Riwayat Berdirinya PP. Darunnajah Cipining

Penasantri-Riwayat Berdirinya PP. Darunnajah Cipining

Penasantri-Riwayat Berdirinya PP. Darunnajah Cipining

Spread the love
Kita akan menjelaskan asal-usul pesantren Darunnajah. Darunnajah ini kalau dari sisi nama, dari kata “darun” dan “an-najah”“Dar” artinya kampung. “An-najah” artinya sukses. Pemberi nama Darunnajah ini mempunyai obsesi dan keinginan agar siapapun yang belajar di Darunnajah ini kelak menjadi orang yang sukses dunia maupun akhirat. Jadi, nama itu mengandung doa supaya kamu menjadi orang yang sukses.
Darunnajah ini diawali dengan Darunnajah yang ada di Jakarta. Pada tahun 1985 pesantren Darunnajah di Jakarta sudah kebanjiran murid-murid. Animo yang ingin masuk ke Darunnajah tinggi sekali. Kita baru mampu menampung 30% dari pendaftar yang ingin masuk ke Darunnajah. Saat itu wakif, pendiri sekaligus pimpinan Pesantren Darunnajah bapak KH. Abdul Manaf Mukhayyar memanggil guru-guru menanyakan berapa jumlah murid baru yang diterima dan berapa yang tidak diterima. Ketika mendapatkan informasi bahwa yang tidak diterima lebih banyak daripada yang diterima, beliau menyatakan, “Kalian dosa. Muballigh-muballigh di masyarakat menganjurkan agar umat Islam anak-anak mereka disekolahkan ke pesantren-pesantren, sementara mereka yang mendaftarkan ke pesantren itu kamu tolak. Kamu dosa. Cari solusi supaya mereka bisa belajar di pesantren Darunnajah ini.” Perintah ini kita kerjakan.
Kita pelajari arah timur, ke Bekasi. Ternyata Bekasi adalah kawasan industri, tidak mungkin. Kemudian kita mencoba mencari tanah ke arah barat, ke Tangerang. Sama juga. Daerah Tangerang adalah kawasan industri. Kita mencoba ke arah selatan, ke arah Jonggol. Ternyata sama juga itu adalah kawasan industri Bogor Timur. Akhirnya mengarah ke Bogor Barat ini. Kita berjalan lewat jalan ini. Jalan ini dulu beraspal mulus dan bagus.
Lalu kita mampir dan bertanya, “Apakah di sini ada tanah yang mau dijual? Kami mau mendirikan pesantren.” Ternyata banyak masyarakat yang menawarkan surat-surat tanah. Kita pun mulai membeli tanah sebidang demi sebidang dengan uang bapak KH. Abdul Manaf. Kemudian diumumkan kepada para santri bahwa tanah di sini dibandingkan dengan di Jakarta murah sekali. 1 Kg. beras kalau ditukar dengan tanah di sini dapat 2 m2. Kita tawarkan kepada santri-santri yang ada di pesantren Darunnajah Ulujami jakarta, “Anak-anak, siapa yang ingin wakaf tanah 1 meter hanya Rp. 125 saja. Siapa yang ingin wakaf, boleh satu meter, boleh dua meter, boleh tiga meter.” Untuk memudahkan itu maka dikumpulkanlah kamar per kamar. Ditugaskan kepada guru-guru dan pengurus di sana untuk mengumpulkan. Setiap habis Ashar diumumkan, “Kamar satu mendapatkan sepuluh meter. Kamar dua mendapatkan lima belas meter. Kamar tiga terkumpul dana untuk dua puluh meter.” Begitu seterusnya. Besoknya diumumkan lagi. Terus menerus begitu. Para santri sangat senang sekali. Akhirnya dana itu kita belikan tanah lagi di sini.
Kita mendapatkan SK Gubernur Jawa Barat untuk membebaskan tanah disini seluas 70 hektar. Pembebasannya dengan cara bermacam-macam. Kalau tadi para santri ikut wakaf, maka berikutnya adalah wali-wali murid yang ikut wakaf. Kalau santri wakafnya hanya satu atau dua meter, wali murid ada yang satu hektar, ada yang setengah hektar, ada yang dua hektar, sehingga kita mendapatkan dana banyak untuk membebaskan tanah yang cukup banyak.
Tidak hanya itu, kita juga memakai cara lain. Kita punya ide membuat perkaplingan muslim. Kita mencoba untuk membuat perkaplingan muslim seluas 100 hektar. Kapling ini kita coba bikin sekte masing-masing 1.000 meter yang kita jual kepada wali-wali murid. Dari hasil penjualan tadi uangnya digunakan untuk membangun pesantren ini. Sehingga kita bisa membangun kamar-kamar, asrama-asrama, dan kelas-kelas.
Sebenarnya pembebasan itu mulai sejak tahun 1986. Pada tahun 1987 kita mulai membangun pesantren Darunnajah di lokasi Cipining ini. Pada tahun 1988 tepatnya pada tanggal 18 Juli pesantren ini dinyatakan resmi dibuka dengan santri perdana sebanyak 200 orang. Dalam pembukaan itu hadir pimpinan pondok pesantren modern Gontor, juga tokoh-tokoh ulama di kabupaten Bogor.
Pendiri Pondok Pesantren Darunnajah Cipining ini adalah Bapak KH. Abdul Manaf Muhayyar. Wakif, pendiri serta pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah. Ada juga KH. Mahrus Amin. Beliau adalah pimpinan Darunnajah Jakarta saat itu. Ada lagi satu pendiri yang dimasukkan ke dalam pendiri Darunnajah Cipining, yaitu pendiri Darunnajah Jakarta, Kolonel Komaruzaman.
Sumber: darunnajah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: