3 Desember 2020

Refleksi HSN: Santri Ke Mana Engkau Kini Akan Berlabuh?

Hari Santri Nasional (HSN) merupakan ajang bergengsi bagi santri di seluruh Indonesia. Sejak 2015, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, memberikan keputusan setiap tanggal 22 Oktober menjadi hari yang menyenangkan bagi santri di seluruh negeri. Banyak orang pun bersyukur atas keputusan Presiden Republik Indonesia.

Namun, bagaimana sebenarnya urgensi Joko Widodo menetapkan Hari Santri Nasional pada setiap 22 Oktober itu? Itu yang harus kita baca, sebab saya cukup khawatir ke depan, HSN hanya menjadi ajang perayaan kolektif tanpa urgensi yang tepat.

Pasalnya, santri di kemudian hari memiliki tantangan yang sedikit banyak berbeda dengan zaman penjajahan. Bahkan, bisa saja sangat berbeda jauh dengan santri di masa tragedi di Surabaya di mana Jendral Malaby berhasil dibunuh. Saya pikir, tindakan membunuh Jendral Malaby bisa saja dibenarkan karena secara nilai kemanusiaan, Jendral Malaby representasi dari kolonialis yang merugikan bangsa Indonesia. Walaupun, mungkin saja tidak dapat menutup kemungkinan ada pendapat berbeda.

Melangkah dari uforia masa lalu, santri di masa sekarang harus apa dan bagaimana? Tamparan keras justru terjadi ketika para kyai kita saling gontok-gontokan memperebutkan santri atau ketika Indonesia kemasukan aliran ideologi Islam khas radikalis (dalam arti negatif). Whay? Kenapa ini bisa terjadi, apakah santri tak mampu menganalisa karena sibuk dengan pulpen dan kitab kuning kebanggannya?

Dunia sudah berubah drastis, santri perlu menata ulang cara berpikir mereka. Jika memang berniat menyebarkan Islam, ya sebarkan yang bernuansa rahmatan lil ‘alamin dengan dasar Indonesia sudah kemasukan aliran ideologi Islam yang cenderung radikalis. Istilah aliran ideologi Islam radikalis perlu dipelajari lebih jauh oleh santri, perlu dilihat asal usulnya, kepentingannya dan kenapa ada gerakan Islam radikalis itu.

Santri juga dihadapkan dengan dunia baru yang disebut dengan dunia teknologi, lebih spesifik dunia digitalisasi. Sejarah umat manusia senantiasa dialektis dan berkesinambungan, jika santri masih menganggap bambu runcing adalah senjata paling ampuh, menurut saya itu cara berpikir yang kurang tepat atau ketika masih berpikir bahwa ilmu agama hanya satu-satunya yang boleh dipelajari tanpa sekalipun memasukkan ilmu umum, itu juga kurang tepat. Sehingga perlu menata ulang nalar berpikir santri di masa kini.

Realitas yang saya tuliskan itu bisa saja tidak terbaca oleh santri masa kini, karena masih menganggap dirinya lebih sempurna dari pada golongan lain. Walaupun itu it’s oke saja, tapi coba untuk tidak jatuh dalam romantisme kesempurnaan santri. Padahal kenyataannya, kita sama sekali bukan santri.

Ayolah tidak usah berpikir seolah kita besar dan penuh kesempurnaan. Masih banyak kekurangan, celah dan ketidaktahuan kita. Masih ada yang perlu terus dipelajari, terus bergerak dan membaca dunia.

Bukankah ada kalimat: Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina? atau Mencari Ilmu wajib hukumnya bagi muslim perempuan dan laki-laki?

Jangan berhenti pada kalimat: Siapa yang punya ilmu bakal diangkat derajatnya. Jika kita berhenti pada kalimat itu, kita bisa terjebak pada dunia kepalsuan dan halusinasi tingkat tinggi.

Saya pikir kita tahu apa makna kalimat itu. Sekali lagi, selamat hari santri. Saya bukan santri, hanya berusaha menjadi santri.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy