29 November 2020

Puisi Puisi Mohammad Cholis

Indonesiaku

Di tubuhmu, retina bulan mengatup kantuk
menunggu rahim fajar bangkit memahat rona selendang langit
Senandung angin memetik kecapi menggiring ritme kaki matahari
Yang tak lekang memperkenalkan diri pada semerbak bumi pertiwi
Kicau burung pun berdentum memadah epitaf sisa-sisa sejarah
Mengisar memoar reruang wangsit perenungan bunga bangsa

Ingatlah,
Dahulu bambu badik dimainkan sebagai ujung peluru
Gelegak bocah-bocah menyusu darah menegak masa jaya
Demi tanah jadi tonggak sehelai bendera
Demi menyemai ranah benih Aceh sampai Papua
Hingga tumbulah engkau menunggangi renjana garuda
Menata lebur makna bhineka tunggal ika
Pada zamrud khatulistiwa yang baka

Oi, Indonesiaku
Biarkan aku menderu
Bagai cagak tegak di atas batu dalam derak jantung waktu

2019

 

Gerimis

 

Firnandita,

Bermusim-musim gerimis melanda

Matahari tak lagi kutemukan di selaput mata

Dan wajah kita kutemukan

Tertidur pulas dalam keranda

Terhitung sejak kita mulai mahir

Bermain luka di bibir senja

 

Menjelang  Senja

 

/1/

Tatkala langit hampar berdarah

Luka akan lepas dengan hilir doa-doa

 

/2/

Senja beranjak mengecap dahaga

Lidah karat sembunyikan dari sekian rasa

 

/3/

Orang berkiprah mengusung patung bulan

Perut terbakar matahari tetap berdiam

 

/4/

Sebuah riwayat peperangan akan segera usai

Tertancaplah bendera Tuhan pada pusara syetan

 

/5/

Kumandang membumbung

mengundang kerumunan

 

Ramadhan, 2020

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy