Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Prof Quraish Shihab: Ulama yang Enggan Dipanggil Habib

Prof Quraish Shihab: Ulama yang Enggan Dipanggil Habib
Listen to this article

SAYA ingin sekali berkomentar tentang fenomena “habib” yang selama ini sempat menjadi polemik yang amat serius dalam permasalahan sosial yang cukup krusial sehingga kita bisa melihat ketegangan berbagai kelompok Arab mulai dari kalangan Al-Alawi, representasi dari Rabithah Al-Alawiyah, dengan Al-Irsyad. Lagi-lagi ini disebabkan oleh maraknya permasalahan yang cukup berkepanjangan, siapa lagi jika bukan IB HRS. pun sampai hari ini, kasusnya baru dimulai, dan tidak akan pernah selesai, lagi-lagi selalu menyebabkan kegaduhan di tengah masyarakat.

Terlepas dari gelar “Habib” yang selalu jadi poin krusial untuk dibicarakan, di Indonesia sendiri, panggilan “kiai” menjadi sosok yang amat dimuliakan kedudukannya, apalagi ketika di pesantren, kiai merupakan sosok teladan, guru yang memberikan ilmu agama kepada para santri, ibarat orang yang memiliki cahaya dengan menuntun para santrinya menuju ilmu Allah.

Meski demikian, ada banyak sekali sosok tokoh teladan yang enggan disebut habib, ini bukanlah muncul dari tokoh sembarangan yang hanya memiliki modal pengetahuan agama dari Youtube, atau yang biasa kita kenal dengan pendakwah yang suka sekali mengkafirkan, menyalahkan bahkan ceramah mengandung kebencian.

Beliau adalah sosok yang luar biasa kepunyaan Indonesia, mufassir yang dengan pengetahuan agamanya,  mampu melihat Al-Qur’an dengan konteks yang terjadi pada masa kini. Berbagai karyanya tidak hanya pada tafsir Al-Quran, buku yang menggambarkan bagian dari pemikirannya membuat para pembaca terpaku dengan pemahaman Islam yang ramah dalam konteks keindonesiaan, keanekaragaman yang ada.

Sosok Prof Quraish Shihab

Prof Quraish Shihab, sebutan yang dikenal sebagai mufassir Indonesia bahkan dunia.  laki-laki yang lahir pada 16 Februari 1944 asal Makassar. Trah keilmuannya bukan main, beliau mengenyam lmu tafsir hadis di Mesir sejak usia 14 tahun hingga menempuh gelar doktor. Pernah juga mengenyam pendidikan pesantren di Jawa timur, tepatnya di Pondok Pesantren Darul-Hadits Al-Faqihiyyah, Malang, Jawa Timur pada usia 12 tahun (tempo.co).

Konsennya di bidang tafsir ditunjukkan melalui karya masternya yang begitu luar biasa yakni Tafsir Al-Misbah. Hal tersebut jarang sekali ditulis oleh orang lain, dimana tafsir tersebut ditulis secara utuh terhadap Al-Qur’an. Disusul dengan puluhan karya buku yang lain, seperti membumikan Al-Quran, Islam Wasathiyah, Perempuan, Jilbab, Kaidah Tafsir, Lentera Hati, dll.

Tidak cukup dengan sosok teladan dengan berbagai karya yang dihasilkan, diluar karir intelektualnya. Prof Quraish Shihab memiliki berbagai pengalaman dalam memimpin masyarakat. Beliau pernah menjadi rektor IAIN Jakarta (red:UIN Jakarta) salaam dua periode (1992-1996 dan 1997-1998), menjadi Menteri Agama RI (1998), Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk negara Republik Arab Mesir (viva.co).

Pada titik ini, kita melihat berbagai ragam pengetahuan, pengalaman yang begitu luar biasa dari sosok Prof Quraish Shihab. Perjalanan tersebut juga menjadi sesuatu bekal amat penting terhadap perjalanan karir seorang mufassir dengan berbagai ragam konflik yang dialami selama dirinya menjadi pemimpin.

Masih belum cukup dengan perjalanan tersebut. Pada tahun 2004, beliau mendirikan pusat studi Al-Qur’an, dengan tujuan mulianya untuk memberikan wadah bagi mufassir agar menjadi Mufassir Al-Qur’an yang professional, disertai dengan pemahaman dalam melihat bangsa  yang plural, beranekaragam, serta penuh dengan perbedaan.

Enggan Dipanggil Habib

Dalam sebuah wawancara, Prof Quraish Shihab menjelaskan, “Habib itu sebenarnya dahulu, diberikan oleh masyarakat, yang kagum pada orang-orang tertentu, yang memiliki tiga sifat utama: yang pertama dia keturunan Nabi Muhammad SAW; yang kedua dia berilmu yang luas; dan ketiga dia berakhlak yang luhur.” Jelas Prof. Quraish Shihab.

“Ilmu saya belum dalam, akhlak saya belum sesuai dengan apa yang diajarkan agama.  Jadi tak usah panggil saya Habib, tak usah panggil saya, biar saya berjuang dulu. Mudah-mudahan setelah saya meninggal, orang lihat, oh itu Habib, tapi sekarang tidak,” imbuhnya.

Barangkali dari kalimat tersebut kita benar-benar melihat “sosok habib” dalam diri Prof. Quraish Shihab yang penuh dengan kerendahan hati, berbagai karya ditorehkan, pemikirannya yang amat luas yang disertai dengan pengetahuan agama luar biasa. Wallahu a’lam

Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa