27 C
Indonesia
27 Juni 2019
Esai

Rakyat yang Baik, Pasti Mendapat Pemimpin yang Baik

Besarkan hati-mu saat merayakan Pemilu! Apabila kamu merasa baik, pasti Tuhan akan memberimu pemimpin yang baik. Bukankah Allah telah berfirman: “Golongan yang baik adalah milik golongan yang baik pula…” (QS. An-Nuur: 26).

Terkecuali, kita sendiri menyangka menjadi bagian rakyat yang tidak baik (?) Dalam hadits qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah dikatakan: Sesungguhnya Allah berfirman: “Aku bersama dalam sangkaan hamba kepada-Ku. Jika ia berbaik sangka padaku, maka baik juga padanya. Jika ia berburuk sangka kepadaku, maka buruk juga untuknya” (HR. Ahmad).

Pengertiannya, jika kita memiliki pikiran baik dalam merayakan pesta demokrasi maka hasilnya juga baik. Akan tetapi jika jika berpikiran buruk terhadap penyelenggaraan Pemilu maka nasib kita juga akan buruk. Besarkan hati kita! Toh hasil akhir pada dasarnya semua yang menentukan adalah Allah Swt.

Allah telah berfirman: “Dan Allah berkuasa (memenangkan) terhadap urusan-Nya tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti” (QS. Yusuf: 21). Jadi, seandainya pilihan kita kalah, asalkan kita berusaha menjadi rakyat yang baik maka yakinlah kita akan dipimpin orang baik!

Terkecuali sebagai rakyat, kita sendiri mulai bertindak tidak baik dan melakukan kesalahan-kesalahan, seperti disebutkan hadits Rasulullah dalam kitab Kasyful Ghummah. Rasulullah Saw bersabda: “Sebagian tanda-tanda dari kehancuran yang akan terjadi pada umatku adalah: jika amanat sudah digadaikan (dengan imbalan), zakat dirampas (oleh yang bukan berhak menerimanya), muncul seorang penggembala lalu dinobatkan sebagai pemimpin.”

Apakah kesalahan-kesalahan yang disinggung Rasulullah itu telah kita lakukan? Silahkan kita jawab sendiri! Pada dasarnya jika kita ingin memiliki pemimpin yang baik, kita sebagai rakyat juga harus baik pula.

Dulu, di jaman dinasti Mu’awiyah, banyak rakyat yang mencaci kebijakan Mu’awiyah ketika mengangkat Yazid sebagai putra mahkota. Yazid dikenal memiliki peringai buruk, sehingga banyak pihak yang mengkritik. Dalam menyikapi protes rakyatnya itu, Mu’awiyah menjawab:

“Jika kalian menginginkan aku mengeluarkan kebijakan sebagaimana Abu Bakar dan Umar dalam mengangkat khalifah: Abu Bakar menunjuk Umar, dan begitupun Umar memilih menetapkan tim formatur, termasuk di antaranya putra beliau bernama Abdullah, maka kalian juga seharusnya hidup sesuai dengan kehidupan sahabat di masa Abu Bakar dan Umar!”

Ada pula riwayat yang menyebut pernyataan Mua’wiyah sebagai berikut: “Jika kalian merindukan kepemimpinan seperti yang dijalankan Abu Bakar dan Umar, maka sekarang kalian juga harus hidup mengikuti cara sahabat di masa beliau-beliau itu!”

Walhasil, pemimpin yang baik lahir dari rakyat yang baik pula. Sebaliknya pemimpin yang buruk muncul dari kondisi rakyat yang buruk pula. Jadi, sekarang ini kita merasa sudah menjadi rakyat yang baik atau bukan?

M. Ishom el-Saha

Related posts

Guru Dan Murid, Siapakah Yang Lebih Berkuasa…..?

admin

Fitnah : Rahmat Atau Laknat?

PENA SANTRI

MEREDAKAN KONFLIK, MENCEGAH KERUNTUHAN PERADABAN

PENA SANTRI

Siapa Yang Berhak Bicara Agama

PENA SANTRI

Midadurahman, Kitab Tafsir Tertebal DI Dunia,

admin

Berdamai dengan Perbedaan

PENA SANTRI

Leave a Comment