Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Rangkuman Sifat Fir’aun: Sombong, Kejam, dan Tiran: Ini Keterangan Al-Qur’an

Rangkuman Sifat Fir'aun : Sombong, Kejam, dan Tiran: Ini Keterangan Al-Qur'an
Listen to this article

Fir’aun (Ramses II) dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai seorang hamba yang angkuh dan sombong. Fir’aun adalah gelar bagi sang penguasa tirani dari rezim tunggal yang pernah berkuasa di Mesir. Di era Nabi Musa AS , Fir’aun yang berkuasa adalah Ramses II.

Fira’un mengklaim dirinya sebagai tuhan bagi bangsa Mesir. Kesuksesan dirinya membangun Mesir membuat dirinya sombong. Akibat kekuasaan yang absolut dan tercapainya kemakmuran yang tinggi di Mesir menumbuhkan keangkuhan dan kesombonganya dirinya. Klaim tersebut direkam dalam Al-Quran:

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

“(Seraya) berkata:”Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” ( QS anNazi’at [79]: 24 )

Setelah itu, Fir’aun tak segan-segan menyiksa orang-orang yang percaya pada tuhan Nabi Musa AS.

Sifat sombong lain yang ada pada Fir’un adalah mengklaim bahwa seluruh negara Mesir adalah miliknya sendiri, sebagaimana dalam QS al-Zuhruf [43]: 51;

وَنَادَىٰ فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَٰذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?”.( QS. az-Zuhruf [43]: 51 )

Sifat tersebut adalah sifat kekuasaan tirani dan karakteristik fenomena Fir’un yang masih bertahan hingga saat ini. Seorang tiran tidak selalu mengklaim secara terang-terangan bahwa dia adalah penguasa negeri dan penguasa penduduk negeri, akan tetapi bisa diketahui dari kualifikasi bentuk kekuasaan yang terdapat dalam dirinya.

Sebaliknya, kita akan mendapatkan manusia yang hidup di bawah hegemoni kekuasan tirani itu memiliki karakteristik tertentu, yakni masyarakat tersebut adalah komunitas yang teralienasi, baik dari sistem atau institusi yang ada di dalamnya. Karena itu, Allah SWT memasukkan mereka dalam kategori fasiqin.

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasiq ”.( QS. az-Zuhruf [51]: 54 )

Selanjutnya, sifat tirani dari Fir’un adalah suka mengadu domba.

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka”. ( QS Al-Qashas : 4 )

Ayat di atas melambangkan cita-cita yang rendah, yang mendasarkan kontak manusia dengan sesama manusia pada penindasan dan eksploitasi. Fir’un memecah belah dan memelaratkan para masyarakat, dan menonjolkan kepentingan-kepentingan kelas. Mereka menghancurkan kekuatan kreatif manusia dan mencekik pertumbuhan mereka.

Fir’aun sebagai penguasa yang menjalankan sistem tirani yang mempunyai potensi lebih untuk berbuat kerusakan dari pada kebaikan.

Menurut M Syahrur, yang dimaksud berbuat kerusakan adalah rusaknya tugas, fungsi negara dan relasi-relasi sosial dan ekonomi. Ini adalah karakter dasar rezim yang dzalim. Allah SWT berfirman:

وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ
الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ
فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ

“dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak(tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu.” ( QS al-Fajr [89]: 10-12 )

Berbuat sewenang-wenang dengan membunuh bayi-bayi dari kaum Israil. Seperti dalam QS. al-‘Araf [7]: 141, dan QS. al-Baqarah [2]: 49;

وَإِذْ أَنْجَيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ ۖ يُقَتِّلُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir’aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Tuhanmu.” ( QS al- ’Araf [7]:141 )

Pada mulanya Fir’aun bermimpi dan takbir mimpi itu menyatakan bahwa kelak kerajaan Fir’un akan lenyap di tangan seorang lelaki dari kalangan Bani Israil, maka Fir’un yang terkutuk itu memerintahkan agar setiap bayi laki-laki yang baru lahir dari kalangan Bani Israil harus dibunuh, dan membiarkan hidup bayi perempuan. Lalu dia memerintahkan
pula agar kaum lelaki Bani Israil ditugaskan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat lagi hina.

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari(Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu”. ( QS Al-Baqarah [2]: 49 )

Konon Fir’aun selama setahun memerintahkan membunuh semua anak laki-laki yang lahir pada tahun itu, dan membiarkan hidup yang lahir pada tahun berikutnya.

Pengikut Fir’aun

Banyak sekali kata yang biasa digunakan dalam al-Qur’an untuk menyebut kelompok atau komunitas masyarakat seperti qaum, ahlun, ummat, dan alu atau ali. Kalau diperhatikan ayat-ayat yang berbicara tentang Fir’un banyak memakai mufrodat alu Fir’aun atau qaumu Fir’aun.

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ أَنْجَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ وَيُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah), ketika Musa a.s. berkata kepada kaumnya: “Ingatlah nikmat Allah SWT atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir’aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu”. ( QS Ibrahim [14]: 6 )

Ketika ayat ini menyatakan Ali Fir’aun maka isyarat yang ditunjukan adalah bahwa apa yang dilakukan oleh keluarga dan pengikut-pengikut Fir’un itu menampakkan kepribadian
Fir’aun. Ketika Bani Israil mendapatkan siksa mereka, maka ketika itu yang tampak di pelupuk mata mereka adalah Fir’aun dengan segala keburukanya walaupun ketika itu ia tidak hadir dalam penyiksaan.

وَإِذْ أَنْجَيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ ۖ يُقَتِّلُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ

Artinya: “Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir’aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cobaan yang besar dari Tuhanmu”. ( QS alA’raf [7]: 141 )

Selain menggunakan kata Alu dan Qaum untuk menyebut pengikut Fir’aun al-Qur’an juga memakai kata Mala’. Kata Mala’ (isim Jamak) dipakai khusus untuk menyebut para pembesar Fir’aun.

admin
Pena Santri adalah media dedikasi Santri Pejuang NKRI