5 Desember 2020
Quraish Shihab: Shalat Tarawih, I’tikaf, dan Tadarus tak Harus di Masjid

Quraish Shihab: Shalat Tarawih, I’tikaf, dan Tadarus tak Harus di Masjid

Dalam rang memaksimalkan raih pahala di bulan suci ramadhan, BNPB melakukan kajian langsung bersama Quraish Shihab. Hasil diskusi yang disampaikan melalui video zoom di Jakarta (24 April 2020) kami rangkum dalam tulisan ini.

Ibadah wajib (yang terkait langsung dengan Bulan Ramadhan) itu ada dua, puasa dan zakat fitrah. Kedua kewajiban ini tak ada kaitannya dengan pandemi covid-19 yang melanda dunia ini. Ini bisa dilakukan di mana saja. Kapan saja, tak ada kaitannya dilaksanakan di masjid atau tidak, membayar zakat di masjid atau bukan.

Ibadah yang lain, yang sering kita lakukan selama bulan puasa dan biasanya dianjurkan dalam keadaan normal, yang pertama adalah Shalat Tarawih. (Satu).

Sekarang, ketika ada pandemi covid-19 ini, maka timbul permasalahan kalau pergi ke masjid melakukan Shalat Tarawih dengan berjamaah, diduga keras oleh para ahlinya dengan adanya berkumpul erat itu bisa mengakibatkan terjangkit penyakit. Nah dalam konteks ini, agama menetapkan bahwa memelihara kesehatan itu adalah kewajiban bagi setiap individu. Jadi jangan ke masjid.

Sebenarnya ada alternatif lain yang setingkat (amalnya) dengan tidak ke masjid, karena Rasulullah Saw. dan Sayyidina Abu Bakar setelah kematian Rasulullah, selama dua tahun tidak pernah melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid. Nabi (Muhammad sendiri) hanya melakukan tiga kali (Shalat Tarawih) dalam 3 (malam) berturut-turut. Setelah itu nabi melaksanakannya di rumah. Dengan demikian, kalau kita tak ke masjid, itu tak masalah. Dan justru kita bisa berkata, kalau kita Shalat Tarawih di rumah itu meneladani Rasulullah Saw. yang shalat di rumah.

(Shalat Tarawih di rumah) ini memang bukan berarti menjadi lebih baik dari pada apa yang dilakukan oleh Sayidina Umar yang menganjurkan ke masjid. Tapi paling tidak, kita punya landasan bahwa apa yang dikerjakan di rumah itu adalah apa yang diberikan contoh oleh Rasulullah dalam 27 malam, dan 3 malam pertama saja beliau melaksanakannya di masjid.

Jadi jangan memaksakan diri ke Masjid. Bahkan boleh jadi kita berkata bahwa pergi ke masjid untuk melaksanakan Shalat Tarawih atau untuk apa pun bisa mendekati haram. Kalau tidak haram, paling sedikit makruh. Paling sedikit itu. Bahkan banyak ulama mengatakan itu terlarang. Karena mengakibatkan mudharat bagi yang datang dan terjangkit oleh penyakit (corona) tersebut.

Yang kedua, dianjurkan memberi buka puasa. Ini tak ada kaitannya dengan masjid. Bahkan tak ada kaitannya dengan buka bersama. Nah di sini nabi bersabda, man fathara shaiman, barang siapa memberi buka orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala yang sama seperti orang yang melakukan puasa tersebut. Memberi buka walau dengan seteguk air atau sebiji kurma. Jadi itu bisa dilaksanakan tanpa terpengaruh dengan aturan (social distancing). Di bulan puasa, nabi paling banyak bersedekah. Bagaimana kalau kita lakukan di rumah, kita bisa kirim (via ojek online, sedekah uang via online, dan sebagainya).

Kemudian yang (ketiga) populer di bulan Ramadhan adalah i’tikaf, itu harus di masjid. Tetapi, dampak buruk kehadiran di masjid itu bisa berbahaya, karena itu kita bisa ambil substansinya. Orang beri’tikaf itu sebenarnya merenung, melakukan introspeksi , muhasabah, dan itu bisa dilakukan di masjid dan bisa dilakukan di rumah. Melakukan i’tikaf di masjid itu sebenarnya agar kita tak diganggu dengan orang lain. Agar kita bisa merenung tentang diri. Substansinya bisa dilakukan di rumah. Jadi tak ada alasan bersikeras untuk ke masjid.

Satu lagitadarus. Tadarus itu bukan membaca Al Quran. Bukan.  Selama ini kita keliru, berlomba-lomba baca Al Quran kita anggap itu tadarus. Bukan. Tadarus itu interaksi antara dua orang untuk membaca Al Quran dan mempelajarinya. Dan sekarang ini kalau di rumah itu kesempatan yang luar biasa untuk melaksanakan tadarus. Kesempatan yang luar biasa untuk mengajari anak-anak kita, untuk berdiskusi dengan istri kita. Itu lebih baik daripada baca Al Quran di Masjid (sendirian).

Sekali lagi, karena tadarus itu mengulang-ulangi bacaan sampai faham kandungannya. Zaman sahabat nabi itu begitu, berkumpul-kumpul membahas satu ayat dan tidak pindah ke ayat lain sebelum faham betul makna ayat yang dibaca dan dipelajarinya tersebut. Jadi tak harus tamat. Ini yang harus kita luruskan. Justrus sekarang adalah kesempatan yang harus dilakukan adalah tadarus di rumah untuk mengajari anak-anak, keluarga kita, itu yang (lebih) wajib.

Makna Ibadah

Dan terakhir yang saya ingin katakan adalah, jangan pernah menduga bahwa ibadah itu hanya yang berbentuk ritual. Ibadah itu banyak, ibadah itu dalam bahasa al Quran adalah amal soleh. Semua amal atau kegiatan yang positif itu adalah ibadah. Amal itu adalah penggunaan daya; daya berpikir, fisik, qalbu, dan daya hidup. Selama itu dipergunakan bersifat soleh sesuai dengan nilai-nilainya, itu adalah ibadah. Jadi kita bisa beribadah di rumah (lewat daya tersebut).

Saya menganjurkan, mungkin di rumah kita ada satu gudang yang belum pernah di lihat, mungkin di sana bertumpuk barang-barang yang masih bisa dipergunakan yang boleh jadi kita tak gunakan lagi. Di lemari kita, ada baju-baju yang selama ini kita tak pakai, pilihlah itu kita sedekahkan ke orang lain. Itu ibadah yang luar biasa. Kita punya pekarangan yang tak ditumbuhi sesuatu, maka tanamilah buah-buahan yang bermanfaat buat kita.

Saudara tahu, nabi pernah bersabda, “seandainya kiamat akan terjadi besok dan ditangan kalian ada benih tumbuhan, maka kalau dapat, tanam dulu benih itu.”

Jadi iman itu dalam bahasa agama punya banyak cabang. Nabi bersbada “alimanu bidun, wasituna sub’un”. Banyak cabangnya, 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah tentang ke Esa-an Allah (tauhid). Yang paling rendah, menyingkirkan gangguan dari jalan. Ada duri singkirkan. Ada kotoran singkirkan. Itu adalah ibadah yang kita bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Lebih-lebih di bulan puasa.

Jadi saya kira kita bisa menggabung keputusan apa yang dilarang oleh ahli-ahli (kesehatan) mengenai kegitan kita (ibadah di masjdi), kita bisa gabung tanpa mengurangi nilai sedikit pun dari ibadah tersebut.

Mengatasi kejenuhan (Quraish Shihab ketika di rumah dalam suasana covid-19)

Banyak membaca, dan banyak lagi waktu untuk memahami anak-anak dan cucu-cucu saya. Saya berusaha mengingat kebaikan-kebaikan orang. Berusaha mengingat dan merenung kesalahan dan kekurangan saya dan itu merupakan bagian dari ibadah. Tak ada halangan untuk nonton tv. Jangan anggap seluruh hari di rumah itu melakukan ibadah ritual, bercengkrama dengan keluarga itu ibadah. Jadi saya ingin masyarakat kita itu memahami betul apa itu arti ibadah. Bukan Cuma shalat. Shalat itu kunci ibadah, kuncinya. Tetapi kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan membangun diri dan masyarakat, itulah yang dinamai ibadah. Kalau  memang ibadah itu hanya shalat, apalah artinya beberapa menit shalat, dibanding dengan kesempatan kita 24 jam sehari.

Maka dalam konteks inilah diperkenalkan adanya ibadah lidah, badan, telinga, pikiran, harta, dan lain sebagainya. Ini semua waktunya kita gunakan untuk lebih memperbanyak ibadah ini.

Himbauan Quraish Shihab selama #dirumahsaja

Kewajiban kita mengikuti apa yang terbaik, yang terbaik itu diketahui oleh pemerintah dan ahlinya (dalam bidang kesehatan dan virologis). Yang terbaik itu di rumah, melakukan aneka aktivitas sesuai nilai-nilai (keislaman). Yang melanggar (perintah negara) bisa dikatakan melanggar juga terhadap perintah Tuhan. Sebab perintah pemerintah tak melanggar perintah Tuhan, juga didukung oleh para ahli. Sehingga bisa dikatakan berdosalah mereka yang melanggar ketetapan-ketetapan dan ketentuan-ketentuan itu. Karena mengikuti (perintah pemerintah) tak melanggar akal dan ketentuan Tuhan. Maka berdosalah mereka yang tidak mengikuti perintah itu. Kita wajib mengikuti (aturan-aturan pemerintah) itu, baik senang atau tidak senang. (ed.AS/ibadah.co.id)

Oleh Prof. Quraish Shihab

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Ibadah.co.id

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy