25.3 C
Indonesia
16 Juli 2019
Esai

Saatnya Pesantren Menjawab Radikalisme

Masa pemerintahan Gus Dur telah selesai. Isu humanisme, pluralisme dan kesetaraan yang menjadi salah satu concern proyek pemerintahannya telah menuai hasilnya walau tidak bisa dibilang mutlak. Namun setidaknya, sosoknya telah banyak menuntun bangsa ini kearah rekonsiliasi diskriminatif. Suatu arah ideologisasi yang mencoba memotong akar masalah seumpama deskriminasi, di masanya.

Sejatinya, isu kemanusiaan, pluralisme dan bahkan kesetaraan ala Gus Dur adalah muatan lokal Islam yang telah lama dikaji, diperjuangkan hingga beranak pinak di pesantren. Hanya saja, melalui Gus Dur-lah isu ini dengan serius memperoleh poisisnya yang optimal di seluruh bangsa ini, bahkan sempat menjadi grand design ideologi dunia. Itu artinya pesantren sudah sejak dini menawarkan solusi kemelut bangsa, baik yang sedang berkecamuk bahkan yang masih mungkin masih akan datang.

Bersamaan dengan keberhasilan proyek ideologisasi pluralisme dan humanismi tersebut, isu dunia global mengalami pergeseran dengan sangat cepat. Mungkin hari ini akan lebih tepat jika disebtukan bahwa isu dunia yang sedang alot dicarikan solusi adalah tentang terorisme dan radikalisme berkedog agama. Sebut saja, gerakan Khilafah yang sedang berkecamuk, menjadi caos sosial tak berkesudahan adalah bentuk konkret dari kecamuk radikalisme yang telah banyak memakan korban.

Namun demikian, sebagaimana iktikad awal, kita mesti harus menghadirkan pesantren sebagai salah satu penetrasi isu ini. Ajaran tentang al islamu ya’lu wala yu’la alaihi,  konsep tentang fahijratuhu ila ma hajara ilaihi dan man ra’a minkum munkaran mungkin dengan tepat akan menjawab isu radikalisme dan terorisme, jika dipahami dengan benar, sebagaimana yang pesanten ajarkan selama ini.

Fakta rilis Kompas, 29 April 2019 tentang terbunuhnya dua teroris anak ideologi JAD Lampung di Bekasi, pengeboman Greja Sri Lanka hingga agenda People Power yang sedang dirancang oleh Front Pembela Amin Rais adalah bukti konkret dari radikalisme yang disebabkan kesalah fahaman mereka mencerna ayat-ayat jihad, ayat-ayat hijrah dan hadis-hadis tentang kebangkitan Islam. Hingga yang muncul adalah seruan demontrasi dengan label melawan kecurangan negara.

Hemat penulis, mereka yang terpapar radikalisme sebagiamana yang telah disebutkan contohnya di atas, yang dalam prakteknya kerap kali melakukan gerakan makar melawan ideologi kebangsaan, adalah produk muslim gagal. Mereka tidak tuntas memahami ayat ayat tantang hijrah, jihad dan lain sebagainya. Itu sebabnya mereka tidak pernah benar-benar tuntas mengaji dan mempelajari Islam secara utuh. Alih-alih tidak pernah belajar di pesantren.

Berdasarkan estimasi ini semua, hari ini seluruh elemin bangsa ini, dimulai dari santri, politisi hingga elit birokrasi mulai menyadari perlunya memahami ajaran agama (khususnya Islam) secara utuh. Terlebih ayat-ayat tentang jihad, hijrah dan bahkan ayat-ayat perang. Dan hal ini hanya ditemui di pesantren.

Lalu, masihkah anak cucumu tak mau dipasrahkan ke pesantren?

Related posts

Bhinneka, Berbeda Tetapi Tidak Bertentangan

PENA SANTRI

Memahami Aswaja-nya NU

PENA SANTRI

Kiai Komedi; Seni Dakwah Masa Kini

PENA SANTRI

Kemeriahan Masyarakat Nusantara Sambut Ramadlan

khalwani ahmad

Nash Yang Benar Dan Akal Yang Sehat

admin

Kemurahan Rasulullah SAW

admin

Leave a Comment