27 C
Indonesia
27 Juni 2019
Agama

Saat Al-Qur’an Dipahami Secara Semantik dan Pragmatik

Oleh Khalilullah*
Al-Qur’an diakui sebagai kitab agama Islam. Segala pengetahuan terbentang luas di dalamnya. Pembacanya tidak akan kunjung puas meneguk hikmah yg dikandungnya. Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” Demikian surah al-Kahfi ayat 109.
Tidak hanya berhenti sampai di situ, Al-Qur’an menjadi satu-satunya firman Tuhan yang menyempurnakan beberapa kitab sebelumnya, yakni Taurat, Zabur, dan Injil. Oleh sebab itu, Al-Qur’an diperlakukan secara berbeda dibandingkan dengan kitab yang lain. Kelompok yang fanatis memurtadkan dan mengkafirkan siapapun yang menghujat Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab suci yg maha benar. Tak tersentuh kesalahan, walau setitik pun.
Fanatis membutakan mata melihat kebenaran, membungkam pesan Al-Qur’an yang multitafsir, dan menjerat kebebasan akal merenungkan samudera hikmah yang melimpah dalam Al-Qur’an. Selain itu, Al-Qur’an yg dipahami secara fanatis akan terkesan kaku dan tertutup, sehingga relevansi Al-Qur’an tidak terlihat. Seakan-akan Al-Qur’an adalah dokumentasi klasik yang tidak perlu dikembangkan pada setiap waktu.
Kekeliruan fanatisme sejatinya terletak pada cara memahami teks. Teks dapat dipahami secara semantik dan pragmatik. Teori semantik mengajak pembaca melihat tanda pada teks. Seakan Al-Qur’an hanya dipahami sebatas literal semata, belum menyelami makna tersirat, hanya saja melihat makna tersurat. Beda hal dengan makna pragmatik, di mana Al-Qur’an disikapi secara berbeda: diintip makna di balik teks.
Membaca Al-Qur’an secara semantik tentu akan kurang memuaskan, karena teks itu adalah simbol yang terbatas. Keterbatasan akan menciptakan ketidakpuasan.
Sementara, memahami Al-Qur’an secara pragmatik akan mampu mengungkap maksud Tuhan yang memiliki relevansi yg kuat dengan isu-isu yg berkembang. Disadari atau tidak, pesan pengarang yang amat luas tidak cukup diungkapkan dengan teks yang terbatas, sehingga pembaca dituntut melihat makna di balik teks tersebut.
Fanatisme biasanya menggiring siapapun bersikap ekstrem. Di era kekinian ekstremisme yang kentara adalah isu kafir-mengkafirkan (takfir). Pihak tertentu dengan mudah mengkafirkan orang lain, sekali pun mereka sesaudara, seagama, bahkan setanah air.
Al-Qur’an sulit memanggil orang yang tidak seiman dengan sebutan “kafir” selain surah al-Kafirun, Qul ya ayyuhal kafirun (Katakanlah wahai orang kafir!). Panggilan “kafir” pada surah tersebut bukan dipahami sebagai bolehnya mengkafirkan orang lain, namun untuk menegaskan keimanan dan menolak paksaan kaum musyrik Mekkah yang mengajak Nabi Muhammad saw melepas keyakinannya.
Pemahaman makna surah al-Kafirun itu merupakan hasil dari analisa secara pragmatik. Andai pembaca Al-Qur’an hanya melihat makna semantiknya, maka akan terhidang pemahaman yang sempit sehingga akan memberikan kesan yang ekstrem dalam menyimpulkan pengertian surah al-Kafirun.
Jadi, yang mengantarkan pembaca bersikap ekstrem adalah pemikiran yang sempit. Kesempitan berpikir ini disebabkan karena cara memahami teks Al-Qur’an secara terbatas. Sebaliknya, yang mengantarkan mufasir bersikap bijak adalah cara memahami firman Tuhan secara arif: memperlakukan teks berbicara langsung dengan audiens.[] Shallallah ala Muhammad!

*Penulis adalah alumni PP. Annuqayah yang sedang menyelesaikan program Magisternya di Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah.

Related posts

Dalil Keistimewaan Ramadlan

admin

Arkoun; Logosentrisme dan Dekontruksi Ideologis

PENA SANTRI

Maulid Nabi Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah

PENA SANTRI

Puasa Ramadhan sebagai Metodologi dan Manajemen Diri

admin

Kalah di Bulan Kemenangan

admin

Apakah Agama Memperbolehkan Ambisi?

PENA SANTRI

Leave a Comment