Prof. Dr. KH. M. SAHAL MAHFUDH, (1937 – 2013)

Prof. Dr. KH. M. SAHAL MAHFUDH, (1937 – 2013)

Spread the love

Beliau adalah seorang tokoh organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang terkemuka. Anak ketiga dari enam bersaudara yang merupakan ulama kontemporer Indonesia yang disegani karena kehati-hatiannya dalam bersikap dan kedalaman ilmunya dalam memberikan fatwa terhadap masyarakat baik dalam ruang lingkup lokal (masyarakat dan pesantren yang dipimpinnya) dan ruang lingkup nasional.

Selain mengasuh pesantren peninggalan ayahnya, Sahal Mahfudh juga mengajar di perguruan tinggi hingga diangkat menjadi Rektor di Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Jepara. K.H. Sahal dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa (DR.HC) dalam bidang Ilmu Fiqih dan Pemikiran Keislaman dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2003.
K.H. Muhammad Sahal Mahfudz dikenal juga sebagai ulama kerakyatan atau ulama sosial karena memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap masalah-masalah kemasyarakatan sehingga banyak berhubungan dengan berbagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Pesantren yang dipimpinnya, yakni Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Mergoyoso, Kabupaten Pati, dan Pusat Informasi Pesantren, banyak terlibat kerjasama dengan masyarakat.
Ulama tradisional ini mengembangkan fiqih sosial dan fiqih kontekstual. Masalah-masalah sosial, banyak menjadi sorotan di samping fiqih ibadah. Ibadah sosial yang bersifat horisontal menjadi konsen utamanya. Pendekatan yang sering dipakainya adalah pendekatan maslahah atau kemaslahatan. Fiqih dipandangnya tidak saja memberikan hukum halal atau haram, tetapi juga jalan keluar (solusi) terhadap permasalahan yang dihadapi.
Ulama ini dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1937 di Dukuh Polgarut, Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ia adalah putra ketiga K.H. Mahfudh bin K.H. Abdussalam, pendiri Pondok Pesantren Maslakul Huda Polgarut tahun 1910. Ulama-ulama di Margoyoso, termasuk Sahal adalah keturunan Syaikh Mutamakin, ulama sufi abad ke-18 yang sangat berpengaruh dan ditakuti penguasa Mataram dan Pemerintah Hindia Belanda. Syaikh Mutamakin pernah diajukan ke sebuah persidangan di Kartasura di hadapan Katib Anom (Penghulu Kudus) sebagai wakil ulama resmi dari pemerintah. Ulama ini terkenal dengan sebutan ulama Cebolek, yang diambil dari serat (kitab) yang ditulisnya yaitu Serat Cebolek.
Sahal Mahfudh juga tercatat sebagai keturunan Joko Tingkir alias Sultan Hadiwijoyo (Sultan Pajang, menantu Sultan Trenggono Demak), melalui jalur pangeran Sambo, sebagaimana ulama-ulama daerah Lasem, Rembang juga termasuk K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Wahab Hasbullah dari K.H. Sihah, pendiri Pesantren Tambakberas.
Sebagai putra seorang ulama, Sahal Mahfudh mendapatkan pendidikan agama sejak dini dari keluarganya. Di samping mengaji kepada ayahnya, ia menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah Mathaliul Falah di desanya (1949) dan melanjutkan ke tingkat tsanawiyah di madrasah yang sama hingga lulus (1953). Ayahnya wafat dalam rumah tahanan Belanda di Ambarawa setelah terjadi perang kemerdekaan kedua (1948 – 1949). Pesantren Maslahul Huda sendiri waktu itu diasuh oleh paman-pamannya yakni K.H. Abdullah Abdussalam dan K.H. Ali Muhtar Abdussalam.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Tsanawiyah Mathaliul Falah Kajen, Sahal Mahfudh meninggalkan desanya untuk merantau, mengaji ke beberapa pondok pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia mondok di pesantren Bendo, Pare, Kediri di bawah asuhan K.H. Muhajir (K.H. Khazin) (1953 – 1957) kemudian nyantri di Pesantren Sarang, Rembang (1957-1960) di bawah asuhan K.H. Zubair (ayah K.H. Maimun Zubair).
Di kalangan teman-temannya, Sahal Mahfudh dikenal sebagai anak yang cerdas, ia mampu menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan bahasa Arab. Di samping belajar di Madrasah dan pesantren, ia banyak mengikuti pendidikan luar sekolah seperti kursus Bahasa Inggris, manajemen dan administrasi, dan kursus pengetahuan umum lainnya.
Ketika menjadi santri senior di Pesantren Sarang, selain belajar, ia juga mengajar mulai tahun 1958 – 1961. Kemudian ia kembali ke kampung halamannya dan menjadi pengasuh Pesantren Maslakul Huda peninggalan ayahnya. Selanjutnya K.H. Sahal Mahfudh menapakkan karir sebagai dosen pada Kuliah Takhasshus Fiqih di Kajen, Pati (1966 – 1970), dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Cokroaminoto Cabang Pati (1974 – 1976), dosen di al-Ma’had al-‘Ali (Pesantren Luhur) Jombang (1974 – 1976), Direktur Perguruan Islam Mathaliul Falah Kajen (1963 – 1982), dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang (1982 – 1985), hingga menjadi Rektor Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Jepara (sejak 1989), dan dosen di beberapa perguruan tinggi lainnya.
Pesantren Maslakul Huda di bawah pimpinan K.H. Sahal Mahfudh dikembangkan sebagai pusat kerjasama dengan masyarakat. Istri Beliau, Dra. Hajjah Nafisah Sahal, Putri K.H. Abdul Fatah Hasyim Tambakberas Jombang, banyak membantunya mengembangkan pesantren dan aktif dalam kegiatan YKMNU (Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU) yang bergerak dalam lapangan pendidikan, sosial, dan kesehatan.
Kehidupan organisasi K.H. Sahal Mahfudh telah dimulainya sejak usia remaja saat masih berada di pesantren. Beberapa jabatan yang pernah diembannya antara lain sebagai Katib Syuriyah Pengurus Cabang Partai NU Kabupaten Pati (1967 – 1975), Wakil Ketua Pimpinan Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Pati (1968 – 1975), Wakil Rais Syuriyah PCNU Pati (1975 – 1985), Koordinator Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Keresidenan Pati (1988 – 1990), Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Rabithah Ma’ahid Al Islamiyah Jawa Tengah (1977 – 1978), Katib Syuriyah PWNU Jawa Tengah (1980 – 1982), Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah (1984 – 1989) merangkap sebagai salah seorang Rais Syuriyah PBNU, kemudian Wakil Rais Am Syuriyah PBNU hasil musyawarah ulama NU di Bandar Lampung (1992) dan dipertahankan dalam Muktamar NU ke-29 di Cipasung, Tasik Malaya (1994) hingga lima tahun kemudian dan dalam Muktamar NU ke-30 di Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Lirboyo, Kediri (November 1999) K.H. Sahal Mahfudh terpilih sebagai Rais Am Syuriyah PBNU menggantikan K.H. Muhammad Ilyas Rukiyat. Rais Am merupakan jabatan tertinggi di lingkungan pengurus NU.
Di samping mendapatkan amanat menduduki jabatan tertinggi di lingkungan NU, Kiai yang juga Ketua Majelis Ulama Provinsi Jawa Tengah ini pada tahun 2000 terpilih sebagai Ketua MUI menggantikan Prof. K.H. Ali Yafie.
K.H. Sahal Mahfudh cukup produktif dalam menulis. Sejak tahun 1991 ia menjadi kolumnis di Majalah Aula milik PWNU Jawa Timur, di samping juga sebagai kolumnis di beberapa surat kabar dan majalah regional dan nasional, seperti Suara Merdeka, Warta NU, Duta, dan sebagainya. K.H. Sahal juga banyak mengisi berbagai macam pertemuan ilmiah keagamaan dan kemasyarakatan, baik pengajian umum maupun ceramah ilmiah, diskusi, ataupun seminar. Kegiatan ini bukan saja di tingkat wilayah dan nasional, tapi juga internasional.
Kyai Sahal adalah seorang pakar fiqih (hukum Islam), yang sejak menjadi santri seolah sudah terprogram untuk menguasai spesifikasi ilmu tertentu yaitu dalam bidang ilmu Ushul Fiqih, Bahasa Arab dan Ilmu Kemasyarakatan. Namun beliau juga mampu memberikan solusi permasalahan umat yang tak hanya terkait dengan tiga bidang tersebut, contohnya dalam bidang kesehatan dan beliau menemukan suatu bagian tersendiri dalam fiqh.
Dalam bidang kesehatan Kyai Sahal mendapat penghargaan dari WHO dengan gagasannya mendirikan taman gizi yang digerakkan para santri untuk menangani anak-anak balita (hampir seperti Posyandu). Selain itu juga mendirikan balai kesehatan yang sekarang berkembang menjadi Rumah Sakit Islam.
Berbicara tentang karya beliau, pada bagian fiqh beliau menulis seperti Al-Tsamarah al-Hajainiyah yang membicarakan masalah fuqaha, al-Barokatu al- Jumu’ah ini berbicara tentang gramatika Arab. Sedangkan karya Kyai Sahal yang berbentuk tulisan Buku (kumpulan makalah yang diterbitkan):
  • Thariqatal-Hushul ila Ghayahal-Ushul, (Surabaya: Diantarna, 2000)
  • Pesantren Mencari Makna, (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999)
  • Al-Bayan al-Mulamma’ ‘an Alfdz al-Lumd”, (Semarang: Thoha Putra, 1999)
  • Telaah Fikih Sosial, Dialog dengan KH. MA. Sahal Mahfudh, (Semarang: Suara Merdeka, 1997)
  • Nuansa Fiqh Sosial (Yogyakarta: LKiS, 1994)
  • Ensiklopedi Ijma’ (terjemahan bersama KH. Mustofa Bisri dari kitab Mausu’ah al-Ij ma’). (Jakarta; Pustaka Firdaus, 1987).
  • Al-Tsamarah al-Hajainiyah, I960 (Nurussalam, t.t)
  • Luma’ al-Hikmah ila Musalsalat al-Muhimmat, (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati).
  • Al-Faraid al-Ajibah, 1959 (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati)
Karya karya tulis Beliau lebih dari 100 judul artikel di berbagai media massa dan sebagian telah dibukukan, di antaranya berjudul Nuansa Fiqih Sosial (Kumpulan 9 artikel fiqih sosial, 9 artikel dakwah, dan pemberdayaan masyarakat, 7 artikel tentang Ahlussunnah wal jama’ah dan Khittah NU dan 12 artikel tentang pesantren, pendidikan dan masyarkat), Ensiklopedia Ijma’ (kumpulan keputusan ijma’ ulama). K.H. Sahal Mahfudh wafat di Jakarta, pada Jumat dini hari, 24 Januari 2013 pukul 01.15 WIB di kediamannya, Komplek Pondok Pesantren Maslakul Huda.
Sumber: Suara Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: