4 Juni 2020
Rebahan: Equovalensi Kemiskinan dan Kekafiran

Rebahan: Equovalensi Kemiskinan dan Kekafiran

Rasulullah Muhammad SAW pernah berdoa, “Ya Allah, hindarkanlah dariku kekafiran dan kemiskinan.” Para sahabat yang mendengar munajat itu pun bertanya, “Apakah keduanya setara, ya Rasulullah?” “Ya, sama.” jawab Rasulallah.

Cerita di atas mengajarkan kita (umat muslim) untuk menghindari perbuatan huru-hara yang menyebabkan kemiskinan. Atau pada posisi yang sama, hadis ini mengajarkan kita untuk selalu optimis bangkit dari keterpurukan yang cenderung membuat kita tergantung kepada selain Allah. Cerita tersebut, di banyak tempat telah dikuatkan dengan satu Sabda yang nyaris menjadi anekdot:

(عن انس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : كاد الفقر ان يكون كفرا (رواه البيهاقى

Anas bin Malik menyampaikan, Rasulallah pernah berkata “Hampir-hampir kemiskinan ini menjadi sebab kekafiran.”

(HR: Baihaki)

Secara tematik, terma kafir sepontas tak ada keterpautan dengan kemiskinan. Kafir adalah perihal i’tikad keyakinan, sementara kaya-miskin berkaitan dengan perihal materi. Namun begitu, bila dirunut secara sistematis, kemiskinan yang melanda seorang akan memupus asumsi baik kepada Alla, akan menghilangkaan kebangaan pada sang pemberi rezeki, hingga banyak kemiskinan menimbulkan sifat dan perilaku seorang menjadi tergantung kepada orang lain. Padalah pada hakikatnya, ketergantungan itu hanyalagh pada Allah.

Rebahan Awal Baik untuk Kemiskinan

Terma kemiskinan yang disandingkan dengan kata “Kafir” sebagaimana Rasulallahh sabdakan, pada hari ini memasuki momentumnya. Abad modern ini meninabobokkan mansia dari berbuat usaha dan susah paya. Karena segala apapun bisa didapatkan dengan instan (non-normatif). Kondisi ini pada gilirannya mencipta lapisan tradisi masyarakat baru yang disebut “REBAHAN”.

Baca Juga  Kesadaran Beragama

Jika seorang sudah memasuki zona REBAHAN, maka kemalasan menimpanya, dan tentu himmah untuk berjuang, bangkit dari ketertiggalan dan atau bahkan semangat bekerja keras untuk menggapai “kemenangan hidup”, dengan sekaligus telah tumbang. Inilah awal kemiskinan yang nyata.

Dalam naskah lain, beberapa nasihat orang salaf menyebutkan, “Apabila kemiskinan melanda suatu daerah, maka kekafiran berkata kepadanya: ‘Ajaklah aku bersamamu’.”

Cara Atasi Kemiskinan

Mengatasi kemiskinan dapat dilakukan dengan bekerja. Itu bahkan bisa setara nilainya dengan jihad fii sabilillah. “Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit, dan yang lain berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah; dan yang lain berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat” (QS al Muzzamil: 20).

Namun, bila ternyata sudah bekerja keras, membanting tulang masih miskin, Islam menyodorkan terapi kedua, yaitu hendaknya kerabat dekatnya yang lebih berkecukupan memberikan bantuan. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kaum kerabat” (QS An Nahl: 90).

Pemecahan berikutnya yang diberikan Islam adalah adanya kewajiban zakat bagi mereka yang mempunyai harta melebihi nishab. Ada hak bagi kaum fakir atas sebagian harta kerabatnya yang kaya. Islam menentukan zakat sebagai suatu kewajiban yang tidak bisa ditawar.

Khalifah Abu Bakar pernah memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakatnya. Beliau bersabda, “Demi Allah, aku pasti memerangi orang yang memisahkan shalat dengan zakat.”

Baca Juga  Efek Bahaya Salah Tasrif Kata Kafir Ustadz Zul

Sesungguhnya harta itu semuanya milik Allah, dan ada sebagian yang dititipkan kepada orang kaya. Maka, bagi yang dititipkan ada kewajiban untuk mengeluarkannya. Zakat bukan kemurahan orang kaya.

Zakat merupakan batasan minimum harta yang harus dikeluarkan. Bila zakat masih belum cukup untuk mensejahterakan rakyat, waliyulamri hendak menarik tambahan bagi orang-orang kaya untuk mengeluarkan hartanya berupa infaq dan shodaqoh.

Terapi terakhir terhadap penyakit kemiskinan adalah pembentukan Baitulmaal, yang merupakan gudang persediaan kaum Muslimin yang berisi harta benda yang dikumpulkan dari berbagai sumber. Harta ini diputar dan dikembangkan terus sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pada zaman khalifah Umar bin Khattab cara ini sangat efektif dalam menanggulangi kemiskinan. Ada seseorang yang membutuhkan, diberi tiga ekor unta dari Baitulmaal. Umar juga pernah mewajibkan agar setiap bayi yang lahir diberi santunan seratus dirham, setelah agak besar diberi dua ratus dirham, dan santunan ini terus bertambah setara dengan perkembangan umurnya.

Rebahan, Eks Kemiskinan yang Tak Punya Hak Atas Gtratifikasi Islam

Beberapa tips dan sekaligus langkah yang telah ditawarkan Islam, menunjukkan bahwa Islam sangat tidak menghendaki umatnya terpuruk dalam jurang nestapa beranama miskin. Oleh karenanya, Islam rela memasukkan orang miskin pada salah satu mustahiq al zakat. Bahkan lebih dari itu, orang miskin secara khusus menjadi salah satu ashnaf dari pengeluaran baitulmaal. Itu  artinya, kemiskinan sama sekali tidak diinnnginkan menimpa umat muslim, mengingat kemiskinan cenderung berdampak nigatif. Namun demikian, bagaimana jika kemiskinan itu melanda kaum rebahan?

Baca Juga  Ibnu Haitham Fisikawan Muslim yang Tak Ditulis Sejarah

Rebahan sebagaimana disinggung sebelumnya di bebeapa paragraf pertama menunjukkan sikap pemales, tidak mau usaha. Sikap malas ini mudah menimpa setiap orang yang berada di zona nyaman. Maka bagi penulis, orang yang menjadi tidak mampu disebabkan terlalu enjoy rebahan tak berhak atas Zakat di posisinya orang miskin atau bahkan tidak berhak atas baitulmaal.

Sepintas, logika penulis menyebutkan bahwa orang yang dikarunia kemampuan oleh Allah, akan tetapi ia menyia-nyiakan kemampuan itu, maka ia sama saja dengan kufur nikmah. Termasuk dalam hal ini adalah setiap orang yang mengikuti hawa nafsuhnya untuk selalu rebahan, sementara ia punya kemampuan untuk berusaha. Maka ia telah menyia-nyiakan kemampuan yang Allah berikan. Maka pada posisi ini, orang yang menjadi miskin (tak punya kecukpan) sebab rebahan maka tak berhak menerima zakat dan juga tak boleh mengambil santunan dari baitulmaal.

Zakat dan Baitulmaal pada konsepnya tak lain sebagai ‘gratifikasi’ atau bantuan cuma-cuma yang Tuhan berikan kepada orang-orang yang benar benar dalam kondisi terjepit. Kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan atas perjuangan di jalan Allah. Serta untuk meninggikan Agama Allah. Bukan untuk orang yang bermalas-malasan.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy