24 September 2020

Sampah Seumur Hidup

Mungkin permasalahan yang kurasakan juga dirasakan banyak orang. Begini, dirasa-rasa, kok sulit juga menghargai tulisan yang terpampang di banyak media. Untuk membaca satu baris, apalagi sampai selesai, kok terasa lelah? Sulit juga ya menjadi pembaca yang berpengertian. Namun aku reka ulang, memulai percakapan dengan kepalaku sendiri.
“Sekarang informasi bertebaran di mana-mana. Namun sebagian besar dari informasi itu adalah sampah. Tak peduli tulisan atau lisan, atau dalam bentuk keduanya yang menjelma video. Tapi apa karena itu hingga kau takut-takut membaca tulisan orang lain?” kepalaku bertanya.
Aku menjawab, “Ya, tulisan dan informasi sampah bertebaran di mana-mana. Iya kalau tulisan itu ada di koran, majalah, di beranda whatsapp atau media lainnya, mudah saja untuk membuangnya tinggal dihapus. Clear, selesai. Tapi kalau sudah dibaca, melekat ke otak, sampah yang masuk itu akan melekat seumur hidup. Sulit untuk menghapus sampah yang sudah menjadi ingatan. Apa kau paham? Itu bukan berarti aku takut membaca tulisan orang lain, malah suka sebetulnya, ditambah penulisnya jelas, bukan atas nama tetangga sebelah atau grub sebelah.”
“Lah, lalu kenapa kalau kau tahu banyak tulisan sampah, kau tidak membacanya sebagai pembenaran agar tidak membuat orang lain menjadi sampah pula?”
Rupanya si kepalaku ini tidak mau mengalah. Kujawab saja, “Aku tidak memiliki pengetahuan lebih untuk mengurai sampah menjadi benda berharga.”
Anggap saja, aku ini tak kreatif. Titik. La, kok memonis diri sendiri begitu? Bukankah semua orang bisa menjadi apa saja sesuai keinginan dan usahanya? Ya karena aku tak ingin menyadari kekreativitasan itu. Karena sempat tersangkut pikiran, “orang yang terlanjur kreatif namun tak tahu gramatika dan logika berpikir, jadinya B aksen.” Bayangkan saja, berita di tempat kejadian adalah seorang pengemis kena pukul Satpol PP, kejadian A. Lalu ada wartawan yang melihat itu, dan menuliskannya menjadi berita singkat, berita singkat itu menjadi A aksen. Kemudian dikirim ke meja redaksi, si redaktur yang tidak tahu menahu kejadian dengan pongah mengedit tulisan itu, jadilah B. Lantas wartawan lain membaca tulisan yang diterbitkan redaktur, ditulis ulang, jadilah B aksen. Terakhir dibaca oleh orang lain, bertranformasi menjadi C. Kejadian A berakhir C. Pengemis yang kena pukul Satpol PP berubah menjadi Satpol PP tak berperasaan menyiksa pengemis yang tak berdaya.
Itulah kejadian yang membuatku malas membaca koran, kecuali hari minggu, untuk sekadar membaca kolong cerpen dan puisi. Ini bukan berarti mengajak orang lain tidak percaya koran, ya. Mau baca atau tidak itu pilihan, silakan dipilah. Bagian sampah buang ke api, yang berlian letakkan di tempat yang rapi.[]

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy