3 Desember 2020

Radikalisme (adalah) Bibit Terorisme

Ditulis Oleh: Vinanda Febriani

Radikalisme belakangan makin marak di Indonesia, mereka yang sering menyebarkan paham aliran keras dan acapkali dengan mudahnya mengkafirkan, memusyrikkan, membid’ahkan dan bahkan sampai berfatwa bahwa membunuh seorang yang berbeda atau tak setuju dengan pendapatnya (adalah) halal hukumnya. Pemahaman begitu tentu saja tak sesuai dan tak diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Pemahaman ini seringkali mengarah kepada anak-anak muda atau orang awam yang tengah merantau mencari jati diri atau mencari ilmu. Mereka di-iming-imingi nikmatnya Surga dan terkutuknya neraka menggunakan cara yang tak benar dan sangat keras.

Biasanya, orang radikal merekrut ‘kader’ dengan cara mengajak target untuk mengikuti kajian-kajian ala mereka yang mengupas sepotong-sepotong ayat dengan tafsir yang_seringkali dipelintir sesuai pemahaman dan kepentingan mereka. Target terus menerus dibujuk-rayu supaya mau mengikuti kajian-ala-mereka. Ketika target tak mau, maka ia akan diteror, dipaksa untuk tetap ikut, dicari kemanapun pergi, diburu kemanapun lari. Ketika dia mau, maka dia akan terus diajak untuk hadir dalam kajian-kajian tersebut.

Setelah berpuluh-kali ikut kajian, target akan ‘dijejali’ dengan sedikit demi sedikit seruan kebencian. “Ini kafir”, “Itu musyrik”, “Dia Syi’ah”, “Mereka sesat”, dan paling parah adalah “Halal darahnya”. Kemudian si target akan dipaksa untuk melakukan ritual sejenis ‘hipnotis’ atau ‘brainwash (cuci otak)’ sehingga si target lupa kepada apa yang terjadi. Inilah salahsatu yang menjadi alasan mengapa orang berpaham radikal sangatlah militan dan cenderung sulit untuk disadarkan.

Orang radikal cenderung Intoleran. Mereka menganggap bahwa toleransi hanya berlaku kepada sesama umat muslim, tentunya umat muslim yang mereka katakan disini mengacu pada orang-orang yang setuju dengan ajaran, pendapat, jalan, pikiran dan penafsiran mereka. Sehingga yang tak setuju, walaupun beragama yang sama, mereka adalah ‘kafir’.

Adapun puncak daripada paham radikalime adalah terorisme. Dimana target diajak berjihad dengan jalan yang sesat, jahat dan terlaknat. Mereka diajarkan untuk membunuh siapa saja yang menghalangi jalan mereka menguasai negeri, dakwah_kan ideologi mereka. Ketika dipuncak paham ini, target bak jadi ‘pengantin surga’. Target diiming_imingi dengan nikmatnya surga beserta 72 bidadari ‘pemuas hasrat birahinya’. Tentu saja kebanyakan dari mereka mengiyakan ajakan itu tanpa berpikir panjang. Gimana mau berpikir, otaknya saja sudah dicuci. Tinggal tunggu beberapa saat saja, ketika sudah datang komando, siap-siap….duuooorrr!!! Habislah nyawanya; dan beserta nyawa lain yang tak bersalah.

Gambaran tentang pemahaman radikal diatas adalah satu dari beribu atau bahkan berjuta trik mereka untuk mengelabuhi ‘musuh’. Radikalisme adalah ajaran ‘sesat’ yang membuat pengikutnya seolah merasa tak tersesat padahal berada di jalan yang benar-benar gelap.

Radikalisme belakangan juga mulai marak di dunia pendidikan, perkantoran, pesantren, bahkan aparat negara beberapa ada yang sudah terpapar paham ini. Sehingga kita patut berwas-was diri.

Ada beberapa cerita yang agaknya tak mengenakkan didengarkan oleh telinga. Tentang wanita bercadar yang seringkali dikait-kaitkan dengan bibit, isteri atau bahkan calon teroris. Sebenarnya tak begitu. Tak semua wanita bercadar adalah radikal. Seperti yang sudah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, selagi wanita bercadar itu masih mau bertoleransi, cinta NKRI, berIslam dengan benar, maka tak bisa dikategorikan kepada radikal atau bahkan teroris. Karena jika kita kaji baik-baik secara detil, orang radikal dan teroris sering berganti-ganti dalam berpakaian dan penampilan fisik. Namun yang perlu kita pahami adalah pemikiran, pendapat dan sikap dari orang tersebut. Tak jarang orang yang semula dikira adalah teroris, ternyata dia adalah wajah-wajah ramah penuh toleran pada semua individu yang mengenal baik kepadanya.

Beberapa kasus teror yang terjadi di Indonesia membuat cidera dan trauma hati masyarakat ini. Tuduhan masyarakat yang trauma berkelanjutan inilah yang kemudian terus menular menyalahkan orang berpakaian ‘cingkrang’, bejenggot, berkerudung besar, bercadar sebagai ciri utama teroris. Padahal nyatanya jua tak sebegitu mudah mengenali ciri teroris. Perlu bukti cukup untuk membuktikan seseorang benar radikal/teroris atau bukan, tak bisa asal tuduh, bisa saja tergolong ke-dalam fitnah.

Yang kembali ingin saya sampaikan adalah, bibit radikalisme mulai berani muncul dari dalam kesenyapan dengan bentuk apapun, melalui siapapun dan dengan dalih apapun. Tak hanya waspada, kita dituntut untuk menolak atau bahkan membasminya sampai habis demi masadepan Bangsa Indonesia.

Salam Damai
Menuju Indonesia damai tanpa Radikalisme, Intoleransi dan Terorisme.

Vinanda Febriani
Siswi MA Ma’arif Borobudur.
Borobudur. Kamis, 23 Agustus 2018.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy