi sosial yang tidak lagi sama dengan pada masa Rasul, apalagi kualitas iman yang pasti tidak akan sama dengan imannya Rasulullah SAW. Keadaan ini menimbulkan sedikit disorientasi dari poligami saat ini.

Mari kita lakukan sebuah analisis ilmiah. Jika dulu (masa perang) banyak wanita terlantar akibat ditinggal pergi suaminya yang gugur dalam peperangan, maka bagaimana dengan zaman kini yang serba modern, dimana peperangan tak lagi mewarnai jiwa perjuangan umat Islam? Lantas bagaimana dengan orang-orang yang berpoligami dengan dalih sunnah Rasul, sementara paradigma sosial sudah tak se pahit dulu?

Pendek kata, siapkah anda (pelaku-poligami) menyelamatkan para wanita yang sangat papa di pinggiran sana kemudian anda nikahi? Bukankah tindakan tersebut bagian dari cara memuliakan wanita yang hidupnya amat sangat mencekam? Tentu ini adalah perbuatan terpuji dalam teori poligami. Bayangkan, jika anda ingin memurnikan langkah ini (poligami), di pinggiran sana terdapat jutaan wanita beserta anak-anaknya terlantar sekian lama, hidup mereka hanya dihabiskan dengan kenyataan pahit itu. Maka sudah saatnya kini kaum adam (yang memenuhi syarat poligami) menyelamatkan nasib mereka, mengangkat derajat mereka dengan cara menikahi sesuai dengan dogma Agama dan UU Negara.

Sewaktu-waktu kita perlu menunduk, memandang diri sendiri. Masih pantaskah kita menganggap poligami yang kian marak dilakukan sebagai representasi dari suri tauladan Rasul? Namun, semoga dan mudah-mudahan poligami yang kita tempuh saat ini bukan poligami yang berkedok sunnah Rasul.

Oleh Aba Rosyid (Alumnus PP. Nurul Islam sekaligus Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy